Humaniora

Facing Challenges: Kemendukbangga: Pentingnya peran ayah tak bisa digantikan oleh AI

Kemendukbangga: Peran Ayah Tidak Bisa Digantikan Teknologi

Facing Challenges – Dalam upacara senam sehat yang diadakan di Yogyakarta sebagai bagian dari perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33, Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga), Budi Setiyono, menyoroti pentingnya kehadiran ayah dalam proses pengasuhan anak. Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi semakin cangih dan kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, peran seorang ayah tetap tidak bisa digantikan oleh alat-alat digital tersebut.

Budi menjelaskan, tantangan utama yang dihadapi keluarga Indonesia saat ini bukan lagi terkait masalah fisik, melainkan berkaitan dengan pengaruh algoritma digital. Menurutnya, dominasi algoritma ini bisa menggeser peran orang tua, khususnya ayah, dalam membentuk karakter anak. “Dulu kita menghadapi penjajahan yang bersifat fisik, sekarang kita menghadapi bentuk penjajahan baru, yakni pengaruh algoritma digital yang mengubah cara berpikir dan bertindak anak-anak,” ujar Budi dalam sambutannya.

Pengaruh Teknologi pada Pendidikan Anak

Dalam wawancara, Budi memaparkan bahwa algoritma digital, media sosial, dan AI kini menjadi bagian integral dari kehidupan anak. Hal ini berpotensi mengikis kualitas hubungan antaranggota keluarga dan melemahkan nilai-nilai kebangsaan yang sudah terbentuk sejak masa perjuangan kemerdekaan. “Kemunculan teknologi dan kecerdasan buatan berpotensi mengurangi intensitas hubungan dalam keluarga sekaligus melemahkan pondasi nilai-nilai sosial yang selama ini menjadi kekuatan bangsa,” tambahnya.

“Ayah tidak hanya bertugas mencari nafkah, tetapi juga hadir mendampingi anak, memberikan keteladanan, perlindungan, serta membimbing mereka menghadapi berbagai ancaman zaman, mulai dari penyalahgunaan narkoba, kekerasan remaja, seperti klitih, tawuran pelajar, hingga paparan radikalisme dan penyimpangan perilaku,” ujar Budi.

Ia menekankan bahwa kehadiran ayah adalah benteng pertama dalam membangun karakter dan ketahanan anak. Tanpa bimbingan langsung dari ayah, anak mungkin lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan digital. “Fungsi ayah dalam mendidik anak tidak bisa diabaikan. Mereka menjadi pengarah utama dalam mengembangkan sikap tanggung jawab, empati, serta kesadaran akan norma-norma sosial,” jelas Budi.

Dalam konteks Harganas ke-33 tahun 2026 yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir,” Budi berharap perayaan ini bukan sekadar seremonial. Ia menilai momen ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang peran ayah dalam proses pendidikan anak. “Tema ini disampaikan agar masyarakat memahami bahwa kehadiran ayah adalah faktor penting yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, terlepas seberapa cangih alat tersebut,” tambahnya.

Persiapan untuk Tantangan Masa Depan

Budi menyoroti bahwa di era digital, anak-anak berpotensi terpapar berbagai risiko, seperti paparan informasi yang tidak akurat atau penggunaan media sosial untuk menyimpang dari nilai-nilai tradisional. “Kehadiran ayah menjadi pengingat bahwa kehidupan harus diimbangi dengan kebijakan yang mengedepankan manusia,” ujarnya.

Menurutnya, peran ayah tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup pengasuhan emosional dan pendidikan moral. “Dengan hadirnya ayah, anak merasa dijaga, didukung, dan memiliki rasa percaya diri untuk menghadapi dunia luar,” papar Budi. Ia menekankan bahwa teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti.

Dalam upacara tersebut, Budi juga meminta masyarakat untuk lebih peduli pada kondisi keluarga. “Perayaan Harganas ini diharapkan bisa memicu perubahan positif dalam struktur keluarga, khususnya dalam memperkuat peran ayah,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran ayah dalam keluarga adalah kunci untuk menjamin kelangsungan pendidikan anak secara utuh.

Menyadari adanya risiko anak tumbuh tanpa bimbingan ayah, pemerintah berupaya membangun sistem pendukung dari lingkungan sosial. Budi mengungkapkan bahwa lembaga seperti guru, tetangga, keluarga besar, tokoh agama, pengasuh, serta pemimpin masyarakat diharapkan mampu mengambil peran sebagai pengganti ayah. “Sosok-sosok ini bisa menjadi benteng kedua untuk melindungi anak dan mengarahkan mereka dengan nilai-nilai yang tepat,” jelasnya.

Kemendukbangga juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga masyarakat, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak. “Peran ayah tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan pembentukan karakter anak. Jika ayah tidak bisa hadir, maka kita harus memastikan bahwa sistem pendukung lainnya bisa mengambil alih tugas tersebut,” tutur Budi.

Langkah Strategis untuk Masa Depan

Budi Setiyono menyatakan bahwa perayaan Harganas 2026 menjadi kesempatan untuk refleksi dan tindakan nyata. “Kita perlu memperkuat keberadaan ayah dalam keluarga, agar anak-anak tidak hanya dibesarkan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai-nilai kehidupan yang manusiawi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran ayah dalam keluarga adalah pengingat bahwa manusia tetap menjadi pusat dari proses pendidikan dan pengasuhan.

Menurut Budi, penggunaan AI dan algoritma digital tidak sepenuhnya buruk, asalkan tidak menggantikan fungsi manusia. “Teknologi bisa memberikan kemudahan, tetapi kita harus tetap mengawasi pengaruhnya terhadap anak-anak. Apalagi dalam hal membentuk kepribadian yang kuat dan tangguh,” katanya. Ia menegaskan bahwa pendidikan keluarga harus menjadi fondasi utama sebelum anak menghadapi dunia luar.

Dalam pembahasan, Budi juga menyebutkan bahwa peran ayah mencakup pengambilan keputusan, pengasuhan emosional, serta pemberian contoh dalam berperilaku. “Anak yang dibesarkan oleh ayah memiliki kelebihan dalam mengembangkan rasa percaya, komunikasi yang baik, dan kesadaran akan tanggung jawab,” ujarnya. Hal ini menjadi alasan mengapa pemerintah menekankan keharusan ayah hadir dalam kehidupan anak-anak.

Sebagai penutup, Budi menekankan bahwa Harganas ke-33 bukan sekadar acara, tetapi juga momentum untuk menegaskan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari bangsa. “Tanpa keluarga yang harmonis, bangsa tidak akan mampu bertahan di tengah tantangan global yang semakin kompleks,” pungkasnya. Ia berharap peran ayah terus dijaga, karena mereka adalah elemen vital dalam membangun generasi muda yang tangguh dan bermoral tinggi.

Kemendukbangga menyoroti bahwa kehadiran ayah tidak hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga membantu mengurangi dampak negatif dari teknologi. “Dengan ayah yang aktif, anak tidak akan mudah terpengaruh oleh algoritma digital yang bisa memberi kesan sesat atau menyimpang dari nilai-nilai kebangsaan,” jelas Budi. Ia menegaskan bahwa peran ayah adalah satu-satunya yang tidak bisa digantikan, bahkan oleh kecerdasan buatan yang tercangih.

Indah Kurniawan

Indah Kurniawan berfokus pada penulisan konten edukatif tentang donasi online, filantropi, dan tren kebaikan digital. Di atapkitadonasi.com, Indah menyusun artikel berbasis riset ringan dan referensi tepercaya agar pembaca mendapatkan pemahaman yang utuh sebelum berdonasi. Ia percaya bahwa informasi yang benar dapat mencegah kesalahan dan meningkatkan dampak sosial.