Bapanas Dorong Industri Ritel Terlibat dalam Inovasi Penyelamatan Pangan Nasional
New Policy – Jakarta, Rabu – Badan Pangan Nasional (Bapanas) berupaya mendorong industri ritel untuk memperkuat inovasi dan kerja sama dalam upaya penyelamatan pangan nasional. Langkah ini bertujuan memperluas distribusi pangan layak konsumsi serta mendukung pembangunan sistem pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dalam wawancara di Jakarta, Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, menekankan bahwa partisipasi sektor ritel menjadi bagian kunci dalam membangun ekosistem pangan yang tangguh.
Keterlibatan Ritel dalam Sistem Pangan yang Inklusif
Nita menyatakan, ritel memainkan peran strategis dalam menyebarkan pangan yang masih layak dikonsumsi ke berbagai kalangan masyarakat. Kemitraan dengan lembaga bank pangan serta organisasi terkait diperlukan untuk meningkatkan efektivitas redistribusi pangan. “Ritel berperan penting dalam membangun ekosistem penyelamatan pangan yang berkelanjutan,” tambah Nita, sebagaimana dikutip dalam pernyataannya. Forum bisnis yang diadakan di Jakarta menjadi panggung untuk mendiskusikan strategi kolaborasi dalam penanganan sisa pangan di sektor ritel.
“Ritel juga bisa menjadi sarana edukasi bagi konsumen untuk lebih bijak dalam mengelola pangan dan mengurangi pemborosan,” ujar Nita.
Menurut Nita, kehadiran dunia usaha, khususnya industri ritel, menunjukkan perkembangan positif dalam upaya mengatasi masalah pangan nasional. Data dari Platform Stop Boros Pangan Bapanas per 18 Juni 2026 menunjukkan kontribusi sektor ritel mencapai 8,8 persen dari total mitra penyelamatan pangan. Angka tersebut mencerminkan semakin tingginya kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya efisiensi dalam distribusi pangan.
Penguatan Sinergi dan Strategi Berkelanjutan
Bapanas menekankan bahwa kolaborasi yang lebih luas dengan pihak terkait seperti bank pangan, komunitas, dan media dapat meningkatkan manfaat redistribusi pangan bagi masyarakat. “Upaya ini bukan hanya untuk mengurangi sisa pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional,” tambah Nita. Dalam rangka mewujudkan sistem pangan berkelanjutan, Bapanas terus mendorong penguatan sinergi, edukasi masyarakat, dan pelaporan aktivitas secara sistematis.
Aprindo: Strategi Bisnis yang Terukur untuk Redistribusi Pangan
Direktur Eksekutif Aprindo, Dasep Suryanto, mengungkapkan bahwa pengurangan sisa pangan perlu menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan yang konsisten. “Komitmen perusahaan, pengukuran jelas, dan aksi nyata yang berkelanjutan adalah tiga langkah utama yang harus diambil,” katanya. Dasep menegaskan bahwa keberhasilan inisiatif ini bergantung pada pelaksanaan yang terukur dan berkelanjutan.
“Pengurangan sisa pangan dapat dimulai dari komitmen perusahaan yang kuat, dilanjutkan dengan pengukuran yang jelas, dan diwujudkan melalui aksi nyata yang berkelanjutan,” tambah Dasep.
Yuvlinda Susanta, Wakil Ketua Umum Aprindo bidang ESG dan Transformasi Ritel, menambahkan bahwa penyelamatan pangan sudah menjadi prioritas dalam strategi bisnis berkelanjutan. Langkah ini, menurutnya, memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus membantu ritel lebih siap menghadapi regulasi di masa depan. “Kolaborasi antara pemerintah, ritel, bank pangan, komunitas, akademisi, dan media diharapkan bisa memperluas akses pangan layak konsumsi bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Yuvlinda.
Kolaborasi yang Membentuk Ekosistem Pangan Tangguh
Menurut Nita, sistem pangan yang efisien dan inklusif memerlukan kerja sama lintas sektor. Ritel, sebagai penghubung antara produsen dan konsumen, memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi nyata. “Dengan peran aktif ritel, upaya penyelamatan pangan bisa menjadi pilar utama dalam mewujudkan ketahanan nasional,” jelas Nita.
Aprindo diharapkan memperkuat keterlibatan anggotanya dalam berbagai program penyelamatan pangan. Nita menyatakan bahwa partisipasi ritel tidak hanya meningkatkan efisiensi distribusi, tetapi juga mendukung target pembangunan berkelanjutan. Forum yang bertajuk “Transformasi Ritel Berkelanjutan: Memperkuat Inovasi dan Kolaborasi terhadap Risiko dan Peluang Penanganan Sisa Pangan di Sektor Ritel” dianggap penting untuk menggali potensi kolaborasi yang lebih luas.
Bapanas berharap pengurangan sisa pangan bisa menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dan industri. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi pemborosan, tetapi juga memperkuat ekosistem pangan nasional. Dengan adanya komitmen bersama, distribusi pangan bisa lebih merata, sehingga masyarakat yang kurang beruntung juga dapat memperoleh akses yang lebih baik.
Langkah Konsisten untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Aprindo berperan penting dalam memastikan industri ritel terlibat secara aktif. Dasep menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan ritel perlu mengintegrasikan penanganan sisa pangan ke dalam strategi bisnis mereka. “Strategi yang terukur dan berkelanjutan akan memastikan keberhasilan jangka panjang,” ujarnya.
Yuvlinda menambahkan bahwa penyelamatan pangan merupakan komponen penting dalam transformasi ritel. Hal ini diharapkan mendorong pengembangan praktik bisnis yang ramah lingkungan dan inklusif. Dengan keterlibatan aktif pihak-pihak terkait, distribusi pangan bisa lebih efektif, dan sisa makanan bisa diminimalkan. “Kolaborasi ini juga membantu ritel menghadapi tantangan di masa depan dengan solusi yang inovatif,” imbuh Yuvlinda.
Menurut Nita, sistem pangan yang berkelanjutan memerlukan inovasi yang berkelanjutan. Ritel, sebagai salah satu aktor penting, dapat menjadi penyalur pangan yang lebih terstruktur. Dengan kerja sama yang kuat, distribusi pangan layak konsumsi bisa ditingkatkan, dan jumlah sisa pangan di masyarakat juga berkurang.
Kebutuhan Sinergi untuk Mengatasi Kebutuhan Pangan Nasional
Kebutuhan akan pangan yang lebih merata dan aman menciptakan peluang besar bagi industri ritel. Nita menekankan bahwa kerja sama lintas sektor, seperti pemerintah, bank pangan, dan komunitas, menjadi kunci keberhasilan. “Dengan sinergi yang solid, redistribusi pangan bisa lebih optimal,” katanya.
Dasep menyatakan bahwa pelaku ritel perlu beradaptasi dengan pola konsumsi yang lebih bijak. Ini melibatkan pengukuran, target, dan rencana aksi yang terperinci. “Komitmen perusahaan harus didukung oleh data yang jelas dan pengambilan keputusan yang terarah,” ujarnya.
Yuvlinda Susanta juga menyoroti pentingnya ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam transformasi ritel. “Dengan mengintegrasikan ESG, ritel bisa menciptakan dampak positif yang berkelanjutan,” katanya. Bapanas berharap kolaborasi ini akan mendorong terwujudnya sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kelompok pihak lain seperti akademisi dan media juga diharapkan memberikan dukungan untuk memperkuat komunikasi dan edukasi masyarakat. Dengan langkah-langkah yang terstruktur, Bapanas optimis bahwa kerja sama ini akan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan nasional.