Dunia

WHO catat hampir 190 serangan Israel ke RS di Lebanon sejak Maret

WHO Catat Hampir 190 Serangan Israel ke Rumah Sakit Lebanon Sejak Maret

WHO catat hampir 190 serangan Israel – Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa sejak awal Maret hingga saat ini, telah terjadi hampir 190 serangan udara Israel terhadap rumah sakit di Lebanon. Serangan ini menyebabkan kematian 128 petugas medis dan mencederai 332 orang lainnya. Informasi ini diungkapkan oleh Abdinasir Abubakar, perwakilan WHO di Lebanon, dalam pernyataan yang diberikan di Jenewa, Selasa lalu.

Dalam pernyataannya, Abubakar menekankan bahwa jumlah korban yang tercatat mencerminkan dampak serius dari konflik yang berlangsung di wilayah tersebut. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas kesehatan tidak hanya merusak infrastruktur medis, tetapi juga mengganggu upaya Lebanon untuk memberikan layanan kesehatan kepada warga yang terkena dampak perang. “Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa pasien dan staf medis sering menjadi sasaran utama,” tambahnya.

“Hanya dalam tiga bulan ini, WHO telah memverifikasi hampir 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan. Serangan ini telah menewaskan 128 petugas kesehatan dan melukai 332 lainnya,” kata perwakilan WHO di Lebanon, Abdinasir Abubakar, di Jenewa, Selasa.

Menurut laporan terkini, 11 serangan udara terjadi dalam seminggu terakhir, yang berdampak pada empat korban tewas dan 24 cedera. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas serangan terus meningkat, meskipun pihak Israel mengklaim bahwa target mereka adalah posisi militer atau basis teroris. Selain itu, WHO masih mengecek laporan serangan terhadap Rumah Sakit Jabal Amel pada Senin (1/6), yang menurut informasi awal dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lebanon menyebabkan setidaknya 86 orang terluka.

Abubakar menyoroti bahwa tiga bulan terakhir menjadi salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Lebanon sejak konflik antara Israel dan Lebanon memanas pada Oktober 2023. Ia menjelaskan bahwa perang yang berlangsung telah mengubah struktur kehidupan di wilayah tersebut, terutama dalam hal akses ke layanan kesehatan. “Serangan terhadap rumah sakit menciptakan krisis kemanusiaan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Pada Senin (1/6), Kemenkes Lebanon merilis data terkini bahwa korban tewas akibat serangan udara Israel dari 2 Maret hingga 1 Juni mencapai 3.433 orang. Jumlah korban luka juga tercatat sebanyak 10.395 orang. Angka ini menggambarkan betapa parahnya kerusakan yang dialami oleh sistem kesehatan Lebanon. Dari data tersebut, sebagian besar korban merupakan warga sipil, sementara sebagian kecil adalah tenaga medis.

Dalam upaya mengatasi situasi kritis ini, WHO mengimbau pihak-pihak terlibat untuk memastikan bahwa rumah sakit tidak menjadi target utama serangan. Sebagai organisasi internasional, WHO berperan sebagai pengamat dan penjamin kesehatan di tengah perang. Namun, menurut Abubakar, tantangan utama adalah kesulitan mengakses daerah-daerah yang rawan serta kurangnya informasi yang jelas tentang keberadaan sasaran.

Abubakar juga menyinggung peran penting rumah sakit dalam menyelamatkan nyawa, terutama di tengah krisis yang terus berlangsung. “Rumah sakit adalah tempat pertama bagi pasien yang terluka, dan setiap serangan terhadapnya berdampak langsung pada kehidupan banyak orang,” katanya. Ia menambahkan bahwa WHO sedang bekerja sama dengan pihak Lebanon untuk meninjau laporan lebih lanjut mengenai kerusakan di fasilitas kesehatan.

Kemenkes Lebanon menyatakan bahwa serangan udara Israel tidak hanya menargetkan rumah sakit, tetapi juga rumah tangga, sekolah, dan tempat-tempat umum. Dari laporan tersebut, lebih dari 10.000 orang terluka, termasuk anak-anak dan lansia. Angka ini menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya terbatas pada wilayah perang, tetapi juga melibatkan seluruh masyarakat Lebanon.

Dalam beberapa minggu terakhir, media internasional terus mengungkapkan temuan bahwa banyak pasien yang mengalami cedera akibat serangan Israel tidak bisa mendapatkan pengobatan segera karena fasilitas kesehatan terluka. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional tentang perlindungan medis di tengah perang. WHO meminta pihak-pihak terlibat untuk berkomitmen menjamin keamanan fasilitas kesehatan, terlepas dari konflik yang terjadi.

Kemarin, Kemenkes Lebanon menyebutkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel dari 2 Maret hingga 1 Juni telah mencapai 3.433 orang, dengan 10.395 lainnya mengalami luka-luka. Angka ini menunjukkan bahwa perang berlangsung dengan intensitas tinggi, dan korban manusia terus menumpuk. WHO berharap bahwa data ini dapat digunakan sebagai dasar untuk diskusi internasional tentang perlindungan terhadap sasaran non-militer seperti rumah sakit.

Abubakar juga mengungkapkan bahwa pihaknya sedang meninjau kejadian serangan terhadap Rumah Sakit Jabal Amel pada Senin (1/6), yang sebelumnya dilaporkan menyebabkan sedikitnya 86 orang terluka. Informasi lebih lanjut mengenai jumlah korban dan kerusakan fasilitas kesehatan masih dalam pemeriksaan, tetapi kenyataannya adalah bahwa serangan terhadap rumah sakit tidak hanya mengurangi kapasitas layanan medis, tetapi juga meningkatkan beban staf yang sudah lelah berjuang di tengah perang.

Pendapat Abubakar sejalan dengan laporan internasional lainnya yang mengkritik tindakan Israel dalam menyerang fasilitas kesehatan. Banyak pelaku konflik menargetkan rumah sakit sebagai titik strategis untuk menghentikan arus pasien ke tempat-tempat yang dianggap sebagai basis teroris. Meski demikian, WHO menekankan bahwa serangan terhadap rumah sakit bersifat tidak proporsional dan berisiko merugikan masyarakat sipil secara besar-besaran.

Dalam konteks ini, WHO mengingatkan bahwa dunia internasional perlu memperhatikan tindakan yang mematikan terhadap fasilitas kesehatan. “Setiap serangan terhadap rumah sakit adalah serangan terhadap kemanusiaan itu sendiri,” kata Abubakar. Ia menambahkan bahwa pelaku konflik harus berupaya keras untuk menghindari penyakit dan cedera yang terjadi karena serangan tersebut.

Rachmat Razi

Rachmat Razi adalah seorang SEO content writer yang suka menulis dan membahas berbagai hal, serta berdedikasi dalam mengoptimalkan situs web untuk mesin pencari.