Perpusnas Jadi Lokasi Peluncuran Film Seni Merayu Tuhan
Perpusnas jadi lokasi peluncuran film Seni – Di Jakarta, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia menjadi tempat utama untuk meresmikan tayangan film “Seni Merayu Tuhan”, karya yang diadaptasi dari buku karangan Husein Ja’far Al Hadar, dikenal dengan nama Habib Ja’far. Acara ini memiliki makna khusus karena karya sastra yang awalnya berbentuk tulisan kini diwujudkan sebagai film, dan kembali ke lokasi yang bersejarah dalam dunia literasi. Momen tersebut disebut sebagai “full circle” oleh Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, dalam pidatonya di Gedung Perpustakaan Gambir, Jakarta Pusat, pada hari Kamis.
Perpusnas sebagai Ruang Kreatif
Dalam sambutannya, Suharyanto menekankan peran Perpusnas sebagai simbol kebudayaan dan pembelajaran. Ia menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi antara Perpusnas dengan tim produksi film “Seni Merayu Tuhan”, yang tergabung dalam rumah produksi Wahana Kreator, PK Films, serta pihak-pihak lain. Menurut Suharyanto, lembaga tersebut sangat terbuka untuk menjadi tempat berkembangnya karya-karya kreatif yang mencerminkan identitas bangsa. “Perpusnas tidak hanya menjadi pusat pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menginspirasi dan memperkuat nilai-nilai keagamaan melalui seni,” tambahnya.
Pesan Mendalam dari Penulis
Acara tersebut juga dihadiri oleh Habib Ja’far, yang secara simbolis menyerahkan 10 eksemplar buku karyanya ke Perpusnas. Penyerahan ini menunjukkan dukungan terhadap inisiatif literasi yang digalakkan oleh lembaga tersebut. Habib Ja’far menjelaskan bahwa bukunya bukan sekadar cerita, tetapi juga bentuk ekspresi tentang hubungan manusia dengan Tuhan. “Kita harus menghadirkan keindahan dan ketulusan dalam beribadah, karena Allah mencintai keindahan,” ujarnya dalam pidato yang penuh makna.
“Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, maka dekati Dia dengan rayuan yang begitu romantis. Sebab amal kita bukanlah alat tukar untuk surga, melainkan hanya rahmat-Nya yang membawa kita ke surga,”
Kata-kata tersebut menegaskan filosofi di balik karya sastra Habib Ja’far, yang menggabungkan kisah religius dengan pendekatan seni. Dengan mengadaptasi buku menjadi film, ia berharap pesan inti bukunya dapat disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat.
Para Pemain dan Tujuan Acara
Film “Seni Merayu Tuhan” menghadirkan sejumlah aktor dan aktris terkenal, termasuk Ari Irham, Rieke Diah Pitaloka, Lutesha, Teuku Ryzki Muhammad (dikenal sebagai Kiki Coboy Junior), serta Onadio Leonardo. Mereka berperan dalam narasi yang menggambarkan perjalanan spiritual dan kehidupan manusia dalam mencari makna keagamaan. Suharyanto menegaskan bahwa acara ini bertujuan membangkitkan minat baca masyarakat sekaligus memperkenalkan film yang akan tayang secara nasional pada 13 Agustus 2026.
Peran Perpusnas dalam Peradaban
Perpustakaan Nasional tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga pilar penting dalam membangun peradaban. Saat ini, lembaga tersebut menyimpan lebih dari 3,6 juta koleksi fisik dan sembilan juta buku elektronik yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Koleksi ini diperuntukkan untuk mendukung pengembangan budaya literasi dan kesadaran akan pentingnya membaca. “Kami terus berupaya menghadirkan akses informasi yang mudah dan menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Suharyanto.
Sebagai titik awal karya sastra yang diangkat ke layar lebar, Perpusnas memiliki makna simbolis. Tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana sebuah buku dapat menginspirasi kreativitas dalam berbagai bentuk seni. Habib Ja’far mengungkapkan bahwa proses adaptasi bukunya menjadi film adalah bentuk pengembangan lebih lanjut dari pesan yang ingin disampaikannya. “Seni adalah jembatan antara pemikiran manusia dan keindahan Tuhan,” ujarnya.
Kolaborasi dan Keterlibatan Masyarakat
Perusapan film ini tidak hanya melibatkan produser dan sutradara, tetapi juga masyarakat secara umum. Kehadiran para aktor serta pengunjung yang antusias di acara peluncuran menunjukkan minat publik terhadap karya-karya seni yang menggabungkan aspek spiritual. Suharyanto menyoroti bahwa Perpusnas ingin menjadi pusat kreativitas yang terus berkembang, terutama dalam menghadirkan narasi-narasi yang menginspirasi.
Di sisi lain, Habib Ja’far menyampaikan bahwa film ini dirancang untuk memperdalam pemahaman masyarakat tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. “Seni Merayu Tuhan” berusaha menyajikan konsep keimanan melalui cerita yang penuh makna, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai keagamaan dengan cara yang lebih modern dan menarik. Ia berharap film ini dapat menjadi alat untuk memperkuat keimanan dan budaya membaca di tengah masyarakat.
Proyeksi ke Masa Depan
Penayangan film “Seni Merayu Tuhan” yang direncanakan pada 13 Agustus 2026 diharapkan mampu membangkitkan minat terhadap seni dan keagamaan. Sutradara Cesa David Luckmansyah menjelaskan bahwa film ini dirancang dengan konsep yang unik, menggabungkan kesan misterius dan romantis dalam menggambarkan perjalanan spiritual tokoh utama. “Kami ingin menunjukkan bahwa keagamaan bisa diceritakan dengan cara yang menarik dan menyentuh,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Perpusnas telah berperan aktif dalam mempromosikan karya-karya lokal, baik dalam bentuk buku maupun film. Kehadiran film “Seni Merayu Tuhan” diacara peluncuran di Perpusnas merupakan salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan kepentingan seni dan literasi. “Kami percaya bahwa seni adalah bagian integral dari kehidupan spiritual dan intelektual masyarakat,” tambah Suharyanto.
Acara ini juga menegaskan komitmen Perpusnas untuk menjaga keberlanjutan koleksi buku dan memperluas akses informasi. Dengan menambahkan 10 eksemplar buku Habib Ja’far ke perpustakaan, lembaga tersebut memberikan penghargaan terhadap karya yang menjadi salah satu tulisan terkemuka di Indonesia. “Kita perlu memastikan bahwa karya-karya berharga seperti ini tetap tersimpan dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkas Habib Ja’far.
Pengaruh dan Makna Kebudayaan
Sebagai bagian dari rangkaian promosi film, kegiatan peluncuran di Perpusnas memberikan kesan unik karena menggabungkan dunia film dengan dunia literasi. Kebiasaan membaca dan menonton film kini semakin terintegrasi, sehingga dapat memperkaya pengalaman kultural masyarakat. “Film dan buku adalah dua bentuk seni yang saling melengkapi,” kata Suharyanto.
Menurutnya, Perpusnas menjadi tempat yang ideal untuk memperkenalkan karya-karya seni kepada masyarakat. “Kami ingin menjadi ruang yang menyatukan berbagai bentuk ekspresi kreatif, termasuk film, buku, dan kesenian lainnya,” tambahnya. Kehadiran film “Seni Merayu Tuhan” di tempat ini diharapkan mampu memicu minat terhadap karya-karya lokal dan mendorong partisipasi masyarakat dalam memperkaya kehidupan budaya.
Dalam konteks ini, film dan buku yang diadaptasi Habib Ja’far menjadi contoh bagus bagaimana seni dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif. Dengan narasi yang penuh makna dan visual yang menarik, karya ini diharapkan mampu menyentuh hati penonton sekaligus mengingatkan akan pentingnya keimanan dalam kehidupan sehari-hari. “Seni adalah cara untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara lebih intim,” tutur Habib Ja’far.
Sebagai penutup, Suharyanto menegaskan bahwa Perpusnas tetap menjadi tempat yang dinamis dan terbuka untuk mengakomodasi berbagai karya kreatif. “Kami ingin bahwa Perpusnas tidak hanya menjadi tempat simpan, tetapi juga menjadi ruang untuk berkembang,” ujarnya. Acara peluncuran film ini adalah salah satu dari sekian banyak