Menata ingatan kota lewat perayaan
Surabaya – Malam akhir pekan membawa perubahan mendadak pada jalanan utama kota ini. Lampu lembut menyatu dengan deretan kendaraan hias, sementara aroma rujak cingur dan kuliner khas menghiasi keramaian. Acara ini bukan sekadar pesta kota, melainkan upaya menciptakan identitas baru yang mampu menjangkau kesadaran masyarakat.
Strategi branding yang terencana
Dalam beberapa tahun terakhir, festival menjadi alat promosi utama bagi kota-kota Indonesia. Namun, Surabaya mengambil langkah berbeda dengan memasukkan Festival Rujak Uleg dan Surabaya Vaganza ke dalam kurasi Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Hal ini menunjukkan bahwa strategi perayaan tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga mencerminkan perhatian nasional.
Perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 tahun ini dianggap sebagai titik balik dalam rencana ini. Pemerintah kota tidak lagi memandang acara tahunan sebagai upacara rutin, melainkan sebagai instrumen untuk membangun citra kota secara sistematis. Inti dari tindakan ini adalah mengubah cara kota dikenal, dirasakan, dan dikunjungi.
Brandig kota tidak lagi bergantung pada slogan atau ikon statis, melainkan pada pengalaman yang hidup. Kota tidak hanya dilihat, tetapi dirasakan.
Festival kuliner, parade cahaya, hingga kompetisi olahraga menjadi media untuk menyampaikan narasi tentang Surabaya sebagai kota dinamis, inklusif, dan terus berkembang. Namun, di balik keramaian, muncul pertanyaan mendasar: apakah langkah ini mampu menciptakan identitas yang berkelanjutan, atau hanya menghasilkan euforia sementara?
Surabaya menunjukkan komitmen untuk mengintegrasikan acara ini dengan aspek lokal. Program seperti Surabaya Shopping Festival mendorong alur perdagangan di pusat kota, sementara kerja sama dengan sektor transportasi dan perbankan meningkatkan aksesibilitas, mulai dari tur wisata hingga diskon tiket objek wisata. Selain itu, melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memastikan manfaat ekonomi mencapai tingkat masyarakat yang lebih luas.