Metro

Key Strategy: Kemnaker: penyeragaman kemasan rokok berdampak ketidakstabilan sosial

Key Strategy: Kemnaker Peringatkan Dampak Sosial Kemasan Rokok

Key Strategy – Jakarta, Indonesia — Kementerian Ketenagakerjaan menyoroti potensi dampak sosial yang muncul dari kebijakan penyeragaman kemasan rokok. Sebagai Key Strategy dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan, kementerian menyampaikan kekhawatiran bahwa regulasi ini dapat memengaruhi jutaan pekerja di sektor pertembakauan nasional.

Direktur Kelembagaan dan Pencegahan Perselisihan Hubungan Industrial Kemnaker, Decky Haedar Ulum, menjelaskan bahwa pekerja industri pertembakauan berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak. Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan ini bertujuan menerapkan kemasan polos dengan warna Pantone 448C sebagai standar baru. Key Strategy yang diusulkan Kemnaker menekankan pentingnya mempertimbangkan aspek sosial sebelum implementasi penuh.

Industri Hasil Tembakau sebagai Fondasi Ekonomi

Decky menegaskan bahwa industri hasil tembakau merupakan sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Mayoritas pekerja informal di sektor ini adalah perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Key Strategy Kemnaker menyoroti kontribusi IHT yang sangat signifikan terhadap perekonomian nasional, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun penerimaan negara.

Dari sisi fiskal, sektor ini menyumbang cukai hasil tembakau mencapai sekitar Rp217 triliun. “IHT adalah jangkar ekonomi yang masif menyerap tenaga kerja,” tegas Decky saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada hari Jumat. Key Strategy yang diusulkan mencakup perlindungan bagi pekerja yang bergantung pada industri ini.

“Pekerja di sektor pertembakauan bisa menjadi korban dari Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) yang akan menyeragamkan seragam polos menggunakan warna Pantone 448C,” kata Decky Haedar Ulum.

Menurut perhitungan Decky, rancangan penyeragaman kemasan ini diperkirakan akan memengaruhi sekitar 1,2 juta orang. Kelompok yang paling terdampak adalah pekerja sigaret kretek tangan atau SKT yang umumnya telah memiliki masa kerja puluhan tahun. Key Strategy Kemnaker menekankan perlunya strategi keluar yang komprehensif untuk melindungi kelompok pekerja ini.

Risiko PHK dan Beban Sosial yang Meningkat

Decky memberikan gambaran konkret mengenai kondisi di lapangan. Dalam satu lajur produksi pabrik SKT, rata-rata terdapat 400 hingga 500 tenaga kerja yang didominasi oleh perempuan. Key Strategy yang diusulkan mencakup analisis mendalam terhadap dampak sosial jika rencana penyeragaman kemasan terus dijalankan.

Ketika rencana penyeragaman kemasan terus dijalankan, risiko pemutusan hubungan kerja menjadi semakin tinggi. Hal ini akan menyulitkan pemerintah dalam memberikan solusi untuk menyerap kembali pekerja SKT. Proses upskilling juga dinilai sulit dilakukan dalam situasi tersebut. Key Strategy Kemnaker menyarankan agar pemerintah menyiapkan mekanisme penanggulangan yang efektif.

“Jika per pekerja menghidupi 3-4 orang, maka ada sekitar 2.000 orang yang bergantung pada IHT. Ketika rencana penyeragaman kemasan ini diteruskan, bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja, maka pemerintah juga akan kesulitan untuk memberikan solusi menyerap kembali pekerja SKT ini. Sulit untuk upskilling pekerja. Akhirnya akan menjadi beban sosial,” papar Decky.

Oleh karena itu, Kemnaker meminta agar rencana penyeragaman kemasan rokok dipertimbangkan kembali sebelum benar-benar diimplementasikan. Key Strategy yang diajukan mencakup dialog multipihak untuk menemukan solusi terbaik. Decky menegaskan bahwa posisi IHT sangat krusial dalam penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial.

Perspektif Federasi Serikat Pekerja

Sementara itu, Sudarto sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menegaskan bahwa pekerja pertembakauan adalah pihak yang paling banyak menerima beban akibat berbagai regulasi pemerintah. Key Strategy dari perspektif serikat pekerja menekankan pentingnya keberimbangan dalam kebijakan.

Menurut Sudarto, risiko pemutusan hubungan kerja, khususnya di bidang SKT, sangat rentan terjadi. Pekerja SKT langsung merasakan dampak dari rancangan penyeragaman kemasan rokok. Yang perlu diingat, besaran upah pekerja SKT dihitung berdasarkan hari kerja. Key Strategy yang diusulkan mencakup perlindungan upah pekerja selama transisi regulasi.

“Pekerja SKT adalah pekerja yang langsung menerima dampak atas rancangan penyeragaman kemasan rokok. Ingat, pekerja SKT adalah pekerja yang besaran upahnya dihitung per hari. Ketika kinerja industrinya merosot, otomatis upah yang diterima pekerja juga merosot,” kata Sudarto.

Akibat yang langsung terlihat oleh pekerja adalah berkurangnya upah hingga potensi pemutusan hubungan kerja. Sudarto menekankan bahwa rancangan aturan ini wajib mendapat perhatian serius dari pemerintah. Regulasi seharusnya tidak berlawanan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi dan serapan tenaga kerja. Key Strategy Kemnaker dan serikat pekerja sejalan dalam mengutamakan stabilitas sosial.

Sudarto berharap aspek ketenagakerjaan benar-benar diperhatikan. Minimal prinsip keberimbangan harus tetap dijaga. Key Strategy yang efektif akan memastikan bahwa perubahan regulasi tidak merugikan pekerja yang telah bergantung pada industri ini selama bertahun-tahun.

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.