Dunia

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok dalam BRICS

Daftar Isi
  1. China Dukung Penguatan Rantai Pasok BRICS yang Diusulkan Indonesia
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

China Dukung Penguatan Rantai Pasok BRICS yang Diusulkan Indonesia

Atapkitadonasi.com – Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap gagasan Indonesia untuk memperkuat kerja sama industrialisasi dan rantai pasok di antara negara-negara BRICS. Dukungan tersebut disampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto mengajak anggota kelompok itu menyatukan kekuatan ekonomi, teknologi, produksi, dan pasar guna menghadapi tekanan global secara bersama-sama.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan bahwa Beijing melihat kerja sama industri sebagai salah satu jalur penting bagi BRICS untuk meningkatkan ketahanan pembangunan anggotanya. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Beijing pada Senin, menyusul pidato Prabowo dalam sesi kedua KTT BRICS ke-18 di New Delhi pada Minggu, 13 September.

“China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat,” kata Guo Jiakun.

Kolaborasi Industri sebagai Respons atas Tantangan Global

Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan pentingnya langkah nyata agar negara berkembang tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah atau pasar bagi produk jadi. Ia mengusulkan penguatan kerja bersama di bidang industrialisasi dan optimalisasi sumber daya yang dimiliki anggota BRICS.

“Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama,” ujar Prabowo.

Usulan itu menyoroti peluang besar yang muncul dari keberagaman kekuatan ekonomi BRICS. Sejumlah negara memiliki cadangan energi, mineral, pasar domestik besar, basis manufaktur, kemampuan teknologi, maupun posisi strategis dalam perdagangan internasional. Jika faktor-faktor tersebut dapat dipadukan, kerja sama rantai pasok berpotensi menciptakan hubungan ekonomi yang lebih tahan terhadap gangguan eksternal.

Rantai pasok global menjadi isu penting karena kelancaran distribusi bahan baku, komponen, energi, hingga produk jadi sangat menentukan stabilitas industri. Gangguan pada salah satu mata rantai dapat memengaruhi harga, produksi, investasi, dan kesempatan kerja di banyak negara. Bagi negara-negara berkembang, kolaborasi yang lebih erat dapat membuka ruang untuk memperluas nilai tambah di dalam negeri.

Pengalaman Kerja Sama BRICS

Guo menyatakan bahwa BRICS telah lama membangun kerja sama dalam agenda industrialisasi. Salah satu wujudnya ialah pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru serta Pusat Kompetensi Industri BRICS. Inisiatif tersebut dinilai telah menghasilkan capaian nyata dalam penguatan kemampuan industri di antara negara anggota.

China juga menyampaikan kesiapan untuk melanjutkan penyelarasan industri dan pengembangan kapasitas. Arah ini sejalan dengan agenda BRICS yang ingin mendorong pembangunan berkelanjutan, inovasi, dan peningkatan daya tahan ekonomi di tengah perubahan geopolitik maupun persaingan teknologi global.

Bagi Indonesia, kerja sama semacam ini berkaitan dengan strategi memanfaatkan sumber daya untuk mendukung pembangunan jangka panjang. Prabowo menyebut Indonesia memiliki modal berupa mineral kritis dan logam tanah jarang, potensi energi terbarukan yang dibutuhkan teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta kawasan hutan yang menjadi aset bagi masa depan.

Potensi tersebut dapat memberi nilai lebih apabila ditopang kapasitas pengolahan, teknologi, pembiayaan, tenaga kerja terampil, dan akses pasar. Karena itu, penguatan hubungan industri di BRICS tidak hanya berbicara tentang perdagangan antarnegara, tetapi juga tentang peluang membangun ekosistem produksi yang saling mendukung.

Posisi Indonesia dan Negara-Negara Global South

Prabowo menilai tantangan yang dihadapi Indonesia tidak berdiri sendiri. Negara-negara BRICS dan banyak anggota Global South sama-sama berhadapan dengan kebutuhan investasi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri, ketahanan energi, serta perubahan pola ekonomi dunia.

Atas dasar itu, ia mendorong pemanfaatan bersama atas sumber daya, kapasitas manufaktur, keahlian teknologi, dan pasar yang dimiliki masing-masing negara. Kerja sama yang lebih terhubung diharapkan dapat memperbesar investasi, memperkuat fondasi industri, membuka kesempatan kerja, dan memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat.

BRICS dipandang memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Dengan sumber daya dan skala ekonomi yang besar, kelompok ini berpeluang meningkatkan perannya dalam rantai nilai global. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kemampuan anggota untuk menerjemahkan kesamaan kepentingan menjadi proyek, investasi, transfer pengetahuan, serta hubungan dagang yang konkret.

Agenda KTT BRICS ke-18

KTT BRICS ke-18 mengusung empat tema utama: ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Keempat pilar itu dibahas dalam konteks meningkatnya tantangan internasional, termasuk ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi ekonomi dunia.

Forum di New Delhi tersebut dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Brasil mengirim Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sedangkan Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud. BRICS juga melibatkan negara mitra dalam kerangka kerja samanya, termasuk Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.

Saat ini BRICS mencakup 11 negara: Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok ini mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, serta 26 persen perdagangan global.

Besarnya skala tersebut menjadikan pembahasan mengenai rantai pasok dan industrialisasi memiliki arti strategis. Dukungan China terhadap gagasan Indonesia memperlihatkan adanya ruang bagi BRICS untuk memperdalam kerja sama ekonomi yang lebih terarah, terutama dalam upaya memperkuat kemampuan negara berkembang menghadapi perubahan global.

Frequently Asked Questions

What is China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matter?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rina Ramadhan - atapkitadonasi.com

Rina Ramadhan - atapkitadonasi.com

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.