Buku “Atas Nama Surga” ulas propaganda terorisme di ranah digital
Buku Atas Nama Surga ulas Propaganda Terorisme di Era Digital dengan Mendalam
Atapkitadonasi.com – Jakarta – Peluncuran buku terbaru telah menarik perhatian publik Indonesia. Buku Atas Nama Surga ulas fenomena propaganda terorisme yang semakin berkembang di ranah digital. Karya akademis ini resmi diluncurkan oleh Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Alexander Sabar. Buku ini hadir sebagai respons terhadap tantangan zaman di mana teknologi informasi menjadi sarana utama penyebaran ideologi ekstrem di masyarakat.
Perjalanan Panjang di Balik Penyusunan Buku
Menurut Alexander, ide untuk menyusun buku ini bermula dari pengalaman kerjanya yang intensif dalam menangani isu-isu terorisme. Perjalanan profesionalnya membawanya melalui berbagai institusi kunci dalam penanganan terorisme di Indonesia. Dari sinilah muncul keinginan untuk mendokumentasikan dan menganalisis fenomena yang semakin kompleks.
“Ini berawal dari pekerjaan kami sehari-hari dalam masa-masa penugasan kami di Satgas Anti-Teror Polri, maupun di Datasemen Khusus 88 Anti-Teror Polri, di BNPT, dan kemudian saat ini kami bertugas di Kementerian Komunikasi dan Digital,” ujarnya.
Pengalaman Alexander di berbagai lembaga tersebut memberikan perspektif unik mengenai bagaimana kelompok teroris memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperkuat narasi mereka. Setiap tahap kariernya berkontribusi dalam membentuk pemahaman mendalam tentang mekanisme propaganda digital yang digunakan oleh organisasi teroris.
Teori Simulakra dan Konsep Hyperreality dalam Analisis Buku
Buku setebal 164 halaman ini merupakan hasil disertasi Alexander selama menempuh pendidikan S3 di Universitas Indonesia. Karya akademis tersebut mengadopsi pemikiran sosiolog Perancis, Jean Baudrillard, khususnya melalui teori simulakra. Teori ini menjelaskan fenomena di mana citra buatan mulai menggantikan kenyataan asli dalam kehidupan masyarakat modern.
Menurut analisis dalam buku, terorisme berupaya membangun realitas semu atau hyperreality yang justru lebih dipercaya oleh masyarakat dibandingkan kenyataan. Ketika batas antara informasi faktual dan propaganda semakin kabur, pengguna internet menjadi sasaran potensial dalam penyebaran ideologi ekstrem. Algoritma media digital berperan penting dalam memperkuat narasi-narasi tersebut melalui mekanisme yang kompleks.
“Dalam buku ini kami mencoba menjelaskan fenomena propaganda terorisme yang menggunakan sarana-sarana teknologi informasi,” kata Alexander dalam acara peluncuran buku di Jakarta, Rabu.
Harapan dan Apresiasi dari Para Pemangku Kepentingan
Alexander menyampaikan harapannya agar buku ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia. Ia berharap karya ini dapat menambah wawasan publik mengenai fenomena propaganda terorisme yang semakin marak di ruang digital. Pandangan ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat untuk memahami dinamika baru dalam penyebaran ideologi ekstrem.
“Kami sangat berharap bahwa buku ini kemudian nantinya bisa memberikan manfaat, menambah wawasan bagi semua masyarakat Indonesia terkait dengan fenomena propaganda terorisme yang marak terjadi di ruang digital kita saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, memberikan apresiasi tinggi atas peluncuran buku tersebut. Menurut Meutya, karya ini menggambarkan bagaimana kekuatan narasi di era digital dapat berkembang secara signifikan. Dari kebohongan-kebohongan kecil, narasi-narasi tersebut dapat berujung pada perusakan nilai-nilai kemanusiaan yang telah lama dijaga masyarakat.
“Semuanya berawal dari sesuatu yang, yang manis, suatu ilusi. Dan itulah yang menjadi tantangan ketika kekuatan narasi, ini sebagaimana judulnya ‘Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi Hingga Manipulasi Kesadaran’. Jadi kekuatan narasi yang di era digital saat ini bergabung dengan kekuatan algoritma,” kata Meutya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Buku Atas Nama Surga
Apa isi utama buku Atas Nama Surga? Buku ini membahas propaganda terorisme di ranah digital dengan menggunakan teori simulakra dan konsep hyperreality untuk menjelaskan bagaimana narasi ekstrem menyebar melalui algoritma media sosial.
Siapa penulis buku tersebut? Buku ini ditulis oleh Alexander Sabar, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, yang juga merupakan hasil disertasi S3-nya di Universitas Indonesia.
Berapa halaman buku ini? Buku “Atas Nama Surga” memiliki ketebalan 164 halaman yang berisi analisis mendalam tentang fenomena propaganda digital.
Kapan dan di mana buku ini diluncurkan? Buku ini resmi diluncurkan di Jakarta pada hari Rabu oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.
Mengapa buku ini penting untuk dibaca? Buku ini memberikan pemahaman komprehensif tentang bagaimana terorisme memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan ideologi ekstrem, sehingga membantu masyarakat mengenali dan melawan propaganda tersebut.
Kombinasi antara kekuatan narasi dan algoritma digital menciptakan tantangan baru dalam menghadapi propaganda terorisme. Buku “Atas Nama Surga” hadir sebagai kontribusi penting untuk memahami dan mengatasi fenomena ini di masa depan.