Bakti sang anak dan dedikasi petugas mengawal asa Fuadah berhaji
Bakti sang anak dan dedikasi petugas – Telah berlangsung selama setengah dekade, harapan Tsamrotul Fuadah (53) akhirnya menjadi nyata. Di Makkah, ia merasakan emosi yang tak terucapkan ketika melihat Ka’bah dengan mata penuh air. Berbaring di kursi roda di tengah area Masjidil Haram, Fuadah merapal asma Allah dengan hikmat, menikmati momen yang terasa begitu berharga. Perjalanan panjang ke Baitullah ini tak hanya menjadi bukti kesabaran, tapi juga kekuatan batin yang diukir selama setahun setelah kehilangan sang suami. “Saya tidak bisa melukiskan perasaan saya saat melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, terutama karena semangat anak saya yang membuktikan baktinya kepada ibunya,” kata Fuadah, dengan suara bergetar saat ditemui di Makkah.
Perjalanan menuju Baitullah
Fuadah, seorang guru di SD swasta di Ciputat, mengawali perjalanan haji dengan semangat tinggi bersama suaminya yang tercinta. Namun, nasib berubah tiba-tiba pada 24 Desember 2024, saat sang suami meninggal dunia akibat serangan jantung. Bukan hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan peluang untuk ikut berhaji bersama. Meski demikian, keberadaannya di Tanah Suci tak berakhir. Putra bungsunya, Muhammad Amri Lubab (24), menggantikan posisi ayahnya melalui skema pelimpahan porsi. Hal ini menandai awal dari tantangan baru yang harus dihadapi.
Perjalanan menuju Makkah penuh dengan harapan, tetapi ujian baru muncul tepat sehari sebelum keberangkatan. Pada pagi hari 22 April, saat acara pelepasan jamaah calon haji di Masjid Islamic Center BSD, insiden tak terduga terjadi. Fuadah, yang berada di barisan depan rombongan, tak menyadari adanya anak tangga yang menurun. Satu langkah yang keliru menyebabkan ia terjatuh, mengakibatkan harus dievakuasi dengan kursi roda dan ambulans. Suasana hati yang sebelumnya penuh optimisme langsung berubah menjadi gelisah.
Peristiwa yang Mengubah Nasib
Di bawah tekanan kekhawatiran, Fuadah menjalani serangkaian pemeriksaan medis di asrama haji Cipondoh hingga RSUD Kota Tangerang. Awalnya, diagnosis menunjukkan adanya robekan otot yang berpotensi menghentikan impian berhajinya. Namun, keberanian dan keyakinan dalam beribadah membuatnya tetap berusaha. Tim medis akhirnya menyatakan bahwa Fuadah memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan udara. “Saat dokter membacakan bahwa istitha’ah saya tetap diberlakukan, dan saya bisa terbang, semuanya ikut menangis terharu. Teman-teman di asrama semua ikut menangis,” kenangnya sambil menyeka air mata.
Dengan dukungan dari petugas kloter, Fuadah diberi fasilitas kursi kelas bisnis di pesawat Garuda Indonesia untuk menjaga kenyamanan kakinya. Meski tidak bisa berjalan, ia tetap bersemangat menghadapi setiap tahap perjalanan. Setibanya di Madinah, Fuadah langsung dirujuk ke Saudi German Hospital. Hasil rontgen lanjutan mengungkapkan bahwa tulang di bawah lututnya mengalami patah melingkar. Karena kondisi fisik yang membutuhkan penanganan intensif, ia menjalani operasi selama lima setengah jam di Madinah. Proses pemulihan pun berlanjut dengan bantuan tim fisioterapi.
Pengorbanan dan Keberhasilan
Dari rasa sakit hingga kembali berdiri, Fuadah menggambarkan perjalanan yang penuh dedikasi. Di tengah keterbatasan fisik, ia tetap menjalani ibadah haji dengan penuh semangat. Tak hanya keberanian dirinya, tetapi juga pengorbanan sang anak yang menjadi pengganti ayahnya dalam melengkapi perjalanan ke Tanah Suci. Muhammad Amri Lubab, sebagai putra bungsu, menunjukkan komitmen luar biasa dengan membantu menjaga kesehatan ibunya selama perjalanan.
Kisah Fuadah juga menyoroti peran petugas yang tak terlepas dari keberhasilan ibadahnya. Dari proses evakuasi hingga perawatan medis, mereka memberikan dukungan yang menginspirasi. Sebuah pengorbanan yang menggambarkan bagaimana doa, perjuangan, dan kebersamaan bisa mengubah nasib seseorang. Meski harus menghadapi rintangan fisik, Fuadah tetap menyelesaikan hajinya dengan hati yang penuh syukur. “Kalau saya sudah dipanggil oleh Yang Mempunyai Rumah, insya Allah saya akan mendapatkan pelayanan yang baik,” ujarnya dengan suara penuh haru.
Di Makkah, Fuadah menikmati setiap momen dengan penuh keberanian. Bakti sang anak dan dedikasi petugas tidak hanya membawa impian kembali hidup, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuatan hati bisa mengatasi segala hambatan. Dari seorang guru yang berjuang untuk menjalani umrah wajib hingga mimpinya terwujud, Fuadah menggambarkan sebuah perjalanan yang menggabungkan keberhasilan dan ketahanan. Kehadirannya di Baitullah menegaskan bahwa kisah perjuangan manusia tidak pernah berakhir, tetapi berlanjut dalam bentuk ibadah yang tak tergantikan.
Syukur dan Harapan Masa Depan
Dalam perjalanan menuju Makkah, Fuadah tidak hanya menjadi bagian dari jamaah haji, tetapi juga simbol ketabahan. Di tengah tantangan fisik, ia tetap menjalani setiap ritual dengan penuh kepercayaan. “Bakti anak saya dan dukungan petugas mengawal asa saya untuk berhaji,” katanya sambil berdoa. Semangat tersebut menunjukkan bahwa kekuatan batin tidak tergantung pada kemampuan fisik semata. Dengan keberhasilan menghadapi operasi dan pemulihan, Fuadah kembali menghadirkan keberhasilan dalam perjalanan yang selama 15 tahun diidamkan.
Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa hidup penuh dengan ujian. Dari kehilangan suami, hingga cedera yang tak terduga, Fuadah menunjukkan bagaimana setiap rintangan bisa menjadi bahan uji iman. Kehadirannya di Makkah tak hanya menjadi kebahagiaan pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Sebuah kisah yang menggambarkan bahwa tidak ada yang mustahil dalam kehendak Allah, selama ada kebersamaan, kesabaran, dan kepercayaan. “Saya berharap setelah ini, semangat bakti sang anak dan dedikasi petugas tetap menjadi inspirasi bagi yang lain,” harap Fuadah, dengan hati yang penuh syukur.