Tambora Jungle Run untuk gerakkan ekonomi dan kunjungan wisata kawasan
Daftar Isi
Lintasan 40 Kilometer dari Pantai ke Puncak: Tambora Jungle Run 2026 Siap Mengubah Peta Wisata NTB
Atapkitadonasi.com – Sebuah perlombaan lari lintas alam sejauh 40 kilometer akan menyusuri jalur Doroncanga pada 30 Agustus 2026, menghubungkan garis pantai dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Acara yang diberi nama Tambora Jungle Run ini dirancang bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan instrumen strategis untuk menghidupkan roda ekonomi masyarakat di sekitar Taman Nasional Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Balai TN Tambora, melalui Kepala Balai Abdul Azis Bakry, memosisikan event tersebut sebagai gerbang masuk bagi wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengenal kekayaan alam kawasan sekaligus menciptakan aliran pendapatan bagi warga lokal.
Strategi Sport Tourism dan Dampak Ekonomi Langsung
Taman Nasional Tambora, yang mencakup kaldera vulkanik terbesar di dunia dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, selama ini menghadapi tantangan dalam menyalurkan potensi alamnya menjadi aktivitas ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar. Penyelenggaraan lomba trail run berskala besar dinilai mampu memecah kebuntuan tersebut dengan menarik ribuan peserta beserta pendamping mereka ke kawasan dalam satu waktu.
Abdul Azis Bakry menjelaskan bahwa efek ekonomi tidak terbatas pada hari perlombaan saja. Rantai aktivitas yang dipicu mencakup operasional usaha mikro, kecil, dan menengah, layanan transportasi lokal, penyediaan makanan dan minuman, jasa pemandu wisata, serta pemenuhan kebutuhan logistik peserta selama kegiatan berlangsung.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah mempromosikan Taman Nasional Tambora sebagai destinasi wisata olahraga kelas dunia dan spot destinasi wisata di lingkar kawasan.”
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Azis di hadapan para jurnalis di Dompu pada Senin (17/8), menegaskan bahwa orientasi event bukan hanya pada prestasi atletik, tetapi pada pembangunan citra kawasan sebagai tujuan wisata olahraga berkelas internasional.
Nomor Unggulan: Sea to Summit 40K
Di antara berbagai kategori yang tersedia, kategori Sea to Summit 40K menjadi sorotan utama. Lintasan ini dirancang agar peserta memulai perjalanan dari kawasan pesisir pada ketinggian nol meter di atas permukaan laut, kemudian mendaki secara bertahap hingga mencapai elevasi sekitar 2.000 mdpl di kawasan pegunungan Tambora. Jalur yang dilalui adalah jalur Doroncanga, sebuah trek yang melintasi formasi geologi dan ekologi khas kawasan.
“Yang paling ikonik adalah kombinasi lintasan dari 0 mdpl hingga sekitar 2.000 mdpl.”
Konsep transisi dari laut ke puncak ini dinilai memiliki daya tarik komersial yang lebih luas dibandingkan trail run konvensional. Peserta tidak hanya berlomba, tetapi juga dapat diarahkan untuk mengunjungi berbagai titik wisata di sepanjang rute maupun di sekitar kawasan, sehingga durasi kunjungan dan nilai ekonomi per peserta meningkat secara signifikan.
Visi Jangka Panjang: Rangkaian Perjalanan dari Teluk Saleh hingga Kaldera
Abdul Azis menguraikan rencana pengembangan lima tahun ke depan yang mengaitkan Tambora dengan potensi wisata lain di NTB, termasuk Teluk Saleh yang terkenal sebagai habitat hiu paus. Dua skenario rangkaian perjalanan yang dipaparkan adalah: dari Teluk Saleh menuju agrowisata lalu ke kaldera Tambora, atau dari Teluk Saleh langsung ke kaldera kemudian berlanjut ke agrowisata.
“Untuk jangka panjang, lima tahun ke depan kita punya mimpi dari hiu paus ke agrowisata, kemudian ke kaldera. Atau dari hiu paus ke kaldera kemudian ke agrowisata.”
Dalam kerangka waktu pendek, Tambora Jungle Run berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan konsep perjalanan multi-destinasi tersebut kepada wisatawan. Sementara dalam horizon jangka panjang, Balai TN Tambora menyiapkan pengembangan agrowisata di zona khusus kawasan.
Agrowisata dan 10.000 Bibit Kemiri
Untuk menopang rencana agrowisata, pihak Balai telah menyiapkan sekitar 10.000 bibit kemiri, ditambah bibit durian dan alpukat, yang akan dikembangkan bersama masyarakat setempat. Lokasi pengembangan diarahkan pada wilayah yang secara historis telah menjadi kawasan permukiman dan perladangan warga sebelum penetapan status taman nasional, sehingga tidak menimbulkan konflik tata ruang.
Tanaman-tanaman tersebut diproyeksikan mulai menghasilkan dalam beberapa tahun mendatang. Hasil panen diharapkan menjadi sumber pendapatan alternatif bagi warga sekaligus menjadi pendorong terbentuknya pusat-pusat ekonomi baru di lingkar kawasan, mengurangi ketergantungan pada aktivitas musiman.
Dari Temporer ke Permanen
Abdul Azis menegaskan bahwa orientasi pengembangan ekonomi tidak berhenti pada manfaat sesaat ketika ajang olahraga berlangsung. Pendekatan yang diadopsi membedakan antara dampak temporer dan permanen.
“Temporer-nya pada saat event. Permanennya, harapannya nanti ada pengembangan kawasan, agrowisata dan usaha masyarakat.”
Dengan demikian, Tambora Jungle Run 2026 diposisikan bukan sebagai akhir dari sebuah agenda, melainkan sebagai titik awal dalam rangkaian strategi multi-tahun yang bertujuan menjadikan kawasan Tambora dan lingkarannya sebagai ekosistem wisata olahraga berkelanjutan. Ke depan, event ini diharapkan berkembang menjadi trail run berskala internasional yang secara konsisten menarik partisipasi global sekaligus membuka akses wisatawan terhadap berbagai destinasi di sekitar kawasan, dari pesisir hingga puncak kaldera.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Tambora Jungle Run untuk gerakkan ekonomi?
Tambora Jungle Run untuk gerakkan ekonomi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Tambora Jungle Run untuk gerakkan ekonomi matter?
Tambora Jungle Run untuk gerakkan ekonomi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.