BPBD Imbau Nelayan Babel Tak Melaut Selama El Nino Hingga Juni
BPBD imbau nelayan Babel tak melaut – Pangkalpinang, Rabu (15 Mei 2026) – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Budi Utama, mengimbau masyarakat nelayan di daerah tersebut untuk sementara waktu menghindari aktivitas melaut. Pemberitahuan ini dikeluarkan dalam rangka mewaspadai dampak fenomena El Nino yang diprediksi akan memengaruhi kondisi cuaca di perairan Babel hingga awal Juni 2026.
Fenomena El Nino, yang merupakan bagian dari siklus iklim global, dikenal sebagai salah satu penyebab cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi. Dalam konteks Babel, BPBD mengingatkan bahwa kondisi ini dapat mengganggu kestabilan pelayaran dan meningkatkan risiko kecelakaan di laut. “Selama fenomena El Nino berlangsung, para nelayan diharapkan tidak melakukan aktivitas melaut untuk mengurangi potensi bahaya,” ujar Budi Utama dalam wawancara di Pangkalpinang, Minggu.
“Kita perlu memperketat pengawasan terhadap perahu nelayan, terutama saat cuaca berubah mendadak. Kondisi seperti hujan lebat yang disertai angin kencang bisa memicu gelombang tinggi yang mematikan,” imbuhnya.
Budi Utama menjelaskan bahwa perubahan iklim ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Nino di perairan Kepulauan Bangka Belitung diprediksi berlangsung hingga pertengahan bulan Juni 2026. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi intensitas hujan, tetapi juga mengubah pola angin dan arus laut, yang bisa menyebabkan cuaca buruk terjadi secara tiba-tiba. “Hal ini membuat para nelayan harus lebih waspada, karena perubahan cuaca bisa terjadi dalam waktu singkat dan sulit diprediksi,” tambahnya.
BPBD juga memberi peringatan khusus kepada masyarakat pesisir untuk tidak mengabaikan tanda-tanda cuaca yang tidak menentu. Fenomena El Nino, yang pertama kali terdeteksi di Pasifik Selatan, memiliki dampak yang tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruhnya telah menyebar ke berbagai daerah, termasuk Babel, yang berbatasan langsung dengan lautan Indonesia. “Kita mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terkini sebelum memutuskan untuk melaut,” jelas Budi Utama.
“Tidak sedikit kecelakaan laut yang terjadi akibat pengabaian peringatan cuaca. Contohnya, beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan kapal nelayan di Bangka yang tenggelam karena diterjang angin kencang, menyebabkan korban jiwa,” ujarnya.
Menurut data yang dihimpun BPBD, wilayah Babel rentan terhadap gelombang tinggi yang dapat mencapai ketinggian hingga 4 meter dalam beberapa kondisi. Selain itu, kecepatan angin yang meningkat secara drastis juga bisa menghancurkan perahu kecil, terutama perahu tradisional yang umumnya digunakan oleh nelayan lokal. “Kami mendorong nelayan untuk menggunakan perahu dengan sistem keselamatan yang memadai dan selalu berkoordinasi dengan tim pemantau cuaca,” tutur Budi Utama.
BPBD juga memperhatikan kebutuhan masyarakat nelayan untuk mengatur jadwal melaut agar lebih fleksibel. Dalam beberapa minggu terakhir, pihaknya telah melakukan sosialisasi di 12 desa pesisir di Babel, menyebarkan informasi tentang potensi bencana akibat El Nino. “Sosialisasi ini dilakukan melalui pertemuan rutin dan penggunaan media sosial agar informasi mencapai seluruh lapisan masyarakat,” tambahnya.
Kasus Kecelakaan Sebelumnya
Dalam rangka mengingatkan kembali masyarakat, Budi Utama menyinggung kejadian kecelakaan kapal nelayan beberapa bulan lalu. Insiden tersebut terjadi di perairan selatan Bangka, ketika sebuah perahu tradisional mengalami karam karena diterjang gelombang besar yang tiba-tiba. “Lima hari setelah perahu itu tenggelam, kita masih menunggu hasil pencarian korban,” kata Budi Utama.
“Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi para nelayan. Dengan mengetahui potensi bahaya El Nino, mereka bisa lebih berhati-hati dalam beraktivitas di laut,” ujarnya.
Dalam kondisi cuaca ekstrem, BPBD meminta para nelayan untuk tidak memaksa perahu mereka berlayar di saat gelombang tinggi atau angin kencang. “Selain itu, kita juga mendorong penggunaan perahu yang memiliki daya tahan lebih baik, seperti perahu dengan baling-baling yang kuat,” imbuh Budi Utama.
Kepala BPBD menjelaskan bahwa selama El Nino berlangsung, pelayaran di Babel akan terus dipantau oleh tim cuaca dan pemadam kebakaran. “Tim kami siap memberikan respons cepat jika terjadi kecelakaan atau bencana alam lainnya,” katanya. BPBD juga bekerja sama dengan instansi terkait seperti Polairut dan Basarnas untuk memastikan kesiapan evakuasi dan penanggulangan darurat.
Kewaspadaan bagi Pengunjung Wisata
Selama liburan akhir pekan ini, BPBD juga mengimbau pengunjung objek wisata pantai untuk memperhatikan kondisi cuaca. “Kita bersama pengelola wisata pantai terus menyosialisasikan kepada pengunjung agar berhati-hati saat berenang atau bermain di tepi laut,” ujar Budi Utama.
“Kondisi cuaca yang tiba-tiba memburuk bisa mengancam keselamatan pengunjung, terutama anak-anak yang sering bermain di air. Mereka harus dijaga dan diberi penjelasan tentang risiko yang mungkin terjadi,” katanya.
BPBD menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, perubahan cuaca yang cepat bisa menyebabkan hujan lebat dan angin kencang dalam waktu singkat. “Kondisi ini bisa terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga kehati-hatian wajib dijaga oleh semua pihak,” tambahnya. Selain itu, BPBD juga mengingatkan pengunjung untuk tidak berenang di area yang terkena gelombang tinggi atau arus laut kuat.
Mengingat dampak El Nino yang berlangsung selama hampir setahun, BPBD berharap masyarakat bisa lebih proaktif dalam mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi. “Kami yakin dengan upaya bersama, kecelakaan di laut dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” tutur Budi Utama. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini berlaku hingga kondisi cuaca kembali stabil pada bulan Juli 2026.