Politik

What Happened During: ITDC Bali olah limbah jadi air bersih, Komisi VII dorong jadi model Nasional

What Happened During: ITDC Bali’s Waste-to-Water Model, DPR Komisi VII Pushes National Adoption

What Happened During – Nusa Dua, Bali (ANTARA) – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), telah menunjukkan inisiatif berkelanjutan dalam mengubah limbah menjadi air bersih di kawasan Nusa Dua. Upaya ini mendapat perhatian serius dari Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menilai proyek tersebut layak dijadikan model nasional dalam pengelolaan sumber daya air dan lingkungan. Dengan memanfaatkan teknologi sirkular, ITDC membuktikan bahwa limbah tidak lagi menjadi masalah, melainkan peluang untuk menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan.

Peninjauan oleh DPR RI dan Harapan sebagai Model Nasional

Dalam kunjungan kerja reses Selasa lalu, rombongan anggota Komisi VII DPR mengecek langsung proses konversi limbah menjadi air bersih dan memanfaatkan sampah di kawasan Lagoon Nusa Dua, Kabupaten Badung. Evita Nursanty, salah satu wakil ketua komisi, mengapresiasi inovasi ini sebagai solusi untuk daerah destinasi wisata yang sering menghadapi keterbatasan akses air tawar. “Proyek ini menunjukkan bagaimana kebutuhan air bersih di Bali bisa dipenuhi secara mandiri dan berkelanjutan,” kata Evita.

“Dengan sistem ini, limbah cair dari industri pariwisata bisa dikelola secara efisien. Tidak hanya mengurangi polusi, tetapi juga menghasilkan air layak pakai untuk berbagai kebutuhan,” papar Evita Nursanty saat melihat langsung operasional di lokasi proyek.

Inovasi Teknologi dan Efisiensi Pengelolaan Sumber Daya

Kawasan Lagoon Nusa Dua menjadi contoh nyata penerapan teknologi sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya berguna. Proses ini melibatkan pengolahan air laut menjadi air bersih melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), serta konversi limbah organik menjadi kompos. Dengan sistem ini, ITDC berhasil mengurangi volume limbah sekaligus meminimalkan penggunaan air tawar, yang menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pariwisata.

“Proses pengolahan limbah cair mencapai kapasitas 4.000 meter kubik air bersih per hari, sedangkan limbah organik diubah menjadi kompos untuk bahan pupuk alami,” jelas Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, dalam menjelaskan detail proyek.

Proyek ini didukung oleh investasi sekitar Rp120 miliar melalui kemitraan dengan pihak swasta. Teknologi SWRO yang digunakan mampu memisahkan garam dari air laut dengan tekanan osmotik, sehingga menghasilkan air bersih yang bisa dipakai untuk konsumsi dan kebutuhan perhotelan. What Happened During ini juga menunjukkan keberhasilan BUMN dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pengembangan ekonomi daerah.

Potensi Ekonomi dan Manfaat Bagi Masyarakat

Anggota Komisi VII DPR menyoroti manfaat ekonomi dari proyek ini. Dengan mengurangi ketergantungan pada air tawar, perhotelan dan villa di sekitar Lagoon Nusa Dua dapat menghemat biaya operasional. Selain itu, produksi kompos dari sampah organik memberi nilai tambah, karena bahan tersebut bisa digunakan sebagai pupuk ramah lingkungan. What Happened During ini berdampak positif pada ekosistem lokal dan keberlanjutan industri pariwisata Bali.

Kawasan Lagoon Nusa Dua memiliki kolam penampungan limbah cair seluas 16 hektare yang dihubungkan ke jaringan pipa untuk melayani 21 hotel berbintang dan villa. Proses penyaringan limbah melalui berbagai tahap memastikan air yang dihasilkan layak digunakan, menjadikan proyek ini sebagai contoh konkrit penerapan model lingkungan dan ekonomi yang seimbang.

Ini menunjukkan bahwa What Happened During di Nusa Dua bukan hanya pengolahan teknis, tetapi juga langkah strategis untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah wisata. Proyek ini berpotensi menjadi referensi bagi kawasan lain di Indonesia yang ingin mengadopsi pendekatan serupa untuk menekan dampak lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam.

Fitri Putri

Fitri Putri adalah penulis yang mengangkat tema kepedulian sosial, zakat, dan inspirasi kebaikan sehari-hari. Melalui pendekatan yang humanis dan membumi, Fitri menyajikan konten yang mendorong pembaca untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Ia aktif menyuarakan pentingnya berbagi secara konsisten, tidak hanya saat momentum tertentu.