Lifestyle

New Policy: Indonesia jadi anggota komite pelindungan warisan budaya UNESCO

Indonesia Kembali Bergabung dalam Komite Pelindungan Warisan Budaya UNESCO

New Policy – Jakarta, [Tanggal] – Pemilihan Indonesia sebagai anggota Komite Pelindungan Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO (Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO) periode 2026–2030 telah ditetapkan. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengonfirmasi bahwa negara ini memperoleh 113 suara dari seluruh anggota UNESCO, dengan rekan anggota lainnya termasuk Jepang (117 suara), Filipina (106 suara), dan Kamboja (97 suara). Kesepakatan ini diambil dalam kelompok IV, yang mewakili wilayah Asia-Pasifik.

Rekam Jejak Indonesia dalam Pemilihan Global

Kehormatan ini menjadi bagian dari upaya terus-menerus Indonesia dalam menghadirkan kekayaan warisan budayanya secara internasional. Setelah absen selama dua belas tahun sejak menjadi anggota komite pada periode 2010–2014, negara ini kembali memperoleh kepercayaan dari komunitas dunia. Fadli Zon menegaskan, keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai budaya yang diakui global, tetapi juga kemampuan Indonesia untuk berkontribusi pada pengelolaan kebudayaan global yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada masyarakat.

“Terpilihnya Indonesia sebagai anggota Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026–2030 merupakan kehormatan sekaligus amanah besar. 12 tahun setelah terakhir kali menjadi anggota komite pada tahun 2010-2014, Indonesia kini kembali dipercaya oleh komunitas internasional untuk berkontribusi dalam upaya perlindungan warisan budaya takbenda dunia,” ujar Menbud.

Komitmen untuk Membangun Masa Depan Warisan Budaya

Sebagai bagian dari komite, Indonesia berkomitmen untuk mendorong delapan agenda utama yang akan dijalankan selama lima tahun mendatang. Agenda pertama melibatkan pembentukan pusat keahlian UNESCO di kawasan Asia-Pasifik, berupa Mega-Laboratory yang fokus pada budaya, sejarah awal manusia, dan peradaban. Tujuannya adalah mengembangkan metode pelindungan warisan budaya takbenda, memperkuat riset, serta mendorong inovasi kebijakan yang adaptif.

Agenda kedua mengusung integrasi platform kolaboratif yang menghubungkan akademisi, komunitas lokal, praktisi budaya, dan pengambil kebijakan. Platform ini dirancang untuk memastikan partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan kebudayaan yang lebih inklusif. Menbud menjelaskan, pendekatan ini mencerminkan kebutuhan untuk menggabungkan pengalaman lokal dengan perspektif global.

Agenda Prioritas dalam Perlindungan Warisan Budaya

Agenda ketiga berfokus pada inovasi digital, seperti pengembangan inventaris digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk dokumentasi budaya, dan manajemen data yang etis. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam mencatat dan melestarikan tradisi yang rentan terhadap penghilangan. Selain itu, penggunaan digital juga bertujuan untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkuat pengakuan budaya di era modern.

Agenda keempat adalah penguatan kerja sama global melalui pelatihan, program fellowship, misi bersama, dan pertukaran pengetahuan antarkawasan. Indonesia berharap langkah ini dapat memperkaya kerja sama dengan negara-negara lain, terutama dalam bidang peningkatan kapasitas dan pembagian pengalaman. Menbud menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan yang kompleks dalam perlindungan kebudayaan.

Langkah Strategis untuk Menyelamatkan Warisan Budaya Terancam

Agenda kelima mengusung perlindungan warisan budaya yang terancam, termasuk penguatan mekanisme Urgent Safeguarding List untuk tradisi yang menghadapi risiko kepunahan. Mekanisme ini akan memastikan bahwa warisan budaya yang rawan mendapat perhatian cepat dari seluruh anggota komite. Menbud menjelaskan, keberagaman tradisi Indonesia menjadi sumber daya yang penting untuk dijaga.

Agenda keenam menyoroti peningkatan akses bantuan internasional yang lebih efektif, responsif, dan mudah dijangkau. Hal ini berarti Indonesia akan terus mengoptimalkan sistem pengajuan bantuan dari negara-negara pihak UNESCO, sehingga kebutuhan dalam pemulihan budaya dapat terpenuhi secara cepat. Fadli Zon menyebutkan, komitmen ini menjadi bukti Indonesia berusaha memperkuat kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan kebudayaan.

Peran Masyarakat dalam Perlindungan Budaya

Agenda ketujuh adalah pemberdayaan masyarakat sipil dan komunitas budaya, melalui perluasan partisipasi organisasi non-pemerintah dalam proses pengambilan keputusan. Menbud menegaskan, keberhasilan komite tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada peran aktif masyarakat dalam menyuarakan nilai-nilai budaya mereka. Ini juga mencerminkan upaya untuk menjadikan kebudayaan sebagai elemen yang turut terlibat dalam kebijakan nasional.

Terakhir, agenda kedelapan mengusung persiapan warisan budaya untuk masa depan, dengan mendorong kebijakan yang mencakup etika digital, kecerdasan artifisial, serta ketahanan budaya terhadap perubahan iklim. Indonesia akan berperan dalam mengintegrasikan teknologi dan kebijakan lingkungan untuk memastikan warisan budaya tetap relevan dan hidup di tengah tantangan global.

Nilai Budaya Indonesia dalam Peta Global

Kehadiran Indonesia di komite ini menunjukkan bahwa negara ini tidak hanya memiliki warisan budaya yang kaya dan beragam, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi global. Dari seluruh dunia, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang dipilih untuk memimpin pembangunan di kawasan Asia-Pasifik. Keberhasilan ini memperkuat posisi Indonesia dalam peran sebagai pelaku dan pengambil kebijakan kebudayaan.

Menbud menambahkan, pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Pemilihan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan yang selaras dengan isu-isu global, seperti lingkungan dan teknologi. Dengan delapan agenda tersebut, Indonesia berharap dapat berkontribusi pada pembentukan sistem yang lebih inklusif dan mendukung warisan budaya dunia secara keseluruhan.

Kehadiran Indonesia di komite ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara anggota UNESCO lainnya. Dengan pengalaman dan kekuatan lokal yang dimilikinya, negara ini berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan penting, seperti seminar, pelatihan, serta pertukaran budaya. Menbud yakin, langkah ini akan memberikan dampak besar bagi pengelolaan kebudayaan internasional.

Masa Depan Kebudayaan yang Berkelanjutan

Dalam pernyataan resmi, Menbud menyebutkan bahwa masa depan kebudayaan global perlu dihadapi dengan pendekatan yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia, dengan pengalaman sebelumnya, akan terus berupaya membangun sistem yang memadukan tradisi dengan inovasi. Selain itu, negara ini juga akan menjadi contoh dalam pengelolaan warisan budaya yang berorientasi pada keberlanjutan.

Agenda yang ditetapkan menggambarkan keberagaman peran Indonesia dalam menjaga kebudayaan sebagai bagian dari identitas nasional dan global. Dari teknologi hingga ekosistem partisipasi masyarakat, Indonesia akan memastikan setiap langkah diambil dengan penuh tanggung jawab. Keberhasil

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.