BNPB Percepat Pembangunan 50 Hunian Sementara di Nokilalaki Sigi
BNPB percepat pembangunan 50 huntara di Nokilalaki – Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menjadi fokus perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam upaya memulihkan kondisi warga yang terdampak gempa bumi. Sebanyak 50 hunian sementara (Huntara) tengah dibangun di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, sebagai bagian dari langkah pemerintah dalam merespons kebutuhan warga yang kehilangan tempat tinggal. Pekerjaan ini diharapkan segera rampung untuk memberikan perlindungan sementara bagi keluarga yang terkena dampak bencana alam tersebut.
Pembangunan Hunian Sementara Berlangsung di Lokasi Terdampak
Pelepasan batu pertama untuk pembangunan Huntara di Desa Kamarora dilakukan sebagai tanda dimulainya penanggulangan darurat secara konkret. Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menjelaskan bahwa 50 unit hunian sementara tersebut telah direncanakan berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh instansi terkait. “Hari ini, pelepasan batu pertama dilakukan untuk tahap pertama, dengan total 50 unit Huntara yang dibangun di Nokilalaki sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan yang telah ditetapkan,” kata Rizal saat diwawancarai awak media di Lolu, Sigi, Rabu.
“Data sementara menunjukkan bahwa ada 50 unit hunian sementara yang sedang dibangun, tetapi angka tersebut akan terus diperbarui sesuai dengan progres dan evaluasi lapangan,” tambah Rizal.
Pembangunan Hunian Sementara ini dilakukan di halaman rumah warga yang terdampak gempa bumi. Lokasi ini dipilih karena kemudahan akses dan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat. Rizal menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memberikan tempat tinggal sementara bagi korban gempa yang belum memiliki tempat hunian yang layak.
Koordinasi dengan Instansi Terkait untuk Pemulihan
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa pembangunan Huntara menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan masyarakat. “Hunian sementara ini adalah langkah penting dalam memberikan perlindungan darurat bagi warga yang terdampak gempa,” jelas Muhari dalam keterangan tertulis yang diterima di Sigi.
Muhari menyebutkan bahwa data penerimaan bantuan Huntara tahap pertama telah diperoleh melalui surat keputusan berita acara nama dan alamat dari Pemerintah Kabupaten Sigi. “Sudah ada data By Name By Address yang siap diproses, sehingga pembangunan bisa dilakukan secara terstruktur,” tambahnya.
Ia juga menuturkan bahwa proses verifikasi dan validasi penerima bantuan masih terus berlangsung guna memastikan setiap unit Huntara disalurkan secara tepat. “Verifikasi ini dilakukan bersama tim lapangan dan instansi terkait untuk memastikan bahwa bantuan sampai kepada yang benar-benar membutuhkan,” jelas Muhari.
Dukungan Pendanaan untuk Infrastruktur Pemulihan
Pembangunan Huntara didukung oleh pendanaan dari PUM (Pusat Unggulan Mekanik) Sulawesi Tengah. Dengan dana tersebut, seluruh upaya penanganan darurat dilakukan secara terpadu oleh pemerintah daerah, BNPB, TNI, Polri, BPBD, serta unsur lainnya. “Selain hunian sementara, perbaikan infrastruktur seperti pemasangan bronjong dan pengembangan jaringan air bersih juga menjadi prioritas,” kata Muhari.
Infrastruktur yang rusak akibat gempa menjadi perhatian utama dalam upaya pemulihan. Bronjong, misalnya, dibangun untuk mencegah terjadinya longsoran atau kerusakan tambahan di area rawan. Sementara itu, peningkatan kualitas air bersih dirasa penting guna memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.
Update Data Kerusakan dan Korban
Menurut data Satgas Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempa Bumi Sigi, hingga Selasa (23/6) pukul 18.00 Wita, gempa bumi telah menyebabkan kerusakan pada 3.032 rumah warga. Jumlah ini terdiri dari 1.959 rumah rusak ringan, 796 rumah rusak sedang, dan 277 rumah rusak berat. “Kerusakan tersebut menimpa berbagai bangunan, termasuk rumah warga, sekolah, dan fasilitas umum,” kata Muhari.
Korban luka dalam kejadian ini mencapai 92 orang, terdiri dari 14 warga yang mengalami luka berat dan 78 orang dengan luka ringan. Selain itu, terdapat tiga korban yang meninggal dunia. “Data ini terus diperbarui seiring adanya laporan dari lapangan,” terang Muhari.
BNPB menegaskan bahwa pembangunan Huntara dan perbaikan infrastruktur akan terus berjalan hingga semua kebutuhan warga terpenuhi. “Upaya ini bertujuan untuk memulihkan kehidupan masyarakat secepat mungkin, sekaligus menjaga kestabilan psikologis korban bencana,” imbuh Muhari.
Peran Masyarakat dalam Proses Pemulihan
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Desa Kamarora juga turut berperan dalam proses pemulihan. Warga yang terdampak gempa berupaya mempercepat pengumpulan data dan melibatkan pihak-pihak yang relevan. “Seluruh warga bersama-sama mendukung pemerintah dan BNPB dalam menyelesaikan kebutuhan sementara mereka,” ujar salah satu tokoh setempat.
Proses perekrutan dan penerimaan bantuan Huntara didampingi oleh tim lapangan yang memastikan setiap keluarga memenuhi kriteria. “Verifikasi dilakukan secara ketat untuk meminimalkan penyalahgunaan dana dan memastikan bantuan sampai kepada yang paling membutuhkan,” tambah Muhari.
BNPB juga memastikan bahwa perekrutan akan terus dilakukan untuk memenuhi jumlah Huntara yang ditargetkan. “Kami berupaya mempercepat proses ini agar warga tidak kehilangan tempat tinggal selama beberapa bulan ke depan,” pungkas Muhari.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kondisi masyarakat terdampak gempa dapat segera stabil. Proses pemulihan akan dilakukan secara bertahap, seiring dengan ketersediaan dana dan sumber daya yang diperlukan. BNPB bersama tim penanggulangan bencana berkomitmen untuk melibatkan seluruh pihak dalam upaya mengembalikan kehidupan normal warga di Nokilalaki.
Menurut Muhari, pemulihan infrastruktur dan penanganan darurat akan dilakukan secara berkelanjutan. “Pemulihan ini tidak hanya tentang membangun kembali rumah, tetapi juga memperkuat sistem ketahanan bencana di daerah tersebut,” jelasnya. Dengan demikian, pembangunan Huntara menjadi salah satu bagian dari langkah strategis untuk mempercepat pemulihan di Sigi.
BNPB terus memantau kondisi terkini di Nokilalaki, mengingat gempa masih menjadi ancaman bagi wilayah tersebut. “Kami berharap kehadiran Huntara akan menjadi titik awal dari pemulihan yang lebih luas,” tukas Muhari. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan proses penanggulangan bencana dapat berjalan lancar dan tepat waktu.