Humaniora

Facing Challenges: APFI 2026 jadi penyemangat jurnalis foto di tengah gelombang PHK

APFI 2026 sebagai Dorongan bagi Jurnalis Foto dalam Tantangan Industri Media

Facing Challenges – Kabupaten Bogor menjadi tempat penyelenggaraan ke-16 Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) yang digelar oleh Organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) pada Jumat. Acara ini diadakan di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bogor, Cibinong, Jawa Barat, dan dianggap sebagai bentuk penghargaan bagi para jurnalis foto yang terus berkarya meskipun menghadapi tekanan dari industri media nasional. PFI menyatakan bahwa APFI 2026 berperan sebagai pemicu semangat bagi profesi jurnalisme foto, terutama dalam kondisi tantangan yang semakin berat, seperti disrupsi digital, penyebaran hoaks yang cepat, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda sektor media.

PFI: APFI Menjadi Oase untuk Pengembangan Profesi

Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, atau akrab disapa Dido, mengungkapkan bahwa APFI bukan hanya ajang penganugerahan, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan motivasi bagi para pewarta foto. “Anugerah tertinggi Pewarta Foto Indonesia menjadi oase bagi jurnalis foto di Indonesia untuk terus berkarya, terutama di tengah disrupsi digital, arus deras hoaks, dan industri media yang cukup memprihatinkan,” ujarnya dalam acara di Auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Dido menambahkan bahwa peran fotografer dalam memperkuat kemanusiaan tetap relevan meskipun teknologi berkembang pesat.

“Anugerah tertinggi Pewarta Foto Indonesia menjadi oase bagi para jurnalis foto di Indonesia untuk berkembang dengan semangat berkarya terutama di tengah disrupsi digital, arus deras hoaks, dan industri media yang cukup memprihatinkan ditandai dengan gelombang PHK,”

Menurut Dido, jumlah karya yang masuk ke APFI 2026 mencapai 2.322 foto. Setelah melalui proses penyaringan, hanya 1.831 karya yang lolos. Karya-karya tersebut berasal dari 127 fotografer yang tergabung dalam PFI serta 27 fotografer dari kategori jurnalis warga (citizen journalist). Ia menekankan bahwa partisipasi yang tinggi mencerminkan komitmen para pewarta foto untuk tetap menghadirkan konten berkualitas di tengah persaingan teknologi digital yang semakin ketat.

Acara Lengkap dengan Pameran Foto

Selain penghargaan, APFI 2026 juga menyajikan pameran karya foto jurnalistik di Taman Siliwangi, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bogor. Acara ini menarik perhatian ribuan warga yang ingin menyaksikan langsung hasil karya pewarta foto dalam setahun terakhir. Pameran ini menjadi ajang untuk memperkenalkan kreativitas dan kepekaan visual para fotografer, serta menunjukkan bagaimana teknik kamera bisa menggambarkan kisah nyata.

Di kategori Foto Spot, karya jurnalis foto Fauzan yang berjudul “Demonstrasi atas Tewasnya Ojol yang Terlindas Rantis Brimob” meraih penghargaan Alex dan Frans Mendur Trophy APFI Photo of The Year. Sementara itu, Edwin Putranto dari Republika berhasil meraih gelar Foto Cerita Spot dengan karya “Desa Hilang Tersapu Banjir.” Dalam kategori General News tunggal, Umarul Faruq dari LKBN ANTARA dinobatkan sebagai pemenang lewat fotografi “Evakuasi Jenazah Korban Ponpes Al-Khoziny.” Karya ini menggambarkan kejadian tragis yang diabadikan dengan kejernihan visual.

Di sektor foto cerita, Rivan Awal Lingga dari LKBN ANTARA memenangkan kategori Foto Cerita dengan karya “Kidung Sederhana di Tanah Bencana.” Sementara itu, Jeprima WD dari Tribunnews.com mengantarkan karya “Tom Lembong Bebas” ke kategori People in the News tunggal. Dalam kategori cerita, Adi Maulana Ibrahim dari CNN Indonesia meraih penghargaan dengan “Mengantar Kepergian Affan Kurniawan.” Karya-karya ini menunjukkan kekuatan jurnalis foto dalam menyampaikan narasi yang bermakna, terlepas dari lingkungan digital yang memaksa perubahan.

Kategori Lain dan Penghargaan yang Beragam

Kategori Nature & Environment tunggal dihiasi oleh Totok Wijayanto dari Harian Kompas dengan karya “Kondisi Pascabanjir di Aceh Tamiang,” sementara Chaideer Mahyuddin dari AFP Biro Jakarta memenangkan Foto Cerita dengan judul “The Last Hope.” Dalam bidang seni dan hiburan, Wahdi Septiawan dari LKBN ANTARA meraih penghargaan untuk karya “Bekarang-Riang,” yang mencerminkan kreativitas dalam menyampaikan isu sosial melalui bentuk visual yang menarik. Karya cerita di kategori ini diberikan kepada Andry Denisah dari LKBN ANTARA dengan judul “Wowine Wakatobi sebagai Simbol Kekuatan dan Kemandirian Perempuan.”

Di kategori olahraga, Adryan Yoga dari Harian Kompas memenangkan penghargaan untuk karya “Kutukan Marques di Mandalika,” yang menangkap kejadian spesial dalam dunia olahraga. Sementara itu, Agatha Capri meraih Foto Cerita dengan karya “Dunia Singgah di Tanah Tertinggal.” Kategori Citizen Journalist diharapan oleh Fajar Samsumar dengan karya “Cumulonimbus Raksasa Langit Pembawa Bencana,” yang menyoroti peran warga dalam mengungkap peristiwa yang tidak terdokumentasi oleh media tradisional.

Wakil Menteri Dalam Negeri: Karya Foto Bukan Hanya Rekaman

Pada acara tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto memberikan pernyataan penting. “Foto jurnalistik tidak hanya memperlihatkan peristiwa, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan pesan kemanusiaan kepada masyarakat,” katanya. Ia menyebut bahwa karya-karya yang ditampilkan menghadirkan emosi dan makna mendalam, terutama dalam tema bencana atau kehidupan warga. Menurut Bima, kemampuan pewarta foto dalam menggabungkan nilai estetika dengan pesan sosial menjadi keunggulan utama dalam era digital.

“Bukan hanya merekam kejadian, tetapi juga menyuarakan pesan-pesan kemanusiaan,”

Bima Arya menambahkan bahwa penggunaan kamera ponsel modern, meskipun mudah, justru memperkuat peran foto jurnalistik dalam menyampaikan realitas secara jelas. Ia mengakui bahwa karya-karya yang menang dalam APFI 2026 mampu menggambarkan keteguhan para pewarta foto untuk tetap relevan dalam industri yang terus bertransformasi. Apalagi, dengan adanya PHK yang mengancam stabilitas pekerjaan, penghargaan ini menjadi semangat untuk tidak berhenti berkarya.

Kontinuitas dan Makna PFI dalam Industri Media

PFI secara konsisten mengadakan APFI sebagai bentuk dukungan kepada komunitas jurnalis foto. Dwi Pambudo menekankan bahwa meskipun teknologi digital memberikan tantangan, seperti kemudahan pengambilan gambar melalui ponsel, para fotografer profesional tetap menunjukkan kualitas dan keahlian yang tidak tergantikan. Karya-karya yang lolos seleksi bukan hanya sekadar foto, tetapi juga menyampaikan pandangan, perasaan, dan kebenaran yang ingin diungkapkan kepada publik.

Menurut Dido, gelombang PHK dalam industri media menjadi pembuktian bahwa profesi foto jurnalistik tetap dihargai. Meskipun banyak fotografer yang dipaksa beradaptasi dengan perubahan teknologi, APFI berperan sebagai pusat inspirasi. “Ini menunjukkan bahwa jurnalis foto masih mampu membangun narasi yang kuat,” imbuhnya. Dengan adanya APFI 2026, ia berharap para pewarta foto bisa terus berkembang, meskipun terbatasi oleh kondisi ekonomi dan persaingan yang semakin ketat.

Acara ini juga menjadi momentum untuk membangkitkan semangat kreativitas di tengah kemacetan industri media. Dengan bantuan pameran foto yang ditemani oleh berbagai karya, peserta dan penonton bisa menyaksikan bagaimana setiap frame mengandung cerita. Dwi

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.