Ekonomi Anggaran, Atlet Pelatnas Akuatik Dikembalikan ke Klub
Key Discussion – Jakarta, 1 Mei – Pengurus Besar Akuatik Indonesia (PB Akuatik) mengambil keputusan untuk mengirimkan atlet yang sedang menjalani pelatnas Asian Games 2026 kembali ke klub asal mereka. Langkah ini diambil sebagai dampak dari keterbatasan anggaran yang saat ini masih dalam proses pemeriksaan. Wakil Ketua Umum PB Akuatik Indonesia yang membidangi pembinaan prestasi dan sport science, Wisnu Wardhana, mengungkapkan bahwa federasi masih menunggu konfirmasi dari pihak terkait mengenai kelanjutan pelatnas. “Kita belum tahu pasti apakah pelatnas akan terus berlangsung atau tidak,” jelasnya dalam wawancara di Jakarta, Selasa (1 Mei).
Program Pelatnas Mulai Tahun 2026
Wisnu menjelaskan bahwa program latihan nasional untuk Asian Games 2026 yang diadakan di Aichi-Nagoya baru dimulai bulan Maret 2026. Namun, beberapa hari sebelumnya, PB Akuatik menerima informasi bahwa dana yang dialokasikan untuk pelatnas sangat terbatas. “Anggaran yang ada terbatas, jadi kita harus melakukan efisiensi,” ujarnya. Menurut Wisnu, keputusan ini diambil setelah evaluasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga yang menyebutkan bahwa pengelolaan dana harus lebih ketat.
Dalam menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut, Wisnu menegaskan bahwa pengembalian atlet ke klub merupakan langkah sementara. “Kita harus memastikan biaya pelatnas tetap terjaga, terutama karena dana yang digunakan cukup besar,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa federasi sedang berupaya keras untuk menemukan solusi agar pelatnas bisa dilanjutkan. “Selama anggaran tersedia, kita pasti akan kembali memulai program ini. Karena atlet-atlet yang ikut pelatnas memang memiliki potensi untuk meraih prestasi di Asian Games 2026 September nanti,” katanya.
Anggaran Cukup Terbatas, 12 Atlet Dipilih
Dari total 24 atlet yang awalnya direncanakan untuk masuk pelatnas, jumlahnya berkurang menjadi 12 atlet. Perubahan ini terjadi karena efisiensi anggaran pemerintah yang mencapai lebih dari 50 persen. “Atlet yang terpilih adalah yang memiliki kriteria dan parameter tertentu,” kata Wisnu. Ia menambahkan bahwa keputusan ini tidak hanya berdampak pada pelatnas, tetapi juga memengaruhi kesiapan atlet untuk kompetisi mendatang. “Kita harus memastikan bahwa yang diutamakan adalah kualitas latihan dan hasil yang bisa diraih,” ujarnya.
Sementara itu, Flairene Candrea Wonomiharjo, salah satu atlet yang kembali ke klub, mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan PB Akuatik. “Sedih, sebentar lagi ada Kejurnas, jadi harus mellow,” katanya saat berada di Stadion Akuatik GBK, Jakarta, selama 28 April hingga 7 Mei. Flairene, yang pernah meraih medali emas 100 meter gaya punggung putri di SEA Games 2022 Vietnam dan medali perunggu di nomor yang sama di SEA Games 2025 Thailand, mengatakan bahwa Kejurnas menjadi ajang penting untuk menunjukkan kemampuan mereka.
“Kejurnas ini justru menjadi kesempatan baik untuk membuktikan bahwa atlet masih mampu tampil maksimal meski harus berlatih mandiri,” ujar Flairene. Ia menambahkan bahwa keputusan ini memberikan tekanan tambahan kepada atlet dan pelatih klub untuk memastikan kualitas latihan tetap terjaga. “Meski harus pulang, kita tetap akan berusaha semaksimal mungkin. Fokus dan semangat jadi kunci,” lanjutnya.
Wisnu Wardhana juga mengakui bahwa keputusan ini memicu berbagai diskusi internal. “Kita sedang mencari solusi agar pelatnas tetap berjalan meski dengan skema yang berbeda,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa federasi berharap ada pengalokasian dana tambahan atau pengaturan anggaran yang lebih fleksibel untuk mendukung pelatnas. “Dengan anggaran yang terbatas, kita harus beradaptasi. Tapi target prestasi tidak bisa berkurang,” tegas Wisnu.
Pelatnas Tidak Batal, Tapi Perlu Direspons Lebih Baik
Meski ada efisiensi, Wisnu yakin pelatnas tidak akan batal sepenuhnya. “Justru kita ingin pelatnas tetap ada, tapi dengan struktur yang lebih efisien,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa PB Akuatik sedang mengevaluasi cara terbaik untuk memastikan atlet tetap bisa berkembang. “Kita bisa menyesuaikan metode latihan, mungkin dengan kerja sama yang lebih erat dengan klub-klub,” lanjut Wisnu. Ia juga berharap para atlet bisa tetap termotivasi meski harus berlatih secara mandiri.
Flairene menyetujui keputusan ini, meski tetap merasa bimbang. “Kita harus beradaptasi dengan situasi yang ada. Meski dana terbatas, tetap harus berusaha,” katanya. Ia menambahkan bahwa Kejurnas akan menjadi ujian pertama setelah kembali ke klub. “Kita ingin menunjukkan bahwa meski ada perubahan, performa kita tetap stabil,” ujarnya. Flairene juga berharap bahwa keputusan ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk masa depan, agar pelatnas bisa berjalan lebih baik.
Proses Seleksi dan Optimisme Terhadap Masa Depan
Wisnu menjelaskan bahwa proses seleksi atlet untuk pelatnas Asian Games 2026 dilakukan berdasarkan kriteria yang ketat. “Atlet yang dipilih adalah yang paling potensial dan mampu memberikan hasil maksimal,” katanya. Ia menekankan bahwa keputusan untuk mengurangi jumlah atlet bukanlah untuk mengabaikan prestasi, melainkan untuk mengoptimalkan penggunaan dana yang terbatas. “Ini adalah langkah strategis agar anggaran tidak terbuang percuma,” ujarnya.
Kebutuhan untuk mengatur anggaran ini juga melibatkan kemitraan dengan klub-klub. “Kita harus kolaborasi dengan klub, karena mereka juga berperan penting dalam pengembangan atlet,” kata Wisnu. Ia menjelaskan bahwa para atlet akan diberikan bimbingan dan bantuan dari PB Akuatik meski tidak lagi tinggal di pusat pelatnas. “Kita akan memberikan fasilitas yang diperlukan, seperti pelatih dan program latihan,” lanjutnya.
Masa Depan Pelatnas Akuatik
Dalam wawancaranya, Wisnu juga memproyeksikan masa depan pelatnas. “Kita berharap anggaran akan tersedia lebih luas lagi untuk tahun depan, agar pelatnas bisa berjalan optimal,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk mengembalikan atlet ke klub bukanlah akhir dari program pelatnas, melainkan bagian dari proses pengembangan yang lebih matang. “Kita akan terus berupaya agar atlet tetap bisa berkembang, meski dengan cara yang berbeda,” jelas Wisnu.
Flairene menyetujui langkah tersebut, meski tetap berharap ada dana tambahan untuk menjaga konsistensi latihan. “Semoga bisa diperbaiki, agar pelatnas tetap bisa berjalan,” katanya. Ia menambahkan bahwa pengalaman di Kejurnas menjadi modal penting untuk mempersiapkan diri ke Asian Games 2026. “Kita harus tunjukkan bahwa latihan mandiri tidak mengurangi performa,” ujarnya.
Dalam keseluruhan, keputusan PB Akuatik untuk mengembalikan atlet ke klub menggambarkan tindakan yang diambil dalam menghadapi keterbatasan anggaran