Rencana Khusus: AS dan israel Gunakan Senjata Canggih Ini saat Membunuh Ayatollah Ali Kharmeni
AS dan Israel Menggunakan Senjata Canggih dalam Serangan Membunuh Ayatollah Ali Kharmeni
TEHERAN – Laporan dan rekaman yang belum dikonfirmasi menyebutkan bahwa rudal Tomahawk milik Amerika Serikat terbang di atas wilayah udara Irak menuju Iran, dalam rangka operasi militer besar yang dilakukan AS dan Israel pada Sabtu 28 Februari 2026. Serangan ini tidak hanya sekadar operasi rutin, tetapi melibatkan kekuatan militer tercanggih, termasuk pesawat siluman B-2 Spirit, bom penghancur bunker GBU-57, hingga rudal jelajah Tomahawk, yang menandai operasi kompleks dan berisiko tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Rudal Tomahawk, yang telah beroperasi selama 42 tahun, menjadi salah satu senjata utama dalam hampir semua intervensi militer AS sejak awal. Senjata ini ditembakkan dari kapal selam atau kapal permukaan, mampu mencapai jarak hingga 1.600 kilometer (1.000 mil), dengan kecepatan 880 km/jam (550 mph) dan mengudara sekitar beberapa puluh meter di atas permukaan tanah.
Menurut dokumen anggaran Angkatan Laut AS, total 8.959 rudal telah diproduksi sejak program dimulai, dan lebih dari 2.350 di antaranya sudah ditembakkan. Versi Tomahawk yang dilengkapi bahan peledak nuklir sudah tidak digunakan lagi sejak 2013. Rudal ini pertama kali diperkenalkan dalam konflik Operasi Badai Gurun pada 1991, saat AS melawan Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein, dan terus digunakan dalam berbagai aksi militer setelahnya.
Baru-baru ini, sekitar 80 rudal Tomahawk ditembakkan pada Januari 2024 untuk menargetkan kelompok Houthi yang didukung Teheran di Yaman. Selain itu, 30 rudal lainnya ditembakkan ke situs nuklir Isfahan di Iran pada bulan Juni, ketika AS bersatu dengan Israel dalam perang melawan Iran. Rudal ini juga dimiliki oleh Angkatan Laut Inggris, sementara Jepang memutuskan tahun lalu untuk membeli 400 unit. Australia dan Belanda juga sedang mengevaluasi kemungkinan pengadaan senjata canggih tersebut.
Tomahawk memiliki muatan bahan peledak seberat 450 kilogram, sehingga cocok digunakan untuk menyerang fasilitas pertahanan udara, pusat komando, bandara, atau target sensitif yang dilindungi ketat. Dengan kemampuan akurasi tinggi dan jangkauan luas, rudal ini menjadi pilihan strategis dalam operasi militer modern.
