New Policy: BRI Perkuat Profitabilitas di Bawah Supervisi Danantara
New Policy – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali mencatatkan pencapaian signifikan dalam transformasi fundamentalnya. Melalui New Policy yang diterapkan, Perseroan berhasil menekan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) secara efektif. Pencapaian ini sejalan dengan agenda penguatan fundamental dan penciptaan nilai (value creation) yang didorong melalui Danantara di lingkungan BUMN. Strategi fokus pada peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) menjadi kunci keberhasilan BRI dalam mengoptimalkan struktur pendanaan.
Perbaikan struktur pendanaan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam mengelola biaya dana secara lebih optimal. Dengan New Policy yang konsisten diterapkan, Perseroan memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga profitabilitas, memperkuat daya saing, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dari jumlah tersebut, CASA (konsolidasian) kian mendominasi hingga mencapai Rp1.058,6 triliun atau setara dengan 68,07% dari total DPK, meningkat dibandingkan 65,77% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi Pendanaan Melalui New Policy
Efisiensi pendanaan juga terlihat dari penurunan cost of fund BRI yang turun dari 2,98% pada Triwulan I 2025 menjadi 2,33% pada Triwulan I 2026 atau turun sebesar 65 basis poin. Implementasi New Policy menjadi salah satu pendorong utama penurunan ini. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan bahwa penguatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) menjadi salah satu strategi utama dalam program transformasi yang tengah dijalankan Perseroan.
“Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan. Tingginya volume transaksi terjadi pada berbagai kanal digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI. Dengan fondasi yang semakin kuat, BRI dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan pengelolaan risiko.”
Ungkapan tersebut disampaikan oleh Hery Gunardi yang menekankan pentingnya transformasi digital dalam mendukung strategi CASA. Berbagai kanal digital yang disebutkan menjadi tulang punggung dalam meningkatkan volume transaksi nasabah, yang pada akhirnya berkontribusi positif terhadap struktur pendanaan bank. New Policy yang diterapkan telah memberikan hasil nyata dalam efisiensi operasional.
Kinerja Operasional yang Menguat
Penguatan struktur pendanaan tersebut turut menopang kinerja Perseroan secara keseluruhan. Hingga Triwulan I 2026, total aset BRI Group tumbuh 7,2% YoY mencapai Rp2.250 triliun, sementara kredit dan pembiayaan tumbuh 13,7% menjadi Rp1.562 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasian Perseroan meningkat 13,7% menjadi Rp15,5 triliun. Pencapaian ini menunjukkan bahwa New Policy berhasil diterjemahkan menjadi hasil konkret bagi pemegang saham.
Angka-angka tersebut menunjukkan konsistensi pertumbuhan yang sehat di berbagai lini bisnis BRI. Pertumbuhan aset yang stabil disertai dengan peningkatan kredit yang lebih signifikan mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan. Sementara itu, peningkatan laba bersih menunjukkan bahwa efisiensi biaya dana berhasil diterjemahkan menjadi keuntungan yang lebih besar bagi pemegang saham. New Policy terbukti menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Peran Danantara dalam Transformasi BUMN
Sejalan dengan hal tersebut, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pelaksana BUMN Dony Oskaria menyampaikan bahwa Danantara terus mendorong transformasi menyeluruh pada perusahaan-perusahaan BUMN agar memiliki fundamental bisnis yang kuat dan berkelanjutan. Dalam konteks New Policy, Danantara berperan sebagai katalisator perubahan yang memastikan BUMN dapat beradaptasi dengan dinamika ekonomi global. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kuantitatif, tetapi juga kualitas fundamental.
“Danantara hadir untuk memastikan BUMN tidak hanya tumbuh dari sisi skala bisnis, tetapi juga semakin sehat dari sisi tata kelola, efisiensi, dan manajemen risiko. Dengan fondasi yang kuat, BUMN akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.”
Menurut Dony, penguatan risk management dan tata kelola merupakan fondasi utama agar BUMN mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global. Ia menambahkan bahwa pendekatan holistik ini diperlukan untuk memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga berkualitas. New Policy yang diterapkan oleh Danantara menjadi kerangka kerja yang komprehensif untuk transformasi BUMN.
“Kami ingin membangun risk management dan tata kelola yang kuat karena hanya perusahaan yang dikelola dengan baik yang dapat sustain di masa depan,” pungkasnya.
Komitmen Danantara dalam mendorong transformasi BUMN ini sejalan dengan visi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem bisnis yang tangguh. BRI menjadi salah satu contoh nyata bagaimana strategi yang tepat dapat menghasilkan dampak positif terhadap kinerja perusahaan, sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional melalui efisiensi dan inovasi yang berkelanjutan. Melalui New Policy, BRI dan BUMN lainnya siap menghadapi tantangan masa depan dengan fondasi yang lebih kuat.