Bisnis

Pertamina-Jababeka perkuat kolaborasi menuju nol emisi bersih

IMG-20260920-007
Foto : Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com
Daftar Isi
  1. Kolaborasi Pertamina dan Jababeka Didorong untuk Percepat Kawasan Industri Rendah Emisi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Kolaborasi Pertamina dan Jababeka Didorong untuk Percepat Kawasan Industri Rendah Emisi

Atapkitadonasi.com – Transformasi kawasan industri menuju penggunaan energi yang lebih bersih terus diperkuat di Cikarang, Kabupaten Bekasi. PT Pertamina (Persero) dan Jababeka Tbk (KIJA) melanjutkan kerja sama untuk mendukung pengurangan emisi melalui pemanfaatan gas, energi surya, pengolahan limbah menjadi energi, hingga peluang penggunaan hidrogen bagi industri dan transportasi.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan industri yang lebih hijau, bersih, dan nyaman bagi kegiatan bekerja, bermukim, maupun aktivitas sehari-hari. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mencapai net zero emission di kawasan Industri Jababeka.

Energi Bersih untuk Kebutuhan Tenant

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menilai visi Jababeka dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di dalam kawasannya sejalan dengan agenda industri hijau. Komitmen tersebut terlihat melalui penerapan proyek dekarbonisasi dan pemakaian sumber energi yang lebih rendah emisi.

“Kolaborasi ini telah dirintis sejak 2022 dalam event B-20 Summit dan World Economi Forum G-20 di Davos. Kami berkomitmen melanjutkan skema kerja sama sebagaimana yang telah dirintis dengan fokus pengembangan industri ramah lingkungan, terutama penyediaan energi hijau di Kawasan Industri Jababeka,” katanya di Cikarang, Minggu.

Penguatan kerja sama pada tahun ini mencakup sejumlah opsi energi dan mekanisme pendukung penurunan karbon. Di antaranya pemanfaatan gas pipa, biometana yang telah memiliki sertifikasi ISCC, penggunaan panel surya, baterai penyimpanan listrik, serta kredit karbon.

Biometana merupakan gas yang dihasilkan dari limbah organik dan dapat digunakan sebagai pengganti gas bumi. Sementara itu, kredit karbon memberi nilai ekonomi bagi langkah-langkah yang mampu mengurangi emisi. Kombinasi solusi ini dapat membantu tenant menyesuaikan kebutuhan energi mereka dengan target keberlanjutan masing-masing.

Pertamina juga membuka peluang pengembangan hidrogen hijau untuk transportasi rendah karbon. Inisiatif itu dikaitkan dengan konsep kota yang mengandalkan sistem angkutan umum terintegrasi. Selain hidrogen, pengembangan biometana dan potensi panas bumi turut menjadi bagian dari cakupan energi bersih yang akan dikaji.

Contoh Penerapan di Kawasan Jababeka

Sejumlah perusahaan di kawasan tersebut telah memulai penerapan energi rendah emisi. Unilever, misalnya, mengembangkan pemanfaatan biometana sebagai sumber gas yang lebih ramah lingkungan bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), bagian dari Grup Pertamina.

Astemo juga menjadi contoh tenant yang mengembangkan energi surya. Perusahaan itu mulai memasang panel surya di atap dengan kapasitas 1,2 megawatt sekitar tiga tahun lalu. Kapasitasnya kini telah melampaui 2 megawatt.

“Ini menunjukkan komitmen para tenan menjadi net zero industrial cluster dengan dukungan Jababeka Infrastruktur. Karena itu, Pertamina melalui Pertamina NRE dan PGN siap terus mengembangkan dan memenuhi kebutuhan para tenan dalam melakukan dekarbonisasi,” ujar Agung.

Dukungan yang disiapkan Pertamina tidak hanya berfokus pada pasokan energi. Perusahaan juga menempatkan pengolahan persoalan lingkungan sebagai bagian penting dari kerja sama, termasuk mengubah limbah menjadi energi dan memanfaatkan gas hasil limbah untuk produksi hidrogen yang dapat digunakan di kawasan industri maupun sektor transportasi.

“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenan ini dapat terwujud dan dapat mendorong pemerintah menyiapkan regulasi.sehingga tujuan itu bisa tercapai,” katanya.

PLTS Atap dan Pengurangan Emisi

Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi menyampaikan bahwa kemitraan tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan di kawasan Jababeka menurunkan jejak karbonnya. Salah satu inovasi yang telah dijalankan adalah pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap berkapasitas 230 kWp di instalasi pengolahan air kawasan industri.

Proyek PLTS atap tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Pertamina NRE dan mulai beroperasi pada 2023. Hingga saat ini, fasilitas itu telah menghasilkan listrik sebesar 858,21 MWh. Volume produksi tersebut setara dengan pengurangan emisi karbon sekitar 734 ton CO2e.

Penerapan energi surya kemudian diikuti tenant lain. Hingga September 2026, sebanyak 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka tercatat telah memasang sistem energi surya atap dengan kapasitas gabungan 14,5 MWp. Pertumbuhan instalasi ini menunjukkan bahwa penggunaan energi terbarukan semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari operasional industri.

Kawasan Industri dengan Prinsip Keberlanjutan

Jababeka didirikan pada 1989 oleh 21 pengusaha nasional dan dikenal sebagai pelopor pengembang kawasan industri swasta di Indonesia. Kawasan di Cikarang itu sejak awal dirancang dengan gagasan industri modern, perhatian terhadap lingkungan, serta infrastruktur yang terintegrasi untuk mendukung daya saing investasi nasional.

Saat ini, Jababeka mengelola sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara. Konsep kawasan ekoindustri modern dan berkelanjutan dikembangkan melalui kerja sama dengan ProLH GTZ dalam program kerja sama teknis antara Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan Republik Jerman.

“Menjadikan kawasan industri ini sebagai infrastruktur dasar terlengkap, terintegrasi dan semua didasarkan prinsip keberlanjutan seperti pembangkit listrik swasta pertama menggunakan gas, tidak memakai batu bara sejak 35 tahun lalu, membangun WTP dari air permukaan dan WWTP/IPAL terpadu pertama di tanah air,” ujarnya.

Penggunaan gas pada pembangkit listrik, pengolahan air dari sumber air permukaan, serta keberadaan fasilitas pengolahan air limbah terpadu menjadi bagian dari fondasi infrastruktur kawasan tersebut. Penguatan kemitraan dengan Pertamina diharapkan memperluas penerapan solusi energi bersih bagi tenant, sambil mendorong pengelolaan limbah dan emisi yang lebih terintegrasi.

Bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan industri, agenda dekarbonisasi tidak hanya berkaitan dengan pemakaian listrik. Peralihan sumber energi, efisiensi proses produksi, pengelolaan limbah, serta ketersediaan infrastruktur pendukung perlu berjalan beriringan. Karena itu, kolaborasi antara pengelola kawasan, penyedia energi, tenant, dan pemerintah menjadi elemen penting dalam perjalanan menuju emisi nol bersih.

Frequently Asked Questions

What is Pertamina Jababeka perkuat kolaborasi menuju nol emisi?

Pertamina Jababeka perkuat kolaborasi menuju nol emisi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pertamina Jababeka perkuat kolaborasi menuju nol emisi matter?

Pertamina Jababeka perkuat kolaborasi menuju nol emisi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.