OJK dorong peningkatan literasi keuangan mengimbangi inklusi digital

OJK Dorong Peningkatan Literasi Keuangan Mengimbangi Inklusi Digital

Atapkitadonasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya edukasi masyarakat dalam memahami produk dan layanan keuangan. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa pertumbuhan pesat inklusi keuangan digital tidak hanya memberikan akses yang lebih luas, tetapi juga pemahaman mendalam mengenai manfaat serta risiko yang menyertainya. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyampaikan bahwa hingga saat ini indeks inklusi keuangan nasional telah menyentuh angka sekitar 85 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan masih berada pada kisaran 65 persen.

“Kita ingin literasi dan inklusi itu harusnya sama supaya akses pada finance atau pada digitalisasi saat ini sudah begitu marak, itu harus diikuti juga dengan literasi yang memadai. Supaya tidak terekspos pada risiko yang berlebihan,” kata Adi dalam diskusi mengenai alternative credit scoring untuk UMKM, di Jakarta, Kamis.

Menurut Adi, peningkatan pemanfaatan layanan keuangan digital harus dibarengi dengan pemahaman masyarakat mengenai berbagai risiko, mulai dari kejahatan siber, penipuan, hingga berbagai tindak pidana di sektor keuangan yang dapat mengancam keberlanjutan usaha maupun kondisi keuangan masyarakat. Tanpa literasi yang memadai, masyarakat berpotensi mengalami kerugian finansial yang signifikan akibat kurangnya pemahaman terhadap produk keuangan yang mereka gunakan.

Peran AI dan Kolaborasi Antar-Kementerian

Selain meningkatkan literasi keuangan, OJK juga mendorong penguatan produktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan kewirausahaan, kepemimpinan, digitalisasi usaha, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Adi mengatakan OJK telah menjalin sinergi dengan sejumlah kementerian, antara lain Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, untuk mengembangkan berbagai program pendampingan bagi pelaku usaha dalam peningkatan akses kepada AI, khususnya segmen ultra mikro.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital juga membuka peluang yang semakin luas bagi masyarakat untuk mengakses tabungan, pembiayaan, hingga instrumen investasi dengan nilai yang lebih terjangkau. “Ke depan, masyarakat dapat mengakses berbagai inovasi keuangan, termasuk investasi berbasis aset digital dan teknologi blockchain, sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat berpartisipasi dalam sektor keuangan formal,” katanya. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Inovasi Alternative Credit Scoring

Di sisi lain, OJK juga terus mengembangkan inovasi di sektor keuangan digital, termasuk alternative credit scoring bersinergi dengan Women’s World Banking sebagai upaya memperluas akses pembiayaan bagi UMKM yang belum memiliki riwayat kredit di lembaga keuangan. Adi menilai pendekatan tersebut penting mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada pada kelompok underbanked maupun sektor informal yang belum memanfaatkan layanan keuangan secara optimal. Melalui sistem penilaian alternatif ini, pelaku usaha dapat memperoleh akses pembiayaan tanpa bergantung sepenuhnya pada riwayat kredit konvensional.

Ia berharap penguatan literasi keuangan, perluasan akses layanan keuangan digital, serta berbagai inovasi pembiayaan dapat berjalan beriringan sehingga mampu meningkatkan produktivitas UMKM, memperluas inklusi keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya ini sejalan dengan visi OJK untuk menciptakan ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan literasi yang memadai, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif layanan keuangan digital, tetapi juga konsumen yang cerdas dan mampu mengambil keputusan finansial yang tepat.

Frequently Asked Questions

Berapa persen indeks inklusi dan literasi keuangan di Indonesia? Saat ini, indeks inklusi keuangan nasional mencapai sekitar 85 persen, sementara indeks literasi keuangan berada pada kisaran 65 persen. Perbedaan ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan literasi keuangan untuk mengimbangi inklusi digital.

Apa itu alternative credit scoring? Alternative credit scoring adalah sistem penilaian kredit alternatif yang memungkinkan UMKM tanpa riwayat kredit konvensional untuk memperoleh akses pembiayaan. OJK mengembangkan inovasi ini bersama Women’s World Banking.

Kementerian apa saja yang berkolaborasi dengan OJK dalam program ini? OJK menjalin sinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk mengembangkan program pendampingan bagi pelaku usaha, khususnya dalam pemanfaatan teknologi AI.

Lebih lanjut, Adi menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah memastikan bahwa pertumbuhan teknologi tidak meninggalkan kelompok masyarakat tertentu. Program pendampingan yang terarah dan berkelanjutan menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui pendekatan holistik yang menggabungkan edukasi, inovasi teknologi, dan kebijakan yang mendukung, OJK optimis dapat mencapai tujuan peningkatan literasi keuangan yang setara dengan inklusi digital dalam waktu dekat.