Humaniora

New Policy: ESDM Papua: 47 kampung di Mamberamo Raya belum teraliri listrik

ESDM Papua: 47 Kampung di Mamberamo Raya Belum Teraliri Listrik

New Policy – Kabupaten Mamberamo Raya, yang terletak di provinsi Papua, kembali menjadi fokus perhatian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah dilaporkan adanya 47 kampung yang belum memiliki akses ke listrik. Laporan ini diberikan oleh Karsudi, Pelaksana Tugas Kepala Dinas ESDM Papua, saat melakukan kunjungan kerja ke daerah tersebut. Dalam pembicaraan, Karsudi menyebutkan bahwa dari total 60 kampung yang ada, hanya 13 kampung yang sudah teraliri listrik, sementara 47 lainnya masih dalam keadaan gelap.

“Dari 13 kampung yang teraliri listrik, hanya dua titik yang dioperasikan oleh PLN, sedangkan 11 kampung lainnya mendapat pasokan listrik melalui program yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Papua,” jelas Karsudi dalam wawancara di Jayapura, Selasa.

Karsudi menekankan bahwa kehadiran program Papua Terang 2030 menjadi strategi utama untuk menyelesaikan masalah listrik di wilayah terpencil. Ia menyatakan bahwa kegiatan pengembangan ini harus dilakukan dengan kecepatan tinggi agar target pemerataan listrik dapat tercapai sebelum tahun 2030. Dalam konteks ini, Mamberamo Raya menjadi salah satu daerah yang mendapat prioritas.

Program Papua Terang 2030, menurut Karsudi, bertujuan menyediakan listrik bagi seluruh kampung di Papua. Ia menjelaskan bahwa saat ini, sebanyak 789 dari 999 kampung di provinsi ini sudah memiliki akses ke energi listrik, sedangkan 212 kampung masih mengalami kesulitan. Angka ini menjadi tantangan yang harus diatasi oleh pemerintah setempat, terutama dalam menghadapi kondisi geografis yang membatasi distribusi infrastruktur.

“Selama ini kami lebih banyak mendorong penggunaan panel surya untuk melistriki kampung-kampung terpencil. Namun, ke depan Pemprov Papua juga akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan memanfaatkan aliran sungai Mamberamo,” ujarnya.

Pembangunan mikrohidro diharapkan menjadi alternatif yang lebih efektif dalam menyuplai energi ke daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik umum. Karsudi menyebutkan bahwa sumber daya alam seperti sungai-sungai besar di Mamberamo Raya bisa dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk daerah yang memiliki potensi hidrolik tinggi. Langkah ini, menurutnya, sejalan dengan upaya meminimalkan ketergantungan pada teknologi berbasis solar, meski panel surya tetap menjadi pilihan utama untuk sementara waktu.

Sebelumnya, Karsudi bersama Gubernur Papua Mathius D Fakhiri melakukan kunjungan kerja ke Mamberamo Raya pada Minggu (17/5). Tujuan utama dari kunjungan tersebut adalah meninjau progres pengembangan listrik serta menyusun rencana perluasan cakupan. Dalam upacara pembukaan, para pemimpin daerah menegaskan komitmen mereka untuk mendorong akselerasi program ini, terutama melalui penggunaan sumber daya lokal yang tersedia.

“Secara keseluruhan, terdapat 999 kampung di Papua yang tersebar di delapan kabupaten dan satu kota. Dari jumlah itu, sebanyak 789 kampung sudah berlistrik, sementara 212 kampung lainnya masih belum teraliri listrik,” katanya.

Dalam menyelesaikan masalah ini, Karsudi menyoroti kebutuhan biaya sekitar Rp1,7 triliun untuk mencapai tujuan program Papua Terang 2030. Ia menyatakan bahwa dana tersebut akan dipenuhi melalui dukungan Pemerintah Pusat, yang diperlukan untuk mengakselerasi proyek-proyek infrastruktur energi di berbagai daerah. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, pihak swasta, dan lembaga-lembaga pendukung untuk mempercepat proses.

Karsudi menambahkan bahwa program Papua Terang 2030 akan mengutamakan kampung-kampung yang terpencil, termasuk wilayah Mamberamo Raya. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada beberapa faktor, seperti ketersediaan dana, keberlanjutan proyek, dan kesiapan masyarakat untuk menerima teknologi baru. “Kami juga akan memperhatikan dampak lingkungan dan sosial dalam pengembangan listrik, agar tidak mengganggu kehidupan warga setempat,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah provinsi Papua sedang mengevaluasi berbagai metode penyaluran listrik yang paling efektif. Selain panel surya, teknologi mikrohidro dianggap sebagai pilihan yang lebih berkelanjutan, terutama untuk kampung yang dekat dengan sumber air. Karsudi menyebutkan bahwa sebagian dari 212 kampung yang belum teraliri listrik diperkirakan akan menggunakan mikrohidro, tergantung pada kondisi alam dan kesesuaian lokasi.

“Program ini bukan hanya tentang menyediakan listrik, tapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penerangan, komunikasi, dan pengembangan ekonomi,” ujarnya.

Menurut

Budi Santoso

Budi Santoso merupakan kontributor yang menaruh perhatian pada transparansi, keamanan, dan praktik baik dalam dunia donasi dan amal. Di atapkitadonasi.com, ia menulis artikel informatif seputar panduan berdonasi, etika berbagi, serta edukasi publik agar masyarakat lebih cermat dalam menyalurkan bantuan. Budi meyakini bahwa kepercayaan adalah fondasi utama dalam setiap aktivitas kebaikan.