Polda NTT kirim personel berikan terapi USEFT bagi penyintas gempa
Daftar Isi
Polisi NTT Bawa Pendekatan Pemulihan Mental bagi Warga Maumere Pasca-Gempa
Atapkitadonasi.com – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan bekas yang jauh melampaui retakan pada bangunan atau runtuhnya infrastruktur. Di balik puing-puing fisik, terdapat lapisan luka yang tak kasat mata: kecemasan yang tak kunjung reda, ketakutan setiap kali tanah bergetar sedikit, serta tekanan emosional yang menggerogoti keseharian warga. Menyadari dimensi inilah, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur memutuskan untuk menerjunkan personel ke lapangan dengan misi yang berbeda dari operasi tanggap darurat konvensional.
Terapi USEFT sebagai Instrumen Pemulihan
Metode yang dipilih adalah Ultimate the Source Body, Mind, Soul Emotional Freedom Technique, atau yang lebih dikenal dengan singkatan USEFT. Pendekatan ini dirancang untuk memberikan ruang pemulihan bagi individu yang mengalami gangguan keseimbangan emosional pascakejadian traumatis. Fokusnya bukan sekadar meredakan gejala, melainkan mengembalikan keselarasan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan kondisi emosional seseorang secara simultan.
Kegiatan terapi tersebut dipimpin langsung oleh Kompol Prasetyo Dwy Laksono, Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT, bersama tim Rumah Bahagia Polda NTT. Mereka hadir di tengah komunitas terdampak di Maumere untuk memberikan pendampingan psikologis dan dukungan emosional secara langsung, bukan sekadar melalui materi tertulis atau siaran informasi.
Dimensi Humanis di Balik Seragam
Pelaksana Harian Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Sajimin, menjelaskan bahwa kehadiran aparat kepolisian di lokasi bencana tidak boleh dibatasi pada fungsi pengamanan dan distribusi bantuan logistik semata. Ada dimensi lain yang sama pentingnya: menyentuh aspek mental dan emosional warga yang sedang berjuang memulihkan diri.
“Polda NTT hadir bukan hanya untuk memberikan rasa aman, tetapi juga untuk memberikan dukungan dan pendampingan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Kami memahami bahwa gempa bumi dapat meninggalkan rasa takut, cemas, dan tekanan emosional. Karena itu melalui kegiatan terapi USEFT bersama Rumah Bahagia Polda NTT, kami berupaya membantu masyarakat agar dapat kembali menemukan ketenangan dan semangat untuk bangkit.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa respons institusional terhadap bencana alam memiliki spektrum yang lebih luas dari sekadar evakuasi dan perbaikan fisik. Trauma psikologis akibat gempa—yang bisa berupa gangguan tidur, hipervigilansi, atau ketakutan berlebihan terhadap getaran tanah—memerlukan intervensi yang terstruktur dan berkelanjutan, bukan hanya empati sesaat.
Mengapa Pendekatan Psikologis Kritis Pasca-Gempa
Para ahli kesehatan masyarakat telah lama mencatat bahwa bencana alam berskala besar kerap memicu gelombang gangguan kesehatan mental di komunitas terdampak. Anak-anak yang menyaksikan bangunan runtuh, lansia yang kehilangan tempat tinggal, serta pekerja yang harus bertahan di tenda pengungsian berhari-hari—semuanya berisiko mengalami stres pasca-trajuma jika tidak mendapat penanganan tepat waktu. Tanpa intervensi, tekanan emosional yang tertahan dapat bermetamorfosis menjadi gangguan kecemasan kronis atau depresi yang menghambat proses pemulihan sosial-ekonomi daerah.
Dalam konteks Kabupaten Sikka, di mana aktivitas seismik merupakan keniscayaan geografis, kebutuhan akan layanan pemulihan mental menjadi semakin mendesak. Warga yang berulang kali menghadapi guncangan tanah tanpa dukungan psikologis yang memadai berisiko mengalami akumulasi trauma yang memperparah kerentanan mereka terhadap gempa berikutnya.
Pesan Solidaritas: Tidak Ada yang Berdiri Sendiri
Sajimin menekankan bahwa tujuan utama kehadiran tim di lapangan adalah memastikan warga Kabupaten Sikka tidak merasa terisolasi dalam menghadapi situasi pascabencana. Ia menegaskan kembali pesan kolektif yang menjadi inti dari seluruh kegiatan tersebut.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama membangun kembali semangat, ketenangan, dan optimisme warga pascabencana.”
Harapan yang disampaikan adalah agar setiap individu yang terdampak gempa memperoleh ruang untuk bernapas, memproses pengalaman traumatis, dan perlahan-lahan menemukan kembali kekuatan serta optimisme untuk melanjutkan kehidupan. Pendekatan USEFT, dalam kerangka ini, berfungsi sebagai jembatan antara fase darurat dan fase pemulihan jangka panjang—memberikan struktur emosional bagi mereka yang selama berhari-hari hidup dalam ketidakpastian.
Implikasi bagi Respons Bencana di Wilayah Rawan Gempa
Langkah Polda NTT ini juga mengirimkan sinyal bahwa koordinasi lintas sektor dalam manajemen bencana tidak boleh berhenti pada aspek fisik. Ketika institusi keamanan publik turut mengambil peran dalam pemulihan psikologis, pesan yang tersampaikan kepada masyarakat adalah bahwa negara hadir secara utuh—bukan hanya dengan truk bantuan dan pagar pengaman, tetapi juga dengan telinga yang mendengar dan tangan yang menenangkan. Bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia yang secara rutin menghadapi ancaman seismik, model pendampingan semacam ini dapat menjadi rujukan untuk mengintegrasikan komponen kesehatan mental ke dalam rencana tanggap darurat daerah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Polda NTT kirim personel berikan terapi?
Polda NTT kirim personel berikan terapi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Polda NTT kirim personel berikan terapi matter?
Polda NTT kirim personel berikan terapi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.