Important News: Pezeshkian: Iran takkan berunding di bawah ancaman, blokade
Pezeshkian: Iran takkan berunding di bawah ancaman, blokade
Istanbul, Sabtu (25/4) – Masoud Pezeshkian, presiden Iran, mengatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukan perundingan dalam kondisi yang dipaksa, dikucilkan, atau dihukum. Pernyataan ini dikeluarkan saat ia berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui panggilan telepon, menurut keterangan resmi kepresidenan Iran. Ia menekankan bahwa kesepakatan dan suasana dialog yang sehat adalah kunci utama untuk hasil yang bermakna.
Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian menyebut bahwa upaya negosiasi sebelumnya justru memperdalam ketidakpercayaan rakyat Iran. Menurutnya, perundingan yang dilakukan bersamaan dengan penerapan sanksi, tekanan, dan blokade membuat publik semakin skeptis. “Negosiasi harus dilakukan dalam lingkungan yang kondusif,” tambah Pezeshkian dalam
sebuah pernyataan resmi
.
Pezeshkian juga menyoroti peran militer yang meningkat, menilainya semakin memperumit skenario perang yang sedang berlangsung. Ia berpendapat bahwa keberadaan pasukan militer di sekitar wilayah konflik melemahkan peluang untuk mencapai kesepakatan. Pernyataannya muncul tepat saat Pakistan berupaya memulai kembali pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat setelah ketegangan beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, putaran pertama perundingan di Islamabad dua minggu lalu tidak berhasil menyelesaikan masalah. Kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari dan menyebar ke Timur Tengah masih belum tercapai. Pergeseran situasi ini terjadi setelah gencatan senjata dua pekan yang dipimpin Pakistan pada 8 April, lalu diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump.
