BEI: Tujuh perusahaan antre gelar IPO di pasar modal Indonesia
Daftar Isi
Antrean IPO di Bursa Efek Indonesia Mencapai Tujuh Perusahaan
Atapkitadonasi.com – BEI – Pasar modal Indonesia masih memiliki calon emiten baru yang bersiap mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga 2 Oktober 2026, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham, dengan sektor kesehatan menjadi kelompok yang paling banyak terwakili.
“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Pipeline tersebut menggambarkan perusahaan yang tengah menjalani tahapan menuju penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Kehadiran calon emiten dari sejumlah bidang usaha memberi gambaran bahwa minat untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan tetap berasal dari sektor yang beragam.
Komposisi Sektor dan Skala Aset
Dari tujuh perusahaan yang berada dalam antrean IPO, empat di antaranya bergerak di bidang kesehatan. Sementara itu, dua perusahaan berasal dari sektor energi dan satu perusahaan berada pada sektor industri.
Jika dilihat dari ukuran aset, dua calon emiten masuk kategori perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp250 miliar. Tiga perusahaan memiliki aset menengah, yakni dalam rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Dua perusahaan lainnya tergolong berskala kecil karena asetnya berada di bawah Rp50 miliar.
Pembagian kategori tersebut menggunakan acuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK.04/2017. Klasifikasi aset ini membantu memberikan gambaran mengenai profil perusahaan yang sedang menyiapkan pencatatan saham, meskipun ukuran aset tidak dengan sendirinya menentukan prospek investasi suatu emiten.
Bagi perusahaan, IPO dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh dana dari publik. Dana yang dihimpun melalui proses tersebut dapat digunakan sesuai rencana yang tercantum dalam dokumen penawaran, termasuk untuk pengembangan usaha, investasi, penguatan modal kerja, atau kebutuhan korporasi lainnya.
Tujuh IPO Telah Terealisasi pada 2026
Sepanjang 2026 sampai 2 Oktober, tujuh perusahaan telah lebih dahulu menyelesaikan proses IPO di pasar modal Indonesia. Nilai dana yang terkumpul dari aksi penawaran saham perdana tersebut mencapai Rp2,16 triliun.
Setelah penambahan emiten baru itu, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia menjadi 963 perusahaan. BEI menargetkan jumlah emiten dapat mencapai 1.100 perusahaan pada 2030.
Target tersebut menunjukkan pentingnya perluasan akses pendanaan pasar modal bagi perusahaan dari berbagai bidang dan ukuran bisnis. Bertambahnya jumlah emiten juga memperluas pilihan instrumen saham bagi investor, meski setiap keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kinerja perusahaan, risiko usaha, valuasi, serta informasi yang disampaikan dalam prospektus.
Calon investor juga perlu membedakan antara perusahaan yang baru masuk pipeline dan perusahaan yang telah resmi melakukan penawaran umum. Status dalam antrean berarti proses pencatatan masih berlangsung, sehingga jadwal maupun realisasi aksi korporasi dapat berubah mengikuti pemenuhan persyaratan yang berlaku.
Penerbitan Obligasi dan Sukuk Tetap Aktif
Selain saham, aktivitas penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) juga berlangsung cukup besar. Hingga 2 Oktober 2026, tercatat 135 emisi yang diterbitkan oleh 62 penerbit EBUS dengan total dana terhimpun Rp132,98 triliun.
EBUS mencakup instrumen pendanaan seperti obligasi dan sukuk. Berbeda dari saham, instrumen ini pada umumnya terkait kewajiban pembayaran kepada pemegang efek sesuai ketentuan penerbitan. Keberadaan pasar obligasi dan sukuk memberi alternatif pembiayaan bagi perusahaan sekaligus menyediakan pilihan investasi dengan karakteristik yang berbeda dari ekuitas.
Masih terdapat 24 emisi dari 17 penerbit yang berada dalam pipeline penerbitan EBUS. Para penerbit tersebut berasal dari berbagai sektor, mencerminkan bahwa kebutuhan pendanaan melalui pasar modal tidak hanya ditempuh dengan penerbitan saham baru.
Rights Issue Properti Masuk Antrean
Pada sisi aksi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau HMETD, terdapat 15 perusahaan yang telah melakukan rights issue sampai 2 Oktober 2026. Total nilai dana dari aksi tersebut mencapai Rp16,23 triliun.
Rights issue merupakan aksi korporasi yang memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk memesan saham baru sesuai porsi kepemilikannya. Mekanisme ini dapat digunakan perusahaan untuk memperoleh tambahan modal, sementara investor perlu memperhatikan ketentuan pelaksanaan, harga pelaksanaan, tujuan penggunaan dana, serta dampaknya terhadap kepemilikan apabila hak tersebut tidak digunakan.
BEI juga mencatat satu perusahaan dari sektor properti sedang berada dalam antrean rights issue. Dengan adanya pipeline IPO, penerbitan EBUS, dan rights issue, pasar modal Indonesia tetap menjadi salah satu jalur yang tersedia bagi korporasi untuk menghimpun dana dan menjalankan rencana pengembangan bisnisnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BEI?
BEI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BEI matter?
BEI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.