Internasional

Special Plan: Pakar nilai RI harus jadi penggerak agenda kerja sama Asia-Eropa

Jakarta, Jumat

Special Plan – Teuku Rezasyah, seorang ahli hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, mengungkapkan bahwa Indonesia harus menjadi aktor utama dalam menggerakkan agenda kerja sama Asia-Eropa, bukan hanya sebagai penghubung. Menurutnya, negara ini perlu mengambil langkah strategis untuk meningkatkan perannya di tingkat global, terutama dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era kini. “Indonesia harus menjadi penggerak, bukan sekadar penengah, dalam mempercepat koordinasi antar negara-negara Asia dan Eropa,” jelas Rezasyah saat dihubungi ANTARA di Jakarta.

Memahami Tantangan Global

Rezasyah menekankan pentingnya Indonesia memahami berbagai tantangan bersama yang dihadapi oleh wilayah Asia dan Eropa hingga 2030. Dua isu utama yang harus diperhatikan, menurutnya, adalah perubahan iklim dan persaingan dalam pengelolaan sumber daya energi terbarukan serta bahan langka. “Negara-negara Asia-Eropa perlu bersama-sama menghadapi perubahan iklim, yang menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan, dan juga persaingan untuk mengakses dan mengolah energi bersih,” kata Rezasyah. Ia menambahkan bahwa permasalahan energi ini tidak hanya mengenai kebutuhan ekonomi, tetapi juga berdampak pada stabilitas geopolitik.

“Indonesia harus aktif dalam mengupayakan agenda kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam isu-isu strategis seperti ekonomi digital dan pembangunan berkelanjutan,” tegas Rezasyah.

Menguatkan Peran ASEAN

Menurut pakar tersebut, Indonesia juga perlu memperkuat peran ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berkualitas tinggi yang didukung oleh tata kelola yang baik. “ASEAN memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi, dan Indonesia harus memastikan bahwa kerja sama dalam forum tersebut mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” lanjutnya. Ia menilai bahwa dengan mempercepat progres integrasi ekonomi dan kebijakan bersama, ASEAN dapat menjadi fondasi kuat bagi kerja sama Asia-Eropa.

Koordinasi dalam ASEM

Rezasyah menyarankan bahwa Indonesia harus memastikan ASEM (Asia-Europe Meeting) percaya pada kinerjanya dalam menerapkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific. “ASEM harus melihat Indonesia sebagai mitra yang konsisten dalam menciptakan lingkungan keamanan yang kondusif, sekaligus mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam situasi di mana multilateralisme global sedang mengalami penurunan, kemitraan Asia-Eropa menjadi lebih relevan daripada sebelumnya.

“Sudah terbukti bahwa ASEM memiliki kualitas dialog yang baik, terutama saat WTO sedang buntu dalam menyelesaikan perdebatan perdagangan global. Jika negara-negara Asia-Eropa terlambat berkoordinasi, mereka akan kehilangan pengaruh di mata dunia,” jelas Rezasyah.

Strategi untuk Menguatkan Koneksi

Rezasyah menyoroti bahwa posisi Indonesia sebagai ‘jembatan’ strategis antara Asia dan Eropa dapat ditingkatkan dengan beberapa inisiatif. Ia menyebut bahwa daya tawar Indonesia yang tinggi, yang dihasilkan dari luas wilayah dan jaringan pelabuhan laut serta udara yang menyebar di berbagai pulau, memberikan peluang besar untuk menjadi pionir dalam integrasi regional. “Dengan memanfaatkan lokasi geografis yang unik, Indonesia bisa menjadi penggerak utama dalam mengoptimalkan konektivitas antar Asia dan Eropa,” lanjutnya.

Kebijakan Indonesia dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi, politik, dan lingkungan akan menjadi kunci keberhasilan. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan kerangka kerja yang lebih jelas, terutama dalam mengatasi hambatan teknis dan regulasi yang menghambat kerja sama. “Indonesia perlu menunjukkan komitmen nyata dalam menghadirkan solusi yang inklusif, baik untuk negara-negara Asia maupun Eropa,” imbuhnya.

Contoh dari Turki

Menurut Rezasyah, Turki bisa menjadi model yang layak dipelajari karena berhasil memanfaatkan posisi geografisnya sebagai penghubung strategis antara Eropa dan Asia. “Turki mampu memperkuat hubungan dengan negara-negara di kedua benua, dan Indonesia bisa mengikuti jejaknya dalam meningkatkan koordinasi,” katanya. Ia berharap Indonesia bisa menggunakan jaringan perdagangan, investasi, dan teknologi sebagai alat untuk mempercepat integrasi antar Asia dan Eropa.

Dalam konteks perubahan global, Rezasyah menilai bahwa ASEM tetap relevan, bahkan semakin penting. “Koordinasi antara Asia dan Eropa menjadi keharusan, terutama setelah terjadi kelangkaan energi dan potensi meluasnya konflik bersenjata di berbagai wilayah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ASEM harus menjadi platform yang aktif, bukan sekadar forum diskusi tanpa tindak lanjut.

“Negara-negara Asia-Eropa perlu meningkatkan kerja sama di sektor teknologi, perdagangan, dan kebijakan lingkungan. Jika tidak, mereka akan kewalahan menghadapi tantangan yang semakin rumit,” kata Rezasyah.

Potensi dan Tantangan di Depan

Rezasyah menilai bahwa keberhasilan Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai penggerak akan bergantung pada konsistensi dan kepercayaan dari negara-negara mitra. “Indonesia harus mampu menyeimbangkan antara kepentingan nasional dan kepentingan bersama. Jika berkinerja sesuai standar internasional, posisi Indonesia dalam ASEM akan lebih kuat,” ujarnya. Ia juga menekankan perlunya kerja sama lintas sektor, termasuk kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan institusi internasional.

Menurutnya, kerja sama Asia-Eropa tidak hanya penting untuk ekonomi, tetapi juga untuk stabilitas politik dan keamanan regional. “Perang di beberapa wilayah, serta sikap Amerika Serikat yang terkadang bersikap dominan, membuat keberlanjutan multilateralisme menjadi krusial. Indonesia harus menjadi pilar yang stabil dalam menghadirkan solusi,” tutupnya. Ia menilai bahwa dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.