Kemkomdigi resmikan Deklarasi Sekolah Cakap Digital dukung PP Tunas

Kemkomdigi dan Sekolah-Sekolah Menegaskan Komitmen Digital yang Bertanggung Jawab

Atapkitadonasi.com – Jakarta menjadi saksi peresmian Deklarasi Bersama Sekolah Cakap Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital. Acara ini menghadirkan para tenaga pendidik serta perwakilan siswa dari delapan institusi pendidikan yang telah menandatangani kesepakatan tersebut. Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum penting bagi sekolah-sekolah untuk menegaskan kembali komitmen mereka dalam mendukung implementasi PP Tunas. Melalui deklarasi ini, para pihak berkomitmen untuk membentuk warga digital yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga aman, beretika, dan bertanggung jawab dalam setiap interaksi di ruang maya.

Visi Meutya Hafid tentang Keseimbangan Digital

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan pesan penting dalam acara yang berlangsung di Jakarta pada hari Selasa. Ia menjelaskan bahwa cakap digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga kemampuan untuk menyeimbangkan kehidupan di ranah virtual dengan kehidupan nyata bersama keluarga dan teman sebaya.

Kita ingin bahwa anak-anak ini cakap digital, tapi di saat yang bersamaan cakap digital itu juga berarti bisa mengimbangi kehidupan dia di ranah maya dengan kehidupan sehari-hari dengan orang tua, dengan teman dan sebayanya, sehingga anak-anak bisa kita kembalikan kepada jati diri mereka sebagai anak-anak.

Para sekolah yang berpartisipasi dalam deklarasi tersebut juga menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga data pribadi siswa, menolak segala bentuk perundungan siber, serta menjadikan perlindungan anak di ruang digital sebagai tanggung jawab kolektif. Tanggung jawab ini mencakup peran sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah, serta penyelenggara sistem elektronik dalam menciptakan lingkungan digital yang aman.

Risiko Digital yang Perlu Diwaspadai

Meutya menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dengan membatasi usia akses terhadap platform berisiko tinggi. Menurutnya, platform digital juga harus bertransformasi menjadi ruang yang aman dan ramah anak agar anak Indonesia dapat tumbuh sesuai tahap perkembangannya. Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari, namun berbagai risiko juga muncul secara bersamaan.

Beberapa risiko tersebut meliputi gangguan pola tidur, kecanduan media sosial dan platform digital, serta paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak. Meutya menjelaskan bahwa perubahan perilaku anak sering kali bukan disebabkan oleh karakter anak itu sendiri, melainkan akibat paparan konten negatif yang diterima sebelum mereka memiliki kesiapan secara usia.

Anak-anak kita bukan anak yang nakal. Mereka adalah tunas bangsa yang hebat. Tetapi jika anak-anak yang baik terus-menerus terpapar konten negatif ketika usianya belum siap, tentu perilaku mereka bisa berubah.

Fitur Interaksi dan Risiko Child Grooming

Selain paparan konten berbahaya, Meutya menyoroti risiko fitur interaksi pada berbagai platform digital yang memungkinkan orang asing menghubungi anak tanpa sepengetahuan orang tua maupun guru. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya berbagai bentuk kejahatan digital terhadap anak, termasuk praktik child grooming. Karena itu, pemerintah menerapkan kebijakan penundaan akses media sosial berisiko tinggi hingga usia 16 tahun sebagai langkah perlindungan terhadap anak-anak Indonesia.

Fitur kontak ini sangat berbahaya. Di sinilah kadang orang dewasa yang memiliki niat tidak baik melakukan komunikasi dengan anak-anak tanpa sepengetahuan orang tua maupun guru. Itulah salah satu alasan kami menunda usia anak sampai 16 tahun untuk masuk ke ranah digital dengan risiko tinggi.

Pendekatan Transformasi Platform Digital

Meski demikian, Meutya menegaskan pemerintah tidak menerapkan pendekatan pelarangan semata. Sebaliknya, pemerintah memberikan ruang bagi perusahaan platform digital untuk melakukan pembenahan sehingga layanan mereka dapat dikategorikan sebagai platform berisiko rendah dan aman digunakan anak. Platform digital perlu menghapus berbagai fitur yang mendorong kecanduan, memperkuat moderasi terhadap konten pornografi, perjudian daring, maupun bentuk kejahatan digital lainnya.

Kalau platform mau berubah, menghilangkan fitur kontak yang berbahaya dan memastikan hanya konten yang sesuai usia yang dapat diakses anak, maka platform tersebut bisa menjadi platform berisiko rendah dan anak-anak boleh masuk.

Meutya juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata. Anak-anak tetap membutuhkan interaksi langsung dengan keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan sekitar agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara sosial dan emosional. Cakap digital bukan berarti hanya hidup di dunia digital, tetapi mampu menyeimbangkan kehidupan virtual dengan kehidupan nyata.