Wamenhaj Harap Jamaah Calon Haji Lansia Fokus pada Ibadah Inti
New Policy – Tarakan, Kalimantan Utara (ANTARA) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan pesan penting kepada jamaah calon haji yang berusia lanjut. Ia menekankan bahwa mereka sebaiknya menitikberatkan perhatian pada ibadah-ibadah inti, agar tidak terlalu memaksakan diri dalam kegiatan yang bisa menguras tenaga. Pernyataan ini disampaikannya saat memberi wawancara terkait jamaah calon haji dari Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang akan melaksanakan ibadah haji tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi, di Bandara Internasional Juwata Tarakan, Senin (25/10).
“Yang penting beliau-beliau jamaah lansia jangan terlalu memaksakan kegiatan ibadah, karena 95 persen ibadah haji adalah kegiatan fisik,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak.
Menurut Dahnil, kegiatan yang dominan fisik membuat jamaah lansia rentan mengalami kelelahan berlebihan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar mereka tidak terlalu tertarik pada aktivitas tambahan yang tidak esensial. “Mereka harus fokus saja pada ibadah-ibadah inti dan tidak memaksakan diri,” tambahnya.
Wamenhaj menjelaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan jamaah lansia menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji. Banyak jamaah yang berusia senja mengalami penurunan stamina, sehingga perlu dijaga agar tidak terganggu oleh tuntutan kegiatan yang terlalu intens. “Penting untuk menyelaraskan antara keharusan beribadah dan kesejahteraan jamaah,” imbuh Dahnil.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga menyebutkan bahwa Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah memberikan peringatan kepada petugas haji, termasuk Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), agar tidak mengajak jamaah tur keliling kota atau mengulang program umrah secara berlebihan. “Kami juga memperingatkan KBIHU supaya pemimpin rombongannya tidak melakukan itu,” ujarnya.
“Kalau mereka melakukan itu, kami akan peringatkan,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak.
Menurutnya, peringatan ini bukan sekadar formalitas. Pihaknya telah beberapa kali mengambil langkah tegas terhadap KBIHU yang dianggap melanggar aturan. “Sudah ada beberapa KBIHU yang Kemenhaj ancam untuk dicabut izinnya, karena terlalu banyak membuat program tur keliling kota dan umrah berulang-ulang,” tegas Dahnil.
Dahnil menjelaskan bahwa tindakan KBIHU yang mengarahkan jamaah pada kegiatan non-esensial berpotensi menjadikan mereka sebagai komoditas. Hal ini bisa berdampak pada kualitas pengalaman ibadah haji dan risiko kesehatan yang meningkat. “Kami ingin, berhenti menjadikan jamaah itu sebagai komoditas,” tambahnya.
Menurut Dahnil, selama ini Kemenhaj terus berupaya memastikan bahwa jamaah lansia tidak terbebani. Ia menyoroti pentingnya perencanaan yang matang, baik dari pihak penyelenggara maupun petugas di lapangan. “Kami harap KBIHU bisa memahami bahwa tujuan utama haji adalah melaksanakan ibadah, bukan sekadar menikmati perjalanan,” ujarnya.
“Jadi, kita harus menyesuaikan kegiatan dengan kondisi fisik jamaah,” imbuh Dahnil.
Hal ini sejalan dengan kebijakan Kemenhaj yang ingin mewujudkan haji yang lebih bermakna dan menyenangkan. Dahnil menyebutkan bahwa perubahan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kegiatan ritual dan kenyamanan jamaah. “Kami berharap para jamaah lansia bisa menikmati haji tanpa merasa terbebani,” katanya.
Dalam konteks ini, Kemenhaj juga berperan aktif dalam memberikan bimbingan teknis kepada KBIHU. Program tur keliling kota atau umrah berulang diperkenalkan dengan tujuan memperkaya pengalaman jamaah, tetapi perlu diawasi agar tidak mengganggu fokus pada tujuan utama ibadah haji. “Kami ingin KBIHU bisa menyesuaikan program mereka dengan kebutuhan jamaah,” ujarnya.
Menurut Dahnil, kelelahan berlebihan akibat kegiatan fisik yang tidak terkendali bisa mengurangi kualitas ibadah. Hal ini memicu kebutuhan untuk mengatur waktu dan energi jamaah lansia secara optimal. “Selama ini kita mengenalkan program yang lebih santai, agar jamaah bisa fokus pada kesetiaan mereka kepada Allah,” tambahnya.
Kebijakan Kemenhaj ini juga sejalan dengan prinsip pembangunan haji yang berkelanjutan. Dahnil menekankan bahwa selain menjaga kesehatan jamaah, hal ini juga bertujuan memperkuat kualitas pelayanan dan kepuasan secara keseluruhan. “Kami ingin haji tidak hanya menjadi kegiatan ritual, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual yang menyentuh,” katanya.
Pesannya kepada jamaah lansia cukup tegas. Ia mengingatkan bahwa mereka memiliki peran penting dalam menjaga semangat dan ketahanan ibadah haji. “Jamaah lansia adalah bagian dari haji yang harus dihormati, karena mereka telah mengorbankan waktu dan tenaga yang besar,” ujarnya.
Dahnil juga menyoroti pentingnya komunikasi yang baik antara KBIHU dan jamaah. Petugas haji perlu memahami bahwa jamaah lansia memerlukan pendampingan yang lebih intensif. “KBIHU harus bisa membaca kebutuhan jamaah, agar tidak hanya fokus pada kegiatan, tetapi juga pada kenyamanan mereka,” imbuhnya.
Dengan demikian, Wamenhaj meminta semua pihak untuk bersama-sama menjaga kualitas haji yang berbobot. Ia berharap para jamaah lansia bisa menjalani ibadah haji dengan penuh semangat, tetapi tidak kehilangan keseimbangan antara kegiatan dan istirahat. “Mari kita fokus pada inti haji, yaitu mendekatkan diri kepada Allah,” tutup Dahnil.