Humaniora

PPIH: Calon haji tertua di Aceh berusia 101 tahun dan termuda 15 tahun

PPIH: Calon Haji Tertua di Aceh Berusia 101 Tahun dan Termuda 15 Tahun

PPIH – Banda Aceh menjadi salah satu pusat pengelolaan ibadah haji yang tercatat dengan jumlah peserta yang cukup signifikan. Petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) Embarkasi Aceh melaporkan bahwa di antara jamaah calon haji yang diberangkatkan tahun ini, terdapat dua kelompok usia yang berbeda jauh. Jamaah tertua tercatat berusia 101 tahun, sementara jamaah termuda berumur 15 tahun. Kedua individu ini menjadi perwakilan dari kelompok usia ekstrem dalam program haji tahunan provinsi Aceh.

Kloter Tertentu dan Distribusi Peserta

Ketua PPIH Embarkasi Aceh, Arijal, mengungkapkan bahwa jamaah calon haji tertua, yang tergabung dalam Kloter 4, bernama Ramlah Sali. Ia berasal dari Kota Langsa dan berhasil mengikuti ibadah haji meski berusia di atas 100 tahun. Sementara itu, jamaah termuda, Muhammad Al-Faruq Ad-Dawami, berada dalam Kloter 14 dan berasal dari Kabupaten Bener Meriah. “Pemenuhan syarat usia adalah salah satu indikator penting dalam penyelenggaraan haji, yang menunjukkan komitmen kita untuk menerima berbagai kalangan,” jelas Arijal.

“Calon haji tertua berusia 101 tahun, tergabung Kloter 4, bernama Ramlah Sali. Sedangkan usia termuda 15 tahun, tergabung dalam Kloter 14, bernama Muhammad Al-Faruq Ad-Dawami,”

Menurut Arijal, total peserta haji yang diberangkatkan dari Aceh mencapai 5.500 orang. Angka ini mencakup jamaah dan petugas kloter, dengan distribusi seimbang antara laki-laki dan perempuan. Lebih tepatnya, jumlah jamaah laki-laki sebanyak 2.174 orang, sedangkan perempuan mencapai 3.326 orang. Para jamaah dibagi ke dalam 14 kelompok terbang (kloter), masing-masing dengan jumlah peserta yang berbeda. Kota Banda Aceh menjadi wilayah yang paling banyak mengirimkan jamaah, yaitu 692 orang, sementara Simeulue hanya menyumbang 27 orang.

Arijal juga menyebutkan bahwa distribusi usia jamaah menunjukkan pola yang menarik. Dari total peserta, sekitar 57,8 persen berada dalam kategori usia produktif dengan kondisi fisik stabil. Selanjutnya, sebanyak 41,7 persen jamaah berusia di atas 60 tahun, dan 2,7 persen merupakan lansia yang berusia 80 tahun ke atas. “Kita perlu memastikan bahwa semua jamaah, terlepas dari usia, menerima perlakuan yang optimal selama proses haji,” tambahnya.

Proses Pelayanan dan Penyelenggaraan

PPIH Embarkasi Aceh menjelaskan bahwa seluruh proses penyelenggaraan haji tahun ini berlangsung secara terpusat di Asrama Haji Embarkasi Aceh. Proses ini mencakup beberapa tahapan penting, seperti penerimaan jamaah, pemeriksaan kesehatan akhir, distribusi dokumen perjalanan, pembagian biaya hidup, serta penyediaan konsumsi dan akomodasi selama pemberangkatan. Pemberangkatan dilakukan secara bertahap, mulai dari 6 Mei hingga 20 Mei 2026, melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar.

Menurut Arijal, keterlibatan seluruh instansi terkait, baik vertikal maupun horisontal, menjadi kunci sukses dalam memberikan layanan yang prima. “Kerja sama lintas sektor memastikan bahwa semua aspek penyelenggaraan haji dapat dipenuhi dengan baik,” ujarnya. Selain itu, Arijal menekankan bahwa petugas kloter tidak hanya bertugas sebagai pengantar, tetapi juga sebagai pendamping dan pelindung bagi jamaah, terutama yang berusia tua, memiliki risiko tinggi, atau mengalami disabilitas.

“Seluruh jamaah dibagi dalam 14 kloter, diterbangkan melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar. Pemberangkatan dilakukan secara bertahap mulai 6 Mei hingga 20 Mei 2026,”

PPIH berupaya memastikan bahwa pelayanan haji tetap humanis dan ramah. Khususnya untuk jamaah lansia, yang memiliki kebutuhan spesifik selama perjalanan. “Kita harus siap memberikan layanan yang maksimal, sigap, dan penuh perhatian, terutama bagi jamaah yang rentan mengalami kesulitan,” kata Arijal. Ia juga menyebutkan bahwa para petugas dituntut untuk selalu mampu menjaga kualitas pelayanan sepanjang proses, mulai dari pendaftaran hingga proses keberangkatan.

Dalam menyambut acara haji, PPIH berkolaborasi dengan berbagai stakeholder pendukung untuk memastikan setiap aspek layanan berjalan lancar. Arijal menambahkan bahwa langkah-langkah ini juga dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan jamaah selama perjalanan. “Kita ingin setiap jamaah merasa didukung sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional, sebelum dan selama ibadah haji dilaksanakan,” pungkasnya.

Keberagaman usia dalam calon haji menjadi indikasi bahwa ibadah haji merupakan kegiatan yang inklusif dan mencakup berbagai kalangan masyarakat. Dari kota-kota besar hingga daerah terpencil, peserta haji Aceh menunjukkan partisipasi yang tinggi. Arijal berharap, dengan persiapan yang matang, program haji tahun ini bisa memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh jamaah, terlepas dari usia atau kondisi fisik mereka.

Distribusi peserta haji juga menggambarkan keberagaman geografis dan demografi Aceh. Wilayah seperti Banda Aceh yang menjadi pusat utama haji, serta daerah seperti Simeulue yang jumlah pesertanya lebih sedikit, memperlihatkan bahwa setiap kota memiliki peran penting dalam menyumbang jumlah jamaah. “Ini menunjukkan koordinasi yang baik antar daerah, serta keseragaman dalam memenuhi syarat haji,” ujar Arijal.

Kelompok usia lansia yang berjumlah 2,7 persen menjadi perhatian khusus dalam penyelenggaraan haji. Para jamaah ini perlu didampingi secara intensif, terutama dalam segi kesehatan dan keselamatan selama perjalanan. Sementara jamaah muda, seperti Muhammad Al-Faruq, menjadi representasi dari generasi muda Aceh yang aktif dalam mengikuti ibadah haji. “Kita juga ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan pengalaman yang sama menariknya dengan jamaah berusia lebih tua,” tambah Arijal.

Dengan adanya jamaah dari berbagai usia, PPIH Embarkasi Aceh menegaskan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis dan sosial. Proses pemberangkatan yang berlangsung selama 15 hari, serta penyesuaian layanan terhadap kebutuhan khusus, adalah bukti komitmen untuk menciptakan pengalaman haji yang optimal. “Semua tahapan harus dikoordinasikan dengan cermat agar jamaah dapat beribadah tanpa hambatan,” pungkas Arijal.

Rina Wibowo

Rina Wibowo fokus pada penulisan konten edukasi donasi dan inspirasi berbagi. Melalui artikelnya di atapkitadonasi.com, ia membantu pembaca memahami berbagai bentuk bantuan sosial serta cara menyalurkannya secara tepat. Rina percaya bahwa informasi yang jelas dapat mendorong lebih banyak orang untuk berbuat kebaikan.