Key Discussion: Evaluasi Usulan Gula dalam Program Bantuan Pangan Nasional
Key Discussion kembali menjadi topik utama saat Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) mempertimbangkan masukan dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) untuk memasukkan gula ke dalam program bantuan pangan. Radian Bagiyono, Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Perkebunan dan Hortikultura Kemenko Pangan, menjelaskan bahwa usulan ini sedang dianalisis secara mendalam. “Kita perlu memastikan ada keseimbangan antara kebutuhan petani dan manfaat bagi masyarakat,” katanya dalam diskusi di Jakarta, Jumat.
Makna Usulan Gula dalam Program Bantuan Pangan
APTRI mengusulkan penggunaan gula sebagai bagian dari bantuan pangan nasional untuk memberikan perlindungan tambahan kepada para petani tebu. Soemitro Samadikoen, Ketua Umum APTRI, menyatakan bahwa gula memiliki peran strategis dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat. “Dengan menambahkan gula, kita bisa mengurangi tekanan harga dan menjaga stabilitas produksi nasional,” tambahnya. Usulan ini diharapkan memberikan solusi yang lebih holistik dalam memastikan keberlanjutan sektor pertanian.
Langkah Koordinasi Lintas Sektor
Usulan APTRI akan dibahas bersama lembaga teknis terkait dalam Key Discussion yang melibatkan seluruh sektor pangan. Radian Bagiyono menegaskan bahwa Kemenko Pangan berkomitmen untuk menjembatani kepentingan produsen gula, petani tebu, serta masyarakat penerima bantuan. “Koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk mencapai kebijakan yang berkelanjutan,” jelasnya. Diskusi ini juga mencakup penyesuaian volume distribusi gula agar sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Volume gula dalam bantuan pangan tidak perlu sebesar beras, karena konsumsi per kapita lebih rendah. Sebagai contoh, 1 kilogram gula per paket cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara beras diberikan sebanyak 20 kilogram per keluarga,”
Kebutuhan gula nasional hanya mencapai 10 persen dari kebutuhan beras, sehingga menambahkan komoditas ini ke dalam program bantuan dianggap sebagai langkah efektif. Dengan demikian, Key Discussion tentang penggunaan gula diharapkan tidak hanya meningkatkan daya beli masyarakat, tetapi juga memperkuat pertumbuhan sektor perkebunan. Pemerintah juga menyoroti peran gula dalam menjaga stabilitas harga di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif.
Dalam program bantuan pangan saat ini, Perum Bulog menyediakan bantuan berupa beras dan minyak goreng kepada 33,2 juta keluarga. Sampai 29 Mei 2026, distribusi telah mencapai 47 persen dari target nasional, dengan 308 ribu ton beras dan 62 ribu ton minyak goreng. Kemenko Pangan mengingatkan bahwa program ini tetap fokus pada kebutuhan pangan pokok, sementara usulan gula menjadi Key Discussion untuk memperkaya variasi bantuan.
Kebijakan bantuan pangan memerlukan Key Discussion yang melibatkan berbagai pihak agar tetap relevan dengan kondisi masyarakat. APTRI menekankan bahwa gula bisa menjadi komoditas yang mampu mengurangi beban petani dan memastikan penyerapan hasil produksi. Radian Bagiyono menyatakan bahwa Kemenko Pangan akan melibatkan lembaga teknis dalam Key Discussion untuk menyeimbangkan aspirasi dari seluruh stakeholder.
Pendapat APTRI mendapat respon positif dari sejumlah pihak, termasuk lembaga pengelola bantuan pangan. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada beras sebagai satu-satunya komoditas bantuan. Dengan demikian, Key Discussion tentang penggunaan gula diharapkan mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan antara produsen dan konsumen.