Indonesia-AS Perkuat Kemitraan Investasi dan Manufaktur
Meeting Results – Jakarta — Upaya pengukuhan kerja sama industri antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terus berlanjut melalui berbagai langkah strategis. Fokus utama dalam pertemuan antara Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, bersama tim KBRI Washington DC dengan US Chamber of Commerce dan AmCham Indonesia pada Kamis lalu, mencakup peningkatan aliran investasi, perkuatan rantai pasok global, serta pengembangan ekosistem manufaktur dan teknologi. Pertemuan tersebut, seperti dijelaskan dalam keterangan resmi KBRI, berlangsung pada Sabtu (27/6) dan menjadi bagian dari rangkaian acara “Door Knock Meeting American Chamber of Commerce Asia Pacific”.
Peran Indonesia dalam Ekonomi Digital
Dalam diskusi, pemerintah Indonesia menyoroti potensi yang besar di sektor ekonomi digital. Data menunjukkan pertumbuhan signifikan dari 82 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 99 miliar dolar AS pada 2025. Ini menandai pengembangan yang pesat dalam perekonomian digital, yang dilihat sebagai peluang untuk menarik minat investor asing, termasuk dari AS. Duta Besar Indroyono menggarisbawahi kehadiran talenta lokal yang telah menempuh pendidikan di Negeri Paman Pintar sebagai faktor kunci dalam mendukung transisi industri dan peningkatan kapasitas teknologi.
“Indonesia menyimpan banyak talenta yang telah mengenyam pendidikan di AS dan siap memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung investasi serta transfer pengetahuan,” ujar Indroyono.
Menurut Indroyono, upaya pemerintah dalam memperbaiki regulasi juga menjadi poin penting. Salah satu langkah konkret adalah penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Regulasi ini dirancang untuk mempermudah proses investasi dan meningkatkan kepastian bagi pengusaha. Selain itu, penyediaan Blue Book Bappenas yang memuat proyek-proyek prioritas untuk investor asing turut menjadi perhatian utama, termasuk mitra dari AS.
Industri Penerbangan: Peluang dan Kolaborasi
Dalam sektor penerbangan, Boeing Indonesia menunjukkan minat untuk memperluas kerja sama dengan pihak lokal. Perusahaan asal AS ini mengajukan peluang bagi Indonesia untuk masuk ke dalam sistem rantai pasok globalnya. Contohnya, kolaborasi antara Boeing dengan PT Dirgantara Indonesia telah berjalan cukup baik, menandai langkah awal dalam integrasi industri penerbangan nasional dengan sektor internasional.
Indonesia juga diprediksi akan menjadi salah satu pasar penumpang terbesar dunia pada 2036, menurut data yang diberikan. Untuk mengantisipasi kebutuhan infrastruktur penerbangan, negara ini diperkirakan membutuhkan setidaknya 600 pesawat baru, terutama model Boeing 737. Selain itu, Boeing aktif bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program University Leadership Development, serta menggandeng Pertamina dalam pengembangan bahan bakar udara bersih (sustainable aviation fuel/SAF) yang berasal dari minyak nabati. Kerja sama ini menggambarkan komitmen Indonesia untuk mengintegrasikan inovasi teknologi dengan manufaktur lokal.
Manufaktur dan Investasi di Kawasan Industri
Di bidang manufaktur, sejumlah perusahaan asing seperti Nike, Hamilton Beach, dan Freeport-McMoRan terus memperkuat kehadiran mereka di Indonesia. Nike, misalnya, menjadikan negara ini sebagai basis produksi utama sepatu, dengan menyerap sekitar 500 ribu tenaga kerja. Sekitar 90 persen dari hasil produksi perusahaan ini dikirimkan ke pasar ekspor, menunjukkan fokus pada pemasaran global.
Hamilton Beach, perusahaan manufaktur elektronik asal AS, sedang membangun pabrik peralatan rumah tangga di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah. Proyek ini diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan industri manufaktur skala besar di Indonesia. Sementara itu, Freeport-McMoRan dan ExxonMobil tetap menjadi mitra strategis dalam sektor energi dan sumber daya alam. Kolaborasi ini mencakup pengelolaan tambang dan produksi energi, yang menjadi pilar penting dalam perekonomian nasional.
Investor AS: Harapan dan Persyaratan
Para peserta pertemuan, yang antara lain mencakup perwakilan US Chamber of Commerce, AmCham Indonesia, dan perusahaan seperti Boeing, Nike, serta Freeport-McMoRan, menyatakan bahwa Indonesia tetap menjadi prioritas dalam menarik investasi. Namun, mereka juga menyoroti perlunya kepastian regulasi, pengurangan hambatan non-tarif, serta peningkatan kemudahan berusaha untuk menjaga daya saing negara ini di tingkat global.
Vice President US Chamber of Commerce untuk US-ASEAN Business Committee, John Goyer, berharap acara US-Indonesia Investment Summit yang akan diadakan di Jakarta pada Oktober 2026 dapat menghasilkan kesepakatan konkret antara pengusaha Indonesia dan AS. Ia juga mengajak perusahaan lokal untuk berpartisipasi dalam forum B-20 di Washington DC pada 9–11 November 2026, yang akan diadakan bersamaan dengan KTT G20. Forum ini dianggap sebagai platform penting untuk menyampaikan aspirasi eksporir dan mitra bisnis.
Perdagangan Bilateral: Kinerja 2025
Menurut laporan US Trade Representative, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan AS pada 2025 mencapai 45,7 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang positif, meski masih perlu dikembangkan lebih lanjut untuk mencapai target ekspor yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan infrastruktur, kerja sama antarinstansi, serta kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital.
Keberhasilan pertemuan ini juga didukung oleh pengelolaan acara yang efektif. Peserta dari berbagai sektor menekankan pentingnya kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Indroyono menambahkan bahwa kemitraan ini tidak hanya terbatas pada kebijakan, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari sektor swasta dalam mengembangkan keterampilan dan inovasi. “Kerja sama yang terjalin harus diiringi komitmen untuk membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan jangka panjang,” jelasnya.
Dengan peningkatan investasi dan pengembangan manufaktur, Indonesia berharap memperkuat posisinya sebagai mitra strategis di Asia Tenggara. Pertemuan antara Duta Besar dan perwakilan AS menjadi langkah awal dalam mengimplementasikan kerja sama yang lebih luas, termasuk di bidang teknologi dan energi. Upaya ini diharapkan dapat menarik minat investor baru serta meningkatkan kualitas produk dalam negeri untuk bersaing di pasar internasional.