Bisnis

Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan untuk nelayan

Daftar Isi
  1. 15 Juta Ton Ikan, Namun Kurang dari 12 Persen Tersentuh Rantai Dingin: DPR Desak Percepatan Infrastruktur Pendinginan
  2. Menutup Celah Sepanjang Rantai Pasokan
  3. Energi Surya sebagai Pengungkit Strategis
  4. Kedaulatan Teknologi dan Syarat Kerja Sama Luar Negeri
  5. Pendekatan Pentaheliks: Kolaborasi Lintas Sektor
  6. Related Reading
  7. Frequently Asked Questions

15 Juta Ton Ikan, Namun Kurang dari 12 Persen Tersentuh Rantai Dingin: DPR Desak Percepatan Infrastruktur Pendinginan

Atapkitadonasi.com – Indonesia menghasilkan sekitar 15 juta ton ikan setiap tahun dari gabungan perikanan tangkap dan budidaya. Angka tersebut menempatkan negeri ini di jajaran produsen perikanan terbesar dunia. Namun di balik volume produksi yang masif itu, terdapat celah infrastruktur yang mengkhawatirkan: pemanfaatan sistem rantai dingin (cold chain system) baru mencakup kurang dari 12 persen dari total produksi. Artinya, sebagian besar hasil laut Indonesia bergerak tanpa perlindungan suhu yang memadai sejak ditangkap hingga tiba di tangan konsumen.

Celah inilah yang menjadi sorotan utama Prof Rokhmin Dahuri, anggota Komisi IV DPR RI, yang pada Selasa di Jakarta menyerukan agar pemerintah segera membangun infrastruktur pendinginan dan penyimpanan ikan secara masif. Dorongan tersebut tidak berdiri sendiri; ia terikat langsung pada keberlangsungan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang bertujuan mengangkat kesejahteraan nelayan di tingkat komunitas.

Dampak Berantai dari Penurunan Mutu

Rokhmin menegaskan bahwa ketika mutu ikan dan produk seafood merosot akibat ketiadaan pendinginan, konsekuensinya tidak berhenti pada satu sektor. Penurunan kualitas secara langsung menekan harga jual, bahkan membuat produk tidak terserap pasar. Lebih jauh lagi, mutu yang buruk mengancam keamanan pangan masyarakat dan melemahkan posisi Indonesia di pasar ekspor.

“Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita.”

Bagi nelayan kecil yang bergantung pada hasil tangkapan harian, penurunan harga berarti pendapatan yang menyusut drastis. Tanpa rantai dingin yang berfungsi, ikan yang seharusnya bernilai tinggi di pasar domestik maupun internasional justru berakhir sebagai produk murah atau bahkan terbuang.

Menutup Celah Sepanjang Rantai Pasokan

Rokhmin menekankan bahwa penguatan rantai dingin tidak boleh parsial. Sistem ini harus mencakup seluruh mata rantai: mulai dari kapal penangkap atau lokasi produksi, titik pendaratan dan pengumpulan, fasilitas penyimpanan berpendingin, unit pengolahan, jaringan distribusi, hingga produk akhir yang sampai ke konsumen. Setiap titik yang luput dari kontrol suhu menjadi titik rawan di mana mutu dan nilai ekonomi produk terkikis.

Ia menilai bahwa tanpa penanganan menyeluruh, Indonesia akan terjebak sebagai produsen volume besar tanpa kemampuan menangkap nilai tambah. Posisi dalam perdagangan produk perikanan global pun tidak akan menguat, melainkan tetap berada di segmen berisiko rendah.

Energi Surya sebagai Pengungkit Strategis

Salah satu solusi yang Rokhmin tekankan adalah pemanfaatan teknologi efisien beremisi rendah, khususnya energi surya. Indonesia, dengan paparan matahari yang hampir sepanjang tahun di seluruh wilayahnya, memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar untuk menggerakkan unit pendinginan di sektor perikanan.

“Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon yang harus dimanfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari.”

Penerapan energi surya dapat dilakukan secara bertahap pada kapal perikanan, cold storage, refrigerator, maupun cool box di sentra-sentra pendaratan. Gagasan ini bukan baru; Rokhmin sendiri telah menginisiasi kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember sejak menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004. Pengembangan teknologi tersebut, menurutnya, harus disesuaikan dengan kondisi operasional nyata di lapangan, bukan sekadar adopsi skema generik.

Kedaulatan Teknologi dan Syarat Kerja Sama Luar Negeri

Rokhmin mengingatkan bahwa masuknya teknologi asing ke sektor perikanan wajib diiringi penguatan kapasitas industri nasional. Apabila komponen tertentu belum mampu diproduksi dalam negeri, kerja sama dengan perusahaan asing tetap terbuka. Namun, setiap kerja sama harus menghasilkan manfaat konkret: transfer teknologi, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), penciptaan nilai tambah, serta penyerapan tenaga kerja lokal.

“Manfaat kerja sama dengan luar negeri itu harus segera kita raih, yaitu manfaat alih teknologi, manfaat nilai tambah harus jatuh di kita, dan manfaat tenaga kerja juga harus di kita. Jangan sampai kita hanya impor gelondongan, tidak ada komponen satu pun yang diproduksi di dalam negeri.”

Peringatan ini relevan mengingat tren global di mana negara berkembang kerap menjadi pasar akhir produk teknologi tanpa pernah menyentuh tahap manufaktur atau rekayasa terbalik. Tanpa syarat yang tegas, investasi asing berisiko menjadi aliran satu arah yang tidak membangun kapabilitas domestik.

Pendekatan Pentaheliks: Kolaborasi Lintas Sektor

Skala tantangan rantai dingin perikanan melampaui kapasitas satu lembaga saja. Rokhmin mengusulkan pendekatan pentaheliks yang melibatkan lima pilar sekaligus: pemerintah, industri swasta, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan beserta pelaku usaha perikanan, serta media.

Peran masing-masing pilar berbeda namun saling melengkapi. Pemerintah menyediakan kerangka regulasi, alokasi anggaran, dan ekosistem kebijakan yang kondusif. Industri swasta menyuplai teknologi dan modal investasi. Akademisi mendorong inovasi dan riset terapan. Komunitas nelayan menjadi pengguna sekaligus penerima manfaat langsung. Media, di sisi lain, memperluas edukasi publik agar masyarakat memahami pentingnya mutu produk perikanan dan mendukung kebijakan yang melindunginya.

Keberhasilan program KNMP, menurut logika yang dibangun Rokhmin, tidak dapat tercapai tanpa fondasi infrastruktur pendinginan yang andal. Tanpa fondasi itu, setiap intervensi sosial-ekonomi di tingkat kampung nelayan akan terhambat oleh satu variabel teknis yang sederhana namun menentukan: suhu. Menjaga suhu berarti menjaga mutu, menjaga kesehatan, menjaga pendapatan nelayan, dan menjaga posisi Indonesia di peta perdagangan perikanan dunia.

Frequently Asked Questions

What is Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan?

Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan matter?

Legislator dorong pemerintah bangun pendingin ikan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.