China Mengkritik Kunjungan Lai Ching-te ke Eswatini Sebagai “Menyelinap”
Beijing Menanggapi Kunjungan Lai Ching-te ke Eswatini
Special Plan – Beijing, Rabu – Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa kunjungan pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, ke Eswatini, sebuah negara di Afrika, merupakan tindakan “menyelinap” yang menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara yang dilaluinya. Dalam konferensi pers di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, mengungkapkan bahwa Lai Ching-te berhasil memasuki pesawat asing dan menipu dirinya sendiri untuk masuk ke Eswatini dengan mengabaikan informasi penumpang dari negara tersebut. Selama penerbangan kembali, setelah izin menggunakan wilayah udara ditolak oleh negara-negara terkait, Lai Ching-te kembali menyelinap ke pesawat dan memaksakan diri untuk masuk melalui wilayah udara yang tidak bersedia memberi izin.
“Seluruh kejadian itu menunjukkan betapa sedikitnya Lai menghormati wilayah udara dan kedaulatan negara-negara terkait, serta kurangnya perhatiannya terhadap opini internasional. Apa yang dilakukannya sangat berbahaya dan tergolong kejutan,” kata Lin Jian.
Perjalanan Lai Ching-te dan Perubahan Jadwal
Kunjungan Lai Ching-te ke Eswatini, yang berlangsung 2-4 Mei 2026, awalnya direncanakan pada 22-26 April untuk merayakan peringatan 40 tahun kenaikan takhta Raja Mswati III dari Eswatini. Namun, rencana tersebut tertunda setelah Taiwan mengklaim bahwa Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar secara sepihak mencabut izin penerbangan pesawat Lai untuk melintasi wilayah udara mereka. Sebagai solusi, Lai akhirnya menggunakan jet pribadi Raja Mswati III, sebuah Airbus A340-313, untuk langsung terbang dari Taipei ke Eswatini. Pesawat tersebut sebelumnya mendarat di Taiwan sejak awal pekan lalu karena membawa Wakil Perdana Menteri Thulisile Dladla untuk bertemu Lai Ching-te.
Kritik Terhadap Pendekatan Separatisme
Lin Jian menegaskan bahwa perbuatan Lai Ching-te menunjukkan bahwa gerakan “kemerdekaan Taiwan” hanyalah bisnis yang mencurigakan. “Tindakannya menunjukkan bagaimana para pemimpin Taiwan mengabaikan prinsip-prinsip dasar hubungan internasional dan memperkuat citra separatisme,” ujarnya. Menurut penjelasan Lin Jian, penyelundupan masuk dan keluarnya Lai Ching-te melalui wilayah udara negara-negara lain adalah bukti bahwa ia tidak menghargai kebijakan diplomatik dan mengambil langkah berisiko untuk menegaskan klaim kemerdekaan Taiwan.
“Para politisi di Eswatini, yang dibayar oleh Taiwan, secara keliru memberikan ruang bagi ‘kemerdekaan Taiwan’ dan menghambat upaya negara-negara lain untuk mempertahankan prinsip ‘Satu China’,” tambah Lin Jian.
Dalam perjalanan ke Eswatini, Lai Ching-te bertemu dengan Perdana Menteri Russell Dlamini, Ratu Ntombi Tfwala, dan Raja Mswati III. Di media sosial, ia memuji Eswatini karena “berdiri teguh melawan berbagai tekanan diplomatik dan ekonomi, serta memperkuat posisi internasional Taiwan melalui tindakan nyata.” Lai juga mengunjungi lokasi proyek Taman Inovasi Industri Taiwan (TIIP), yang bertujuan mendorong pertumbuhan bisnis Taiwan di pasar global, terutama di Afrika, dan menciptakan peluang kerja lokal.
Upaya Ekonomi dan Kemitraan Dengan Eswatini
Dalam rangkaian kegiatan, Lai Ching-te juga menghadiri Pusat Konvensi Internasional (ICC) yang didanai oleh Taiwan. Ia menegaskan harapan untuk meningkatkan investasi perusahaan swasta Taiwan di Eswatini, sebagai bagian dari upaya memperdalam kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral. Pemerintah Taiwan menginginkan kerja sama yang lebih luas dengan Eswatini, khususnya dalam menjajaki pasar Afrika dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Selama kunjungan, Lai Ching-te mencoba membangun hubungan diplomatik dengan memperkuat posisi negara-negara yang mengakui Taiwan. Lin Jian menyoroti bahwa negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei, dan Australia, yang dilalui saat Lai kembali ke Taiwan, telah menolak izin penerbangan untuk kunjungan tersebut. Tindakan ini, menurut Lin Jian, selaras dengan prinsip “Satu China” dan membuktikan bahwa kebijakan tersebut mendapat dukungan kuat dari komunitas internasional.
“Upaya untuk mencapai ‘kemerdekaan Taiwan’ adalah jalan buntu karena setiap langkah baru yang diambil Lai hanya akan membatasi dirinya sendiri. Prinsip ‘Satu China’ adalah arah sejarah yang tidak dapat dibantah,” ujar Lin Jian.
Pendekatan Politik dan Dukungan Internasional
Lin Jian juga menyatakan bahwa pemerintah Tiongkok sangat menyesal atas tindakan-tindakan yang dilakukan Lai Ching-te dan berharap Eswatini serta negara lain dapat mengevaluasi kebijakan mereka. “Para politisi di negara-negara itu perlu mengambil keputusan bijak dan berhenti menjadi penopang bagi gerakan separatisme yang sudah jelas salah jalannya,” tambahnya.
Pendekatan politik Taiwan dalam menjaga hubungan dengan negara-negara Afrika terus dilakukan. Lai Ching-te, sebagai pemimpin Taiwan, mencoba menegaskan bahwa Eswatini tetap mendukung kepentingan Taiwan secara aktif. “Eswatini menjadi contoh yang baik dalam menghadapi tekanan dari Tiongkok,” kata Lai di media sosial. Namun, Lin Jian menegaskan bahwa Tiongkok tetap berpendapat bahwa Eswatini, sebagai negara yang mengakui Taiwan, tidak benar-benar berdiri sendiri dalam mengambil keputusan ekonomi dan diplomatik.
Dalam konteks sejarah, Lin Jian menekankan bahwa hanya ada satu China di dunia dan Taiwan adalah bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Tiongkok. “Prinsip ‘Satu China’ adalah konsensus internasional yang telah dibuktikan secara konsisten dan tidak bisa digoyahkan,” jelasnya. Dengan kata lain, Lin Jian berargumen bahwa pihak ketiga, termasuk Eswatini, harus memahami bahwa keputusan mereka untuk memperkuat hubungan dengan Taiwan akan memberikan dampak negatif terhadap prinsip-prinsip internasional.
Analisis dan Langkah Masa Depan
Pernyataan Lin Jian menunjukkan kekhawatiran Tiongkok terhadap konspirasi internasional yang menopang upaya Taiwan untuk memisahkan diri dari China. “Kunjungan Lai Ching-te tidak hanya membahay