Politik

Key Discussion: Penasihat Presiden Korsel temui Megawati bahas reunifikasi Korea

Penasihat Presiden Korsel Temui Megawati Bahas Reunifikasi Korea

Key Discussion – Jakarta, Jumat (ANTARA) – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan mantan Presiden Republik Indonesia (RI) ke-5, Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan dari Penasihat Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, yang didampingi Kim Soo Il. Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman Megawati di Menteng, Jakarta, dan membahas berbagai isu geopolitik, termasuk upaya untuk menggabungkan kembali dua Korea. Dalam sesi diskusi, Megawati dan Kim Soo Il berbagi wawasan mengenai hubungan antara kedua negara serta strategi yang dapat diterapkan untuk mewujudkan reunifikasi.

Dialog yang Dinamis dengan Peserta Berbahasa Indonesia

Pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah tokoh politik dan diplomat ini berlangsung cukup intens. Kim Soo Il, yang sebelumnya menjabat sebagai Konsul Kehormatan RI di Busan selama 14 tahun (1993–2007), menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan lancar, sehingga memudahkan alur percakapan. Usai saling berbagi cinderamata, Megawati secara santai memulai obrolan dengan menanyakan usia Kim Soo Il.

“Sekarang berapa usia Prof, Kim?” tanya Megawati dengan tawa. “Saya masih lebih muda, Ibu. Saya berusia 79 tahun,” jawab Kim sambil tersenyum.

Pertemuan dalam Konteks Peran Strategis Megawati

Sebagai bagian dari diskusi, Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal DPP PDIP, menjelaskan bahwa Megawati sering dianggap sebagai utusan khusus dalam upaya memperkuat hubungan dengan Korea Utara dan Korea Selatan. Ia juga menyebutkan bahwa sejak lama, Megawati dikenal sebagai penghubung antara kedua pihak, terutama karena permintaan dari pemimpin Korea Utara dan Selatan. Dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Hasto mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, Megawati kembali didorong untuk memainkan peran strategis dalam mendorong perdamaian di Semenanjung Korea.

Warisan Soekarno yang Terus Diwariskan

Pertemuan ini juga mengingatkan kembali peran penting Presiden Pertama RI, Soekarno, dalam hubungan dengan Korea Utara. Soekarno, yang menjalin persahabatan erat dengan Kim Il Sung, pemimpin pertama Korea Utara, memberikan bunga Kimilsungia, anggrek ungu, sebagai simbol kehangatan hubungan antara Indonesia dan Korea Utara. Bunga ini akhirnya menjadi bunga nasional Korea Utara, mengukir sejarah kebersamaan yang berlangsung sejak awal kemerdekaan.

Hasto menambahkan, hubungan yang terjalin antara Soekarno dengan Korea Utara terus berlanjut hingga Megawati menjadi presiden. Pada 2002, Megawati melakukan pertemuan dengan Kim Jong Il, putra Kim Il Sung, di Pyongyang. Kedekatan ini menjadi bentuk warisan politik yang diwariskan dari generasi ke generasi, menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga hubungan dengan dua negara yang pernah satu bangsa.

Kunjungan dan Penghargaan yang Menunjukkan Komitmen

Megawati, meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden, tetap aktif dalam upaya reunifikasi Korea. Sebagai bukti, ia pernah dua kali mengunjungi Korea Utara, pada April dan Oktober 2005, untuk membahas hubungan bilateral serta rencana penyatuan kedua negara. Selain itu, Megawati juga dianugerahi gelar profesor kehormatan oleh Seoul Institute of the Arts pada 2022, serta gelar doktor dari Korean Maritime University dan Mokpo National University di tahun 2015 serta 2017.

Prof Rokhmin Dahuri, Ketua DPP PDIP, mengatakan bahwa Megawati juga aktif dalam forum internasional, seperti DMZ International Forum on the Peace Economy di Seoul pada 2019. Di sana, ia menjadi pembicara utama yang membahas strategi perdamaian dan kembali bersatunya Korea. “Upaya Ibu Megawati dalam meneguhkan hubungan antara dua Korea menunjukkan komitmen yang kuat,” ujarnya.

Harmoni Budaya dan Nasionalisme yang Terus Berkembang

Sebagai bagian dari pembicaraan, Hasto juga menjelaskan bahwa Korea Utara dan Korea Selatan memiliki banyak kesamaan dalam aspek budaya, bahasa, dan sejarah. Perbedaan tersebut muncul akibat perang dingin, tetapi sifat kesatuan bangsa masih terus menjadi dasar untuk mencapai perdamaian. “Peran Ibu Megawati dalam memperkuat hubungan ini merupakan bentuk aktualisasi dari visi Bung Karno yang ingin mencegah perpecahan bangsa di Semenanjung Korea,” kata Hasto.

Dalam konteks ini, Megawati dilihat sebagai tokoh yang mewarisi semangat Soekarno dalam membangun kembali hubungan antar bangsa. Meskipun Perang Dingin telah berlalu, prinsip perdamaian dan persatuan tetap relevan, terutama dalam era globalisasi yang membutuhkan kerja sama lintas batas. Hasto menegaskan bahwa pertemuan dengan Kim Soo Il bukan hanya pertemuan diplomatik biasa, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan kerja sama yang selama ini telah dipupuk oleh Megawati sejak era Soekarno.

Perjalanan Relasi yang Terus Berlanjut

Sebagai penghubung antara dua Korea, Megawati terus menjaga komunikasi terbuka dengan pihak-pihak terkait, baik melalui kunjungan langsung maupun partisipasi dalam berbagai acara internasional. Gelar akademik yang diberikan kepada Megawati menunjukkan penghormatan dari pihak Korea Selatan, yang mengakui kontribusi besar perannya dalam membuka dialog antar bangsa. Pertemuan ini juga menjadi titik balik dalam upaya menjembatani perbedaan, mengingat sejarah yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Menurut Rokhmin, perjalanan hubungan Indonesia-Korea terus berkembang, baik dalam konteks geopolitik maupun budaya. Ia menekankan bahwa Megawati tidak hanya menjadi representasi politik, tetapi juga symbol keinginan untuk menjaga kerukunan antar bangsa. “Dengan Korsel, Ibu Megawati sangat dekat. Ia pernah diundang dalam pelantikan Presiden Korsel, yang menjadi bukti kepercayaan dan kerja sama yang terjalin,” kata Rokhmin.

Komitmen untuk Masa Depan Korea

Usai pertemuan, Megawati dan Kim Soo Il sepakat untuk terus memperkuat kerja sama dalam upaya menyelesaikan konflik di Semenanjung Korea. Hasto menyatakan bahwa dialog tersebut menjadi langkah awal dalam menyusun strategi yang lebih komprehensif, terutama dalam menghadapi tantangan geopolitik yang kian kompleks. “Kita harus tetap konsisten dalam mendorong perdamaian, karena itu adalah tujuan yang sudah ditetapkan sejak dulu,” ujarnya.

Pertemuan ini tidak hanya memperkuat ikatan antara PDIP dengan Korsel, tetapi juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam proses penyatuan dua Korea. Dengan sejarah yang kaya dan komitmen politik yang tak goyah, Megawati terus menjadi pilar utama dalam peran diplomatik yang melibatkan negara-negara Asia Tenggara dan Korea. Kesempatan ini diharapkan bisa menjadi langkah konkret menuju masa depan yang lebih harmonis bagi kedua negara.

Tegar Ananda

Tegar Ananda menulis tentang isu sosial, donasi, dan peran individu dalam menciptakan perubahan positif. Melalui atapkitadonasi.com, Tegar menghadirkan konten yang mendorong kesadaran sosial tanpa klaim berlebihan. Ia percaya bahwa setiap orang dapat berkontribusi, sekecil apa pun, jika dilakukan dengan cara yang tepat.