Pakar: Gim daring bukan pemicu radikalisasi, soroti kerentanan fitur
Daftar Isi
Fitur Interaktif Gim Daring Perlu Diawasi untuk Mencegah Penyalahgunaan
Atapkitadonasi.com – Pakar – Gim daring tidak otomatis mendorong pemain menjadi radikal. Namun, ruang komunikasi dan kreativitas yang tersedia di dalam sejumlah gim dapat dimanfaatkan pihak ekstremis untuk mendekati pengguna yang berada dalam kondisi rentan, terutama remaja dan anak muda.
Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional FISIPOL Universitas Kristen Indonesia, Angel Damayanti, menilai fokus penanganan tidak seharusnya diarahkan pada pelarangan gim secara menyeluruh. Perhatian utama perlu diberikan pada fitur yang memungkinkan interaksi berulang, pembentukan kelompok tertutup, penggunaan identitas anonim, hingga pembuatan konten oleh pemain.
“Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda.”
Dalam praktiknya, banyak gim menjadi ruang sosial bagi pemain untuk bekerja sama, berkompetisi, serta membangun pertemanan. Karakter tersebut juga menjelaskan mengapa keamanan digital perlu dibangun secara lebih cermat. Interaksi yang terus berlangsung dapat menciptakan kedekatan emosional, sementara anonimitas membuat pengguna lebih sulit mengenali siapa pihak yang sebenarnya mengajak mereka berbicara.
Kerentanan pada Komunikasi dan Konten Buatan Pemain
Angel, yang juga Peneliti Senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI serta Rektor UKI periode 2026-2030, menyoroti keleluasaan pemain dalam merancang skenario, simbol, dan materi permainan. Fitur semacam ini dapat memberi pengalaman kreatif bagi komunitas, tetapi juga membuka peluang penggunaan narasi yang memuliakan kekerasan atau menanamkan kebencian terhadap kelompok tertentu.
Kelompok radikal telah melihat potensi media permainan sejak dekade 1980-an. Perkembangan teknologi digital memperluas jangkauan dan cara penggunaannya. Pada 2014, ISIS mulai memanfaatkan permainan daring, termasuk Call of Duty, untuk menarik perhatian publik dan menjalankan propaganda.
Risikonya bertambah ketika opsi kustomisasi permainan makin berkembang sejak 2020. Gim yang bersifat terbuka, mudah diakses oleh berbagai kelompok usia, memuat simulasi militer atau peperangan, serta mendukung konten buatan pengguna dinilai memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap penyusupan pesan ekstremis.
Pada Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola perekrutan yang mengarahkan anak muda dari platform permainan menuju ruang percakapan tertutup, seperti WhatsApp dan Telegram. Perpindahan itu memungkinkan komunikasi menjadi lebih intensif dan kurang terlihat oleh lingkungan sekitar.
Keluarga Menjadi Lapisan Perlindungan Pertama
Pencegahan perlu dimulai dari rumah tanpa menjadikan gim sebagai kambing hitam. Orang tua dapat mengenali gim yang dimainkan anak, memahami fitur percakapannya, serta menyepakati batas penggunaan perangkat digital. Pengaktifan fitur keamanan juga penting, terutama untuk membatasi komunikasi atau interaksi yang tidak sesuai usia.
Komunikasi terbuka menjadi unsur yang tidak kalah penting. Anak perlu merasa aman membicarakan pengalaman daringnya tanpa langsung dihakimi. Dengan cara itu, keluarga lebih mungkin mengetahui apabila muncul ajakan mencurigakan, tekanan dari kelompok tertentu, atau materi yang membuat anak merasa takut dan terisolasi.
Perubahan perilaku yang mendadak patut diperhatikan. Tanda yang perlu direspons secara bijak antara lain kecenderungan mengasingkan diri, kebencian yang sangat kuat kepada kelompok tertentu, atau keterlibatan dengan komunitas yang mengagungkan kekerasan. Perhatian tersebut bukan berarti setiap perubahan minat merupakan ancaman, melainkan bagian dari pendampingan yang peka dan proporsional.
Pendekatan Kebijakan Berbasis Risiko
Di tingkat publik, keamanan gim daring membutuhkan kerja bersama pemerintah, aparat, masyarakat, keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan penyedia platform. Pemblokiran konten saja tidak cukup untuk menjawab pola ancaman yang dapat berpindah dari satu ruang digital ke ruang lainnya.
“Di samping itu, pendekatan Indonesia harus bergerak dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko. Tata kelola tersebut harus berlandaskan prinsip whole of government dan whole of society,” ungkap Angel.
Ia mendorong tindakan yang lebih terarah, seperti penilaian risiko terhadap fitur komunikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, mekanisme koordinasi antara BNPT, Kemkomdigi, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta pengembangan sistem deteksi dini yang menggabungkan teknologi dengan analisis manusia.
Literasi gim juga dapat diperkuat melalui pembelajaran bersama Kemendikdasmen. Pemahaman ini tidak hanya membahas durasi bermain, tetapi juga cara mengenali manipulasi, menjaga privasi, melaporkan interaksi yang berbahaya, dan membedakan komunitas permainan yang sehat dari ruang yang mendorong intoleransi.
BNPT bersama perguruan tinggi juga dipandang perlu menyusun basis data risiko yang terukur. Kerja sama internasional dengan penyedia gim global menjadi bagian penting karena layanan digital dan komunitas pemain sering kali melintasi batas negara.
Gim daring tetap memiliki fungsi sosial, teknologi, dan hiburan yang bernilai bagi banyak pengguna. Tantangannya adalah memastikan manfaat tersebut tidak dibajak untuk kepentingan intoleransi maupun terorisme. Perlindungan keluarga, kecakapan digital, serta regulasi yang kolaboratif dapat membantu menciptakan ekosistem permainan yang lebih aman bagi anak dan remaja di Indonesia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pakar?
Pakar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pakar matter?
Pakar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.