Info Terbaru: Sosok Zainal Abidin Syah yang perjuangkan Irian Barat bagian NKRI
Sosok Sultan Zainal Abidin Syah, Pahlawan Nasional yang Berperan dalam Pengukuhan NKRI
Pada perayaan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta, Presiden RI Prabowo Subianto menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh. Salah satu penerima gelar tersebut adalah Sultan Zainal Abidin Syah, almarhum dari Maluku Utara, yang dianggap berjasa dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia Timur. Keputusan ini diambil melalui Keppres Nomor 116/TK/Tahun 2025.
Peran Sultan Zainal Abidin Syah dalam Sejarah NKRI
Zainal Abidin Syah, yang lahir di Soa-Sio, Tidore, pada 1912, dikenal sebagai “Penjaga Timur Indonesia” karena dedikasinya terhadap keutuhan wilayah bangsa. Ia mengenyam pendidikan di sekolah dasar Belanda di Ternate, lalu melanjutkan ke sekolah menengah Belanda atau MULO di Batavia (Jakarta). Setelah itu, ia menempuh studi di OSVIA Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1934, yang mempertahankannya sebagai pegawai negeri di tiga daerah, yaitu Ternate, Manokwari, dan Sorong.
“Irian Barat merupakan bagian Kesultanan Tidore,”
pidato yang disampaikannya pada 2 Maret 1949, menegaskan sikapnya mempertahankan wilayah Papua Barat sebagai bagian dari NKRI. Sikap ini ia tunjukkan kembali di Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949, saat menjadi satu dari 51 anggota parlemen yang menolak pengembalian Irian Barat kepada Belanda.
Perjuangan Politik dan Diplomasi untuk Kedaulatan NKRI
Berkat kontribusinya, Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibukota sementara di Soa-Sio, Tidore, pada 17 Agustus 1956. Zainal Abidin ditetapkan sebagai Gubernur Sementara melalui SK Presiden No. 142 Tahun 1956. Pada 1961, ia diangkat sebagai staf Departemen Dalam Negeri untuk mendukung Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), sebelum ditunjuk sebagai Gubernur Tetap Irian Barat melalui SK Presiden No. 220 Tahun 1961.
Sultan Zainal Abidin Syah meninggal di Ambon pada 4 Juli 1967. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha, lalu kerangkanya dipindahkan ke Soa-Sio Tidore pada 11 Maret 1986. Di sana, ia disemayamkan di Sonyine Salaka Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore. Nama beliau diabadikan sebagai nama jalan utama di Kecamatan Tidore Selatan, yakni Jalan Sultan Zainal Abidin Syah.
Dengan perjuangan yang berlangsung sepanjang hayat, Zainal Abidin Syah tetap menjadi simbol perlawanan terhadap upaya pemisahan wilayah Indonesia Timur dari NKRI. Kehadirannya dalam sejarah bangsa menegaskan peran penting Kesultanan Tidore dalam membangun keberadaan Irian Barat sebagai bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.
