Akademisi: Perubahan Iklim Tantangan Multidimensi yang Mengancam Ketahanan Pangan
Key Strategy – Dalam upaya memperkuat sistem pangan nasional, akademisi memandang perubahan iklim sebagai ancaman yang kompleks dan multiarah. Prof Arida Susilowati, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), menekankan bahwa isu ini tidak hanya berkaitan dengan produktivitas pertanian, tetapi juga dengan keberlanjutan lingkungan dan stabilitas sosial. Ia menyampaikan hal ini di Medan pada Selasa, menyoroti bagaimana fenomena cuaca ekstrem dan perubahan pola iklim mempengaruhi ketersediaan pangan serta mengurangi daya tahan masyarakat terhadap krisis lingkungan.
“Kenaikan suhu global, perubahan pola hujan, serta bencana cuaca seperti kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan dan lahan telah merusak produktivitas sektor-sektor vital, termasuk pertanian, kehutanan, dan perikanan. Ini juga meningkatkan risiko bagi masyarakat dalam menghadapi gangguan pangan dan kerusakan ekologis,” ujar Prof Arida Susilowati.
Ketergantungan Ekosistem pada Stabilitas Iklim
Dalam konteks keberlanjutan pangan, perubahan iklim tidak hanya menyebabkan penurunan hasil panen akibat gangguan musim tanam dan serangan hama, tetapi juga mengganggu jalur distribusi dan akses masyarakat terhadap pangan yang layak. Prof Arida menambahkan bahwa ketahanan pangan harus diintegrasikan dengan kestabilan ekosistem, di mana sumber daya alam berperan sebagai fondasi utama dalam mendukung sistem produksi pangan nasional. Ekosistem hutan, khususnya, dianggap sebagai salah satu penopang utama.
Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon, penjaga keseimbangan air, dan pelindung daerah aliran sungai. Selain itu, mereka juga menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, serta menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati. Jasa lingkungan yang dihasilkan hutan, seperti hasil hutan bukan kayu, menjadi sumber pangan, obat-obatan, dan penghidupan masyarakat. Namun, degradasi hutan dan konversi lahan untuk keperluan lain tidak hanya mempercepat emisi gas rumah kaca, tetapi juga mengurangi kapasitas ekosistem dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia.
Pendekatan Solusi Berbasis Alam untuk Mengatasi Tantangan
Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang diadakan baru-baru ini menyoroti pentingnya solusi alami dalam menangani dampak perubahan iklim. Menurut Prof Arida, pendekatan ini mampu menjawab tantangan secara simultan, sekaligus memperkuat ketahanan ekologis di tingkat lokal. Contohnya, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, rehabilitasi lahan kritis, serta restorasi gambut dan mangrove dinilai efektif dalam meningkatkan penyerapan karbon, memperbaiki kualitas lingkungan, dan memastikan ketersediaan air bersih.
Metode seperti agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati juga mendapat perhatian khusus. Prof Arida menjelaskan bahwa pengembangan sistem agroforestri, yang menggabungkan pertanian dan hutan, tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menciptakan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi. Selain itu, penerapan teknologi pemantauan karbon dan peringatan dini kebakaran hutan dianggap sebagai langkah penting dalam mengoptimalkan kebijakan lingkungan.
Peran Akademisi dalam Mendorong Transformasi Kebijakan
Prof Arida menegaskan bahwa perubahan iklim adalah peluang bagi akademisi untuk mengubah fokus penelitian, pendidikan, dan kontribusi terhadap masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mengembangkan riset yang transdisipliner, menggabungkan ilmu kehutanan, pertanian, lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kebijakan publik. “Riset ini harus menghasilkan solusi yang bisa langsung diterapkan oleh pemerintah, sektor usaha, serta masyarakat,” katanya.
Dalam praktiknya, inovasi seperti model agroforestri adaptif, rehabilitasi lahan berbasis komunitas, dan pengembangan bioekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu dianggap krusial. Prof Arida menyatakan bahwa perlu adanya kolaborasi antardisiplin untuk menghasilkan kebijakan yang didasarkan pada bukti ilmiah. Dengan demikian, institusi pendidikan bisa menjadi pengambil kebijakan yang memperkuat tata kelola pangan, pengelolaan hutan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Kebijakan nasional tentang ketahanan pangan dan lingkungan harus disusun dengan mempertimbangkan input ilmiah dari akademisi. Hal ini membantu memastikan bahwa strategi yang diambil tidak hanya efektif dalam jangka pendek, tetapi juga bertahan dalam jangka panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut, perguruan tinggi perlu meningkatkan kerja sama dengan lembaga penelitian, pemerintah, dan sektor swasta.
Ekosistem Hutan sebagai Pilar Kestabilan Iklim
Menurut Prof Arida, ekosistem hutan memiliki peran sentral dalam menjaga kestabilan iklim dan mendukung ketahanan pangan. Fungsi hutan sebagai penyerap karbon tidak hanya mencegah peningkatan suhu global, tetapi juga mengurangi dampak perubahan iklim pada kehidupan masyarakat. Pengaturan siklus hidrologi yang dihasilkan hutan juga sangat penting dalam mengatasi krisis air yang sering terjadi.
Keanekaragaman hayati yang terjaga dalam hutan juga berkontribusi pada ketahanan pangan. Satwa liar, tanaman penghasil makanan, dan mikroorganisme di dalam hutan menciptakan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan. Prof Arida menambahkan bahwa kehilangan hutan berdampak langsung pada ketersediaan makanan, sekaligus mengurangi kapasitas daerah dalam menghadapi bencana alam. Dengan demikian, pemulihan ekosistem hutan tidak hanya menjadi kebutuhan lingkungan, tetapi juga sebagai kepastian bagi keberlanjutan pangan.
Keterpaduan Antara Penelitian dan Penerapan
Prof Arida menekankan bahwa pendekatan transdisipliner tidak hanya menghasilkan bukti ilmiah, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Perguruan tinggi perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan inovasi yang relevan, seperti teknologi pemantauan karbon dan sistem peringatan dini kebakaran hutan. “Inovasi ini harus mampu diadopsi oleh berbagai pihak, termasuk masyarakat lokal, sehingga meningkatkan kesejahteraan secara menyeluruh,” tuturnya.
Di samping itu, akademisi juga harus berperan dalam membangun ekosistem pangan yang rendah karbon. Hal ini melibatkan transformasi pola produksi, pengurangan emisi, serta pemanfaatan sumber daya alam secara bijak. Menurut Prof Arida, kolaborasi antara akademisi dan masyarakat merupakan kunci untuk mewujudkan solusi yang berkelanjutan. Dengan memadukan penelitian dan praktik langsung, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan lahan bisa meningkat, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan pangan.
Harapan untuk Perubahan Iklim Menjadi Peluang
Menurut Prof Arida Susilowati, perubahan ik