Humaniora

Key Strategy: Mendiktisaintek: Prodi dikembangkan sesuai kebutuhan bukan ditutup

Mendiktisaintek: Prodi dikembangkan sesuai kebutuhan bukan ditutup

Key Strategy – Pemerintah mengemukakan bahwa program studi (prodi) di institusi pendidikan tinggi tidak akan ditutup, melainkan diperbarui secara terus-menerus berdasarkan kebutuhan pasar dan kemajuan teknologi. Hal ini dijelaskan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, yang mengungkapkan kebijakan tersebut dalam rangka menjawab isu tentang penutupan prodi yang tidak relevan. Menurutnya, perubahan dan adaptasi dalam kurikulum perguruan tinggi bukanlah tindakan mengurangi jumlah program, tetapi memastikan pendidikan tetap sesuai dengan dinamika dunia kerja.

Kebutuhan Industri Menjadi Pedoman Pengembangan Prodi

Kebijakan yang diusung oleh Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjadi mitra dalam memenuhi tantangan industri. Ia mencontohkan bidang teknik elektro, di mana penggunaan internet of things (IoT) kini menjadi kebutuhan utama. “Pada masa lalu, teknologi IoT belum dikenal, namun kini sudah menjadi bagian integral dari bidang teknik elektro. Dengan demikian, kebijakan yang diusung bukanlah penutupan prodi, tetapi kolaborasi bersama perguruan tinggi untuk memastikan materi yang diajarkan selalu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

“Dulu belum ada IoT, sekarang ada IoT. Jadi alih-alih menutup prodi, yang kita dorong adalah bersama-sama dengan perguruan tinggi itu membuat supaya prodi ini meng-update secara berkala relevansi antara apa yang diajarkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,”

Mendiktisaintek Brian menjelaskan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menciptakan kebutuhan baru di industri, tetapi juga memaksa perguruan tinggi untuk mengubah struktur pendidikan. Ia menegaskan bahwa adaptasi ini dilakukan dengan cara memperbarui kurikulum secara berkala, bukan menghentikan program tertentu. “Industri-industri baru seperti kecerdasan buatan (AI) memerlukan perhatian lebih dari perguruan tinggi, karena mereka menjadi acuan utama dalam menyesuaikan prodi dengan kebutuhan masyarakat,” kata Brian.

Perkembangan Teknologi dan Kebutuhan Pendidikan

Menurut Brian Yuliarto, pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak langsung pada bidang-bidang tertentu yang berkembang pesat. Dengan adanya teknologi seperti AI, perguruan tinggi harus segera menyesuaikan kurikulumnya agar lulusan mampu bersaing di pasar kerja yang semakin berubah. “Perkembangan teknologi seperti IoT, AI, hingga kuantum komputasi memicu lahirnya industri-industri baru. Prodi harus terus-menerus diperbarui agar mampu menyediakan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri di masa depan,” ujarnya.

“Sehingga, (perkembangan) industri maupun perkembangan teknologi itu kemudian menjadi referensi bagi setiap program studi yang ada di Indonesia, untuk melakukan terus-menerus perbaikan. Ini yang disebut sebagai continuous improvement,”

Brian menjelaskan bahwa proses pengembangan prodi ini tidak hanya dipengaruhi oleh tren teknologi, tetapi juga oleh perubahan kebutuhan masyarakat. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi perlu menjadi institusi yang proaktif, tidak pasif. “Perguruan tinggi tidak bisa hanya mengajar sesuai pola lama, karena industri kini sudah bergerak cepat. Mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ini, baik melalui penambahan mata kuliah baru maupun pendekatan pengajaran yang lebih praktis,” kata Brian.

Dalam konteks ini, Mendiktisaintek menyoroti pentingnya kemitraan antara pemerintah dan perguruan tinggi. Ia menambahkan bahwa pengembangan prodi tidak bisa dilakukan secara terpisah dari kebutuhan industri, karena fokus utama pendidikan tinggi adalah menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan inovasi. “Kerja sama ini memastikan bahwa prodi tidak hanya relevan saat ini, tetapi juga bisa beradaptasi dengan kebutuhan di masa depan,” ujarnya.

Perbandingan dengan Negara-Negara Maju

Brian juga membandingkan pola pengembangan prodi di Indonesia dengan negara-negara maju. Ia mengatakan bahwa di negara-negara seperti Amerika Serikat atau Jerman, pembaruan kurikulum menjadi hal yang rutin dilakukan. “Di negara-negara maju, pembaruan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti ini dilakukan setiap dua hingga empat tahun sekali. Contohnya, teknologi AI yang muncul secara cepat memaksa perguruan tinggi untuk segera menyesuaikan prodi mereka agar lulusan memiliki keterampilan yang dibutuhkan di industri,” tutur Brian.

“Misalnya ada AI, bagaimana nih AI ini? Ada IoT kemudian ke depan ada kuantum komputasi. Kita harus ubah dong supaya nanti lulusannya ketika lulus, dia bekerja, sesuai dengan perkembangan teknologi yang empat tahun lagi dipakai. Alih-alih kita menutup, kita justru mengembangkan,”

Menurutnya, perguruan tinggi di Indonesia perlu memiliki mekanisme yang efektif untuk mengikuti perubahan teknologi dan industri. “Dengan mengembangkan prodi secara terus-menerus, kita bisa memastikan bahwa lulusan tidak ketinggalan zaman. Mereka akan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan baru dan berkontribusi pada kemajuan bangsa,” jelas Brian.

Brian Yuliarto juga menyoroti pentingnya pendidikan tinggi berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten. Ia menegaskan bahwa pengembangan prodi harus disertai dengan peningkatan kualitas pendidikan, baik dalam konten maupun metode pengajaran. “Kita tidak hanya menutup prodi yang tidak relevan, tetapi juga mendorong perguruan tinggi untuk terus-menerus meningkatkan kualitas kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan pasar dan peradaban ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Dengan pendekatan ini, Brian mengharapkan perguruan tinggi mampu menjadi tempat pembelajaran yang dinamis, bukan statis. Ia menekankan bahwa perubahan harus menjadi bagian dari proses pendidikan, sehingga lulusan tidak hanya memahami konsep yang telah ada, tet

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.