Bisnis

New Policy: Wamentrans pastikan kawal produk transmigran masuk pasar global

Wamentrans Pastikan Kawal Produk Transmigran Masuk Pasar Global

New Policy – Jakarta – Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, mengungkapkan komitmen Kementerian Transmigrasi untuk terus mendukung pengembangan dan pemasaran produk unggulan dari daerah kawasan transmigrasi. Tujuan utamanya adalah memastikan keberhasilan produk-produk tersebut dalam bersaing di pasar internasional. Dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa, Viva menjelaskan bahwa kawasan transmigrasi saat ini kaya akan beragam komoditas, mulai dari tanaman pangan hingga hasil pertanian dan perikanan yang memiliki nilai ekspor.

“Potensi produk unggulan di kawasan transmigrasi sangat luas. Kini yang dibutuhkan adalah menghubungkannya dengan pasar global, sehingga sebagian besar produk tersebut dapat menembus persaingan,” kata Viva.

Dia menekankan bahwa tidak hanya sektor pertanian yang berkembang, tetapi juga bidang perikanan dan pertanian hortikultura. Contoh yang disebutkan adalah rajungan, yang berhasil diekspor ke Amerika Serikat melalui kerja sama dengan perusahaan swasta sebagai offtaker. “Rajungan menjadi salah satu komoditas yang sedang diupayakan untuk memasuki pasar internasional,” tambah Viva.

Dalam upaya mendorong pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi, masyarakat di sana tidak hanya fokus pada pertanian tradisional. Mereka kini terlibat dalam berbagai bidang, seperti pekebun kopi, pekebun durian, dan nelayan yang memerlukan dukungan untuk meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi produk mereka. Kementerian Transmigrasi berkomitmen melakukan pemberdayaan melalui pembinaan teknis dan peningkatan kolaborasi dengan mitra strategis.

Strategi Membangun Produk Unggulan

Viva menyebutkan bahwa proses hilirisasi dan industrialisasi di kawasan transmigrasi harus optimal agar bisa mendukung ekspor. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi, menjadi kunci dalam meningkatkan volume tangkapan ikan dan hasil pertanian. “Dengan demikian, ekspor rajungan dapat terus berkembang,” jelasnya.

Dalam konteks ini, kemitraan dengan perusahaan offtaker dinilai penting untuk menyediakan akses pasar yang pasti. Viva menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya membuka jalan bagi produk unggulan transmigrasi, tetapi juga meningkatkan daya saing mereka di tingkat global. “Masyarakat lokal harus menjadi penghasil utama, sementara perusahaan offtaker berperan sebagai pemasar,” katanya.

Menurut Viva, keberhasilan ekspor memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Ia mencontohkan bahwa produk-produk seperti rajungan, cokelat, dan durian telah menunjukkan potensi yang baik. “Contoh terbaru adalah ekspor durian dari Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ke Cina,” tutur Viva.

Kemitraan sebagai Kunci Sukses

Dalam rangka memperkuat keterlibatan transmigran di pasar global, Kementerian Transmigrasi melakukan berbagai langkah kolaboratif. Salah satu contoh nyata adalah ekspor durian yang sukses terjadi beberapa waktu lalu. “Ekspor durian ke Tiongkok dengan nilai Rp42,5 miliar menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki potensi unik,” kata Viva.

Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanagara, juga menyoroti keberhasilan program Trans Karya Nusa yang dimulai pada tahun 2025. Program ini diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi dan menarik investasi ke kawasan transmigrasi. “Ini adalah bukti bahwa kualitas produk transmigrasi bukan sekadar eksperimen, tetapi hasil dari pengembangan yang terencana,” ujarnya.

Iftitah menyebutkan bahwa produk seperti cokelat, kopi, dan nilam sudah mulai menembus pasar luar negeri. Contoh nyata lainnya adalah ekspor biji kakao dari Kabupaten Polewali Mandar ke Yokohama, Jepang, serta durian Parigi Moutong yang dikirim ke Tiongkok. “Kedua contoh tersebut menunjukkan peningkatan produksi komoditas unggulan,” imbuh Iftitah.

Pembukaan Lapangan Kerja untuk Transmigran

Menurut Iftitah, Program Trans Karya Nusa juga bertujuan untuk memperkenalkan kawasan transmigrasi kepada para investor. “Dengan adanya investasi, lapangan kerja akan terbuka, dan masyarakat lokal menjadi penerima manfaat utama,” jelasnya. Salah satu proyek yang diharapkan adalah investasi senilai Rp1,2 triliun dari LX International, Korea, di Kawasan Transmigrasi Maloy-Kaliorang, Kalimantan Timur. Proyek ini berpotensi menciptakan lebih dari 3.800 lapangan kerja.

Ia menambahkan bahwa peran investor sangat penting untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat. “Investasi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat daya saing produk transmigrasi di tingkat global,” tegas Iftitah.

Viva Yoga Mauladi juga menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pengembangan produk unggulan. “Tidak hanya produk yang dihasilkan, tetapi juga cara pengolahan dan pemasarannya harus ditingkatkan agar bisa bersaing,” ujarnya. Hal ini mencakup pemanfaatan teknologi, penguatan infrastruktur, serta pelatihan keterampilan bagi masyarakat transmigrasi.

Kementerian Transmigrasi menegaskan bahwa mereka akan terus berkoordinasi dengan berbagai mitra, termasuk sektor swasta dan lembaga keuangan, untuk memastikan akses pasar yang mudah. “Kolaborasi dengan perusahaan offtaker menjadi langkah strategis untuk memastikan produk transmigrasi dikenal secara internasional,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan transmigrasi telah menjadi pusat pengembangan pertanian dan perikanan yang dinamis. Keberhasilan ekspor durian ke Cina dan rajungan ke Amerika Serikat menjadi bukti bahwa potensi ini tidak hanya ada di dalam negeri, tetapi juga bisa diakui di pasar global. Viva menyatakan bahwa hal ini harus terus dikembangkan agar masyarakat transmigrasi bisa menikmati manfaat ekonomi yang lebih besar.

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.