Isu Penting: Menelisik perkara sampah di Jakarta Barat
Menelisik Perkara Sampah di Jakarta Barat
Jakarta Barat terus menghadapi tantangan pembuangan sampah yang tinggi. Setiap tahun, kawasan ini menghasilkan sekitar 807.966 ton limbah, tetapi hanya 212.450 ton atau 26 persen yang dimanfaatkan kembali. Meski dianggap sebagai isu lama, sampah yang menumpuk di berbagai titik kembali mencuri perhatian masyarakat. Viralnya tumpukan sampah di beberapa area membuat masalah ini kembali hangat diperbincangkan.
Lokasi yang Menjadi Sorotan
Beberapa titik yang viral di media sosial mencakup area luar Pasar Kopro di Grogol Petamburan, badan Jalan Kanal Banjir Barat, dan Rusun Angke di Tambora. Di Pasar Kopro, misalnya, tumpukan sampah menggunung hingga meluber ke jalan raya. Limbah rumah tangga, kantong plastik, karung, dan kasur bekas menyumbang mayoritas dari volume tersebut. Akibatnya, lingkungan terlihat kotor dan becek, dengan bau yang menyengat.
“Aroma tak sedap mengganggu pembeli sebelum sampah akhirnya diangkut,” ujar Yahya, seorang pedagang di sekitar lokasi.
Di Rusun Tambora, situasi justru lebih parah. Tumpukan sampah di samping warung pedagang sayur menyebabkan dinding warung roboh. Masruroh (67), pemilik warung tersebut, mengatakan bahwa cairan lindi dari sampah menembus ke berbagai arah. Belatung pun aktif menggerogoti tumpukan limbah basah. Puncaknya terjadi saat sampah mencapai ketinggian atap warung, membuat tembok tak mampu menahan beban.
“Sampah menumpuk hingga setinggi atap, akibatnya dinding warung roboh,” tutur Masruroh.
Meski kondisi tersebut mengganggu, Masruroh tidak punya pilihan selain bertahan. Anak-anaknya hingga kini belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga ia terus berjualan meski berada tepat di samping tempat sampah yang berantakan. Yahya juga mengharapkan penyelesaian permanen, karena warga sudah membayar iuran kebersihan setiap bulan.
