Sudin LH Jaksel Bagikan 2.300 Biopori untuk Dukung Pemilahan Sampah Warga
Key Discussion – Jakarta, Kamis – Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Selatan telah menyalurkan 2.300 biopori besar kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran tentang pemilahan sampah. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Dedy Setiono, Kepala Sudin LH Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa jumlah biopori yang dibagikan mencapai 2.300 dari total 2.400 yang siap didistribusikan. “Dari total tersebut, Sudin LH telah menyalurkan 2.300 unit tong biopori, sementara satu unit masih menunggu,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
“Kami menargetkan semua 2.400 biopori akan selesai diberikan pada awal Juni nanti,” tambah Dedy. Ia menegaskan bahwa pembuatan lubang biopori jumbo menjadi salah satu strategi untuk mengurangi timbulan sampah organik dari sumber rumah tangga. Hal ini bertujuan memperkuat pengelolaan sampah secara lokal sebelum akhirnya TPST Bantargebang ditutup pada 1 Agustus 2026.
Dengan adanya biopori, warga diharapkan dapat memilah sampah organik dan anorganik secara lebih efektif. Lubang biopori ini berfungsi sebagai tempat kompos yang bisa dibuat di rumah atau area kantor. Proses pembuatan kompos dilakukan dengan bantuan mikroba alami, yang secara langsung mengurangi jumlah sampah yang perlu dibuang ke TPST. Dedy menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan implementasi Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Kebijakan ini fokus pada gerakan pemilahan sampah sejak sumber, baik oleh individu maupun instansi pemerintah,” tambahnya.
Pelatihan dan Sosialisasi untuk Mempercepat Implementasi
Selain distribusi biopori, Sudin LH Jakarta Selatan juga berkomitmen melakukan sosialisasi intensif mengenai cara pemilahan sampah. Kegiatan ini diadakan di berbagai tingkat, mulai dari warga biasa hingga pejabat kecamatan dan lurah. “Kami menyelenggarakan pelatihan dan sosialisasi secara masif agar masyarakat memahami manfaat biopori dan proses komposisinya,” jelas Dedy. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
Dedy Setiono juga menyoroti pentingnya koordinasi dengan elemen lain, seperti pengelola TPST Bantargebang dan kelompok pengelola lingkungan. “Kolaborasi ini menjadi kunci agar transisi dari pengelolaan sampah konvensional ke model modern berjalan lancar,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa TPST Bantargebang akan menjadi pusat pengolahan sampah terakhir setelah 1 Agustus 2026, sehingga perlu adanya persiapan lebih awal. “Tujuan utamanya adalah mengurangi beban lingkungan serta meningkatkan keberlanjutan pengelolaan sampah di Jakarta Selatan,” tegas Dedy.
Perkembangan Pembuatan Biopori dan Teba Modern
Hingga pertengahan Mei 2026, sudah terdapat 345 lubang biopori jumbo dan 40 unit Teba (Tangki Efisiensi Biopori) modern yang dibangun di berbagai area. Jumlah ini mencakup 87 titik di Kecamatan Cilandak, 42 di Jagakarsa, 38 di Kebayoran Baru, 23 di Kebayoran Lama, 42 di Mampang Prapatan, 46 di Pancoran, 31 di Pasar Minggu, 24 di Pesanggrahan, 21 di Setiabudi, dan 31 di Tebet. Dedy menjelaskan bahwa penyebaran biopori dan Teba dilakukan secara bertahap berdasarkan prioritas dan kebutuhan masyarakat setiap wilayah.
Proses pemasangan biopori diakui membutuhkan waktu dan perencanaan yang matang. Setiap titik harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kapasitas pengelolaan sampah warga. “Kami mengevaluasi kebutuhan setiap RT dan RW sebelum menyalurkan biopori,” kata Dedy. Selain itu, pihaknya juga memberikan bimbingan teknis kepada warga yang ingin membuat kompos secara mandiri. “Program ini bukan hanya tentang alat, tetapi juga peningkatan kesadaran tentang pentingnya daur ulang,” tambahnya.
Manfaat dan Tantangan dalam Implementasi
Biopori jumbo dan Teba modern diharapkan menjadi solusi dalam mengurangi ketergantungan pada TPST Bantargebang. Dedy Setiono menjelaskan bahwa biopori dirancang untuk memanfaatkan sampah organik sebagai bahan baku kompos, yang bisa digunakan untuk tanaman atau keperluan rumah tangga. “Dengan mengurangi sampah organik yang dibawa ke TPST, kita juga mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas lingkungan,” katanya.
Tantangan yang dihadapi terutama terkait kesadaran masyarakat. Meski alat sudah tersedia, beberapa warga masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut tentang cara penggunaannya. “Pemahaman tentang manfaat biopori menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program ini,” ujarnya. Dedy menambahkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah akan terlihat jika masyarakat secara aktif mengikuti arahan dan memanfaatkan biopori dengan benar.
Sebagai bagian dari program pengurangan sampah, Sudin LH Jakarta Selatan juga bekerja sama dengan organisasi lingkungan dan komunitas lokal untuk memperluas cakupan sosialisasi. “Kami berupaya membuat program ini lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat,” jelas Dedy. Ia menekankan bahwa TPST Bantargebang akan tetap beroperasi hingga 1 Agustus 2026, tetapi keberadaannya semakin diperkecil seiring peningkatan pengolahan sampah dari sumber.
Kebijakan ini juga diharapkan menjadi contoh terbaik bagi daerah lain di DKI Jakarta. “Jakarta Selatan menjadi salah satu wilayah yang lebih awal menerapkan program ini, sehingga bisa memberikan referensi untuk kota lain,” kata Dedy. Ia menambahkan bahwa evaluasi terus dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan memastikan program ini berjalan optimal. “Kami akan terus mengoptimalkan metode pengelolaan sampah berbasis komunitas,” pungkasnya.
Langkah Selanjutnya dan Harapan
Kebiasaan memilah sampah dari sumber akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta Selatan. Dedy Setiono