INTA Berhasil Kurangi Rugi Bersih ke Rp81,09 Miliar Tahun 2025
Meeting Results – Jakarta – Perusahaan yang bergerak di bidang alat berat, konstruksi, dan infrastruktur, PT Intraco Penta Tbk (INTA), mencatatkan penurunan rugi bersih pada tahun 2025 dibandingkan periode sebelumnya. Dalam laporan keuangan terbaru, perseroan mencatatkan kerugian sebesar Rp81,09 miliar, dibandingkan Rp117,84 miliar di tahun 2024. Direktur Utama INTA, Petrus Halim, mengatakan perusahaan terus menerapkan transformasi bisnis yang lebih efektif serta memperkuat manajemen risiko untuk menjaga stabilitas operasional. “Kami berkomitmen menjalankan strategi yang bijak, fleksibel, dan berfokus pada pertumbuhan jangka panjang,” jelas Petrus dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.
Kinerja INTA pada 2025 menunjukkan peningkatan signifikan. Pendapatan usaha konsolidasi perseroan mencapai Rp966,92 miliar, naik dari Rp954,68 miliar di tahun 2024. Petrus menuturkan perbaikan ini mencerminkan keberhasilan upaya transformasi yang dilakukan, seperti peningkatan efisiensi operasional, penguatan sistem pengelolaan, dan pengoptimalan portofolio usaha. “Tantangan ekonomi yang terjadi selama tahun ini membuat perseroan terus berinovasi untuk menghadirkan hasil yang lebih baik,” tambahnya.
Perseroan Tetap Fokus pada Strategi Jangka Panjang
Dalam menjalani tahun 2025, INTA menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan dinamika pasar. Petrus mengungkapkan bahwa keputusan untuk memperkuat tata kelola bisnis dan mengelola risiko secara disiplin menjadi kunci dalam mencapai kinerja yang sehat. “Kami percaya bahwa pendekatan pruden dan adaptif akan membantu menghadapi tantangan di sektor industri yang terus berkembang,” kata Petrus. Selain itu, perseroan juga fokus pada pengembangan segmen usaha yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, seperti bisnis rental alat berat yang dianggap sebagai pilar utama pendapatan stabilitas.
“Kami harap langkah-langkah yang sudah dipersiapkan tersebut dapat semakin memperkuat daya saing perseroan, meningkatkan profitabilitas, serta menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkesinambungan,” ujar Petrus.
Dalam perjalanan mencapai target tersebut, INTA juga menyoroti penyesuaian kebijakan belanja modal. Perusahaan berencana mengalokasikan dana investasi hanya untuk aset yang mendukung strategi inti serta memberikan nilai tambah optimal. “Kebijakan ini bertujuan mengurangi beban keuangan secara bertahap, sambil tetap memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” terang Petrus. Selain itu, perseroan sedang mengoptimalkan struktur permodalan dengan mempercepat pelunasan utang dan mengurangi risiko finansial.
Agenda RUPST Tahun Buku 2025 Diterima Pemegang Saham
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025, seluruh agenda yang diajukan INTA telah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham. Agenda tersebut mencakup pengesahan Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025, serta beberapa keputusan penting seperti penunjukan Akuntan Publik untuk tahun buku 2026. Pemegang saham juga menyetujui penetapan remunerasi Direksi dan Dewan Komisaris, serta perubahan Anggaran Dasar yang terkait dengan penyesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.
KBLI 2025 menjadi bahan pertimbangan utama dalam merevisi klasifikasi bisnis perseroan. Perubahan ini diharapkan memperjelas posisi INTA di pasar, sehingga memudahkan pengambilan keputusan strategis. Petrus menyatakan bahwa seluruh agenda tersebut dirancang untuk mendukung visi perusahaan dalam menciptakan kinerja yang lebih solid. “Dengan penyesuaian ini, kami ingin memperkuat fondasi bisnis dan menjaga komitmen terhadap transparansi,” jelasnya.
Tahun 2026: Pengembangan Fundamental Usaha dan Stabilitas Keuangan
Kebijakan yang dijalankan INTA pada tahun 2025 akan menjadi fondasi untuk pencapaian target di tahun 2026. Perseroan berencana fokus pada penguatan fondasi bisnis, termasuk menyeimbangkan struktur modal dan menurunkan tekanan beban keuangan. “Kami ingin menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas untuk menjamin kinerja jangka panjang,” tambah Petrus. Langkah ini diharapkan mengurangi risiko likuiditas serta meningkatkan daya tahan perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dalam menghadapi tahun 2026, INTA juga akan menerapkan pendekatan key account dan penjualan berbasis proyek untuk menarik kontribusi lebih besar dari pelanggan strategis. “Strategi ini bertujuan meningkatkan loyalitas klien dan memperkuat keberlanjutan pendapatan,” kata Petrus. Pada sektor rental, perseroan melanjutkan upaya meningkatkan pendapatan dari bisnis sewa alat berat, yang dianggap sebagai bagian penting dari model bisnis yang lebih seimbang.
Pertumbuhan INTA di tahun 2025 mencerminkan keseriusan dalam membangun fondasi bisnis yang lebih kuat. Dengan pendapatan yang naik dan rugi bersih berkurang, perusahaan menunjukkan kemajuan signifikan dalam menjalankan strategi transformasi. Petrus menegaskan bahwa langkah-langkah ini akan menjadi bahan dasar untuk menjaga kinerja yang stabil, sekaligus memperkuat posisi INTA di pasar kompetitif. “Kami yakin, dengan komitmen terhadap pengelolaan risiko dan peningkatan efisiensi, INTA akan terus berkembang dalam menghadapi tantangan yang muncul,” tuturnya.