PLN sampaikan Indonesia surplus hidrogen sebesar 125 ton

PLN Sampaikan Indonesia Surplus Hidrogen: Peluang Energi Masa Depan

Atapkitadonasi.com – PLN sampaikan Indonesia surplus hidrogen sebesar 125 ton setiap tahunnya. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, dalam acara pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta pada hari Selasa. Data menunjukkan bahwa Indonesia saat ini memproduksi hidrogen sebanyak 200 ton per tahun, namun hanya mengonsumsi 75 ton untuk kebutuhan operasional pembangkit listrik. Kelebihan pasokan ini membuka peluang besar bagi pengembangan energi terbarukan di tanah air.

Proses Produksi dan Pemanfaatan Hidrogen

Setiap pembangkit listrik milik PLN menghasilkan hidrogen sebagai produk sampingan dari proses pendinginan. Sistem pendinginan ini sangat penting untuk menjaga kestabilan suhu pada berbagai komponen kritis di dalam pembangkit. Meskipun hidrogen diproduksi secara konsisten, penggunaannya saat ini masih terbatas pada kebutuhan internal operasional. Darmawan menjelaskan bahwa sebagian besar hidrogen yang dihasilkan masih menganggur tanpa dimanfaatkan secara optimal.

“Kami produksi 200 ton, yang dipakai 75 ton. Sisanya 125 ton itu nganggur,” ujar Darmawan dalam sambutannya di hadapan para peserta summit.

Kondisi surplus ini menjadi momentum strategis untuk mengembangkan ekosistem hidrogen nasional. PLN mulai merancang berbagai inisiatif untuk memanfaatkan kelebihan produksi tersebut. Salah satu langkah konkret adalah pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen atau HRS di berbagai lokasi strategis. Infrastruktur ini akan menjadi titik distribusi utama bagi masyarakat dan sektor transportasi yang ingin beralih ke energi bersih.

Kolaborasi Strategis dengan Pertamina

Dalam mengembangkan rantai pasok hidrogen, PLN tidak bekerja sendiri. Perusahaan listrik negara ini telah menjalin kerja sama erat dengan Pertamina untuk membangun ekosistem yang solid. Kolaborasi ini mencakup aspek penyediaan infrastruktur pengisian serta pengembangan armada kendaraan yang akan menggunakan hidrogen sebagai sumber energi alternatif.

“Rantai pasoknya dari mana? Nah, kami (PLN) kolaborasi dengan Pertamina. Jadi, kalau Hydrogen Refueling Station itu sudah ada dan siap pakai. Tetapi, mobilnya belum ada,” tambah Darmawan.

Perluasan penggunaan hidrogen juga mencakup sektor transportasi publik di Jakarta. Darmawan secara khusus meminta Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, untuk melakukan komunikasi intensif dengan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Tujuannya adalah mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif bagi armada bus TransJakarta yang beroperasi di ibu kota.

“Barangkali Bapak (Bahlil) bisa melobi ke Gubernur DKI, begitu. TransJakarta,” ucap Darmawan dengan harapan positif.

Menuju Transportasi Berbasis Hidrogen

Untuk memastikan ketersediaan armada yang memadai, Darmawan telah melakukan serangkaian diskusi dengan produsen kendaraan dari Jepang, Jerman, maupun China. Pembicaraan tersebut berfokus pada kesiapan pasar internasional dalam menyediakan bus hidrogen yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Jika pemerintah memutuskan untuk mengadopsi hidrogen sebagai bahan bakar transportasi, PLN dan Pertamina akan bersama-sama menyediakan armada bus yang diperlukan.

“Nanti Pertamina dengan PLN bersama-sama menyediakan busnya. Tinggal kemudian nanti bus hidrogen ada logonya ESDM, PLN, Pertamina, kita berkolaborasi membangun transportasi berbasis hidrogen,” pungkas Darmawan.

Upaya ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam transisi energi menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan surplus hidrogen yang melimpah, negara ini memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin regional dalam pemanfaatan energi hidrogen. PLN menyampaikan Indonesia surplus hidrogen sebagai langkah awal menuju ekosistem energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.