Warga Lembang Menggelar Tradisi Unik Rempug Tarung Perang Tomat
Warga Lembang saling lempar tomat – Di tengah suasana ramai yang dipenuhi tawa dan riang, warga Kampung Cikareumbi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, secara serius memeriahkan festival tahunan yang dikenal sebagai Hajat Lembur Festival Perang Tomat 2026. Acara ini digelar pada Jumat (26/6/2026), dan menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk merayakan tradisi unik yang menggabungkan kesenian dan simbolisme budaya. Di sini, partisipan bukan hanya bermain, tetapi juga melalui ritual yang memiliki makna mendalam.
Tradisi yang Menyatukan Kesenian dan Makna Spiritual
Festival Perang Tomat ini bukan sekadar ajang hiburan. Masyarakat mengenakan kostum khas, seperti pakaian ala kesatria dan bendera yang dipasang di kepala, sebagai bentuk perwujudan kekuatan dan keberanian dalam budaya lokal. Puncak acara adalah saling melempar tomat busuk, yang dianggap sebagai ritual mengusir energi negatif serta kebusukan hati. Aktivitas ini dilakukan dengan penuh semangat, memastikan setiap lemparan menjadi bagian dari cerita tahunan yang terus diwariskan.
Ritual Rempug Tarung Perang Tomat, nama tradisi ini, diawali dengan upacara pembukaan yang diisi oleh tarian tradisional dan lagu-lagu yang mencerminkan semangat komunitas. Setelah itu, peserta dibagi menjadi dua tim, masing-masing diberi nama yang unik, seperti “Pendekar Daun” dan “Kapten Kecil.” Pertarungan dimulai dengan melempar tomat yang sudah busuk, sekaligus melambangkan upaya membuang masalah lama dan mengharapkan perbaikan di masa depan. Masyarakat percaya bahwa kegiatan ini membawa keberkahan bagi pertanian dan kehidupan sehari-hari.
Suasana Meriah di Kampung Cikareumbi
Kampung Cikareumbi, yang terletak di kaki Gunung Tangkuban Perahu, menjadi panggung utama bagi acara ini. Jalanan dihiasi dengan alat peraga berwarna-warni, sementara para penonton berkumpul di sekitar area untuk menikmati pertunjukan. Tidak hanya warga sekitar yang hadir, tetapi juga tamu dari luar daerah yang tertarik mempelajari budaya pertanian dan tradisi setempat.
Dalam ritual ini, setiap lemparan tomat tidak hanya sebagai pertarungan fisik, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi emosional. Peserta berteriak, berlari, dan tertawa sambil melempar buah yang telah mengalami kerusakan. Meski terlihat lucu, tindakan ini memiliki makna filosofis: mengusir keburukan dari hidup, baik secara material maupun spiritual. Pertandingan berlangsung hingga beberapa jam, dengan pemenang ditentukan oleh jumlah tomat yang berhasil dilempar ke lawan.
Nilai Budaya yang Terus Dijaga
Masyarakat Lembang berupaya menjaga kehidupan tradisi ini agar tidak punah. Sejumlah warga mengungkapkan, festival ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial antarpenduduk, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenang sejarah pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi kawasan. “Ritual ini memberi makna pada setiap kegiatan sehari-hari, karena kita percaya tomat busuk membawa keberkahan untuk tanaman baru,” kata salah satu peserta, Rina Surya, 35 tahun, yang sejak kecil ikut meramaikan acara ini.
Pembuatan tomat busuk juga menjadi bagian dari persiapan. Para petani di sekitar kampung berupaya memanfaatkan buah-buah yang tidak layak dikonsumsi, sehingga mengurangi sampah pertanian. Kegiatan ini menunjukkan inisiatif masyarakat untuk mengubah limbah menjadi bahan pengusir energi negatif. Selain itu, pemerintah setempat turut serta memberikan dukungan dengan menyediakan area khusus untuk acara dan memastikan keamanan selama pertandingan.
Kelahiran Festival yang Menjadi Ikon Lokal
Kelahiran Hajat Lembur Festival Perang Tomat di Kampung Cikareumbi diawali oleh keinginan masyarakat untuk menciptakan acara yang menyatukan budaya dan kehidupan sehari-hari. Sejak tiga tahun terakhir, festival ini menjadi magnet bagi wisatawan, dengan jumlah peserta terus meningkat. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya lokal bisa menarik perhatian nasional,” ujar salah satu pengelola acara, Teguh Darmawan, 42 tahun, yang juga seorang pengusaha muda.
Tradisi Rempug Tarung Perang Tomat memiliki akar historis yang terkait dengan pertanian. Dulu, warga menganggap tomat sebagai simbol kehidupan yang berubah-ubah, sehingga melempar buah busuk menjadi cara untuk menyambut masa depan yang lebih baik. Saat ini, festival ini telah berkembang menjadi kompetisi yang dinamis, tetapi tetap mempertahankan esensi awalnya. Sejumlah aturan juga diterapkan, seperti batasan waktu pertandingan dan larangan menggunakannya sebagai alat perusak.
Dalam upacara penutup, peserta saling berjabat tangan dan menari bersama sebagai bentuk penutupan ritual. Pemenang diberikan hadiah berupa pertanian kecil dan peralatan kesenian. Namun, yang lebih berharga adalah kebersamaan dan semangat komunitas yang terbangun sepanjang acara. “Ini bukan hanya tentang melempar tomat, tapi juga tentang memperkuat nilai-nilai kebersamaan,” tutur Nurul Febriana, 28 tahun, seorang ibu rumah tangga yang ikut serta.
Kegiatan ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi anak-anak muda tentang kearifan lokal. Para peserta dipandu oleh para pemimpin tradisi yang menjelaskan makna setiap langkah. “Saya belajar bahwa tomat bukan hanya makanan, tetapi juga alat untuk menyampaikan doa,” kata Anwar, 17 tahun, siswa SMA yang turut serta dalam pertandingan. Dengan adanya festival ini, masyarakat Lembang berharap bisa menginspirasi daerah lain untuk menjaga warisan budaya mereka.
Masa Depan yang Dipercayai
Para warga mengungkapkan, Festival Perang Tomat ini menjadi bagian dari harapan mereka agar pertanian tetap berkembang dan kehidupan masyarakat lebih baik. Ritual pengusiran energi negatif melalui tomat busuk dianggap sebagai doa untuk keberhasilan panen dan keberkahan dalam segala aspek kehidupan. Pemerintah daerah juga menilai festival ini sebagai alat promosi pariwisata budaya yang bisa menarik minat wisatawan lokal dan nasional.
Acara ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan era modern, tetapi tetap menyimpan makna asli. Selain mengusir keburukan, festival ini juga menjadi sarana ekonomi, karena menyerap tenaga kerja dan menstimulasi usaha kecil seperti jual beli tomat busuk serta pembuatan kostum tradision