Humaniora

Facing Challenges: KLH ungkap alasan kebakaran TPA Jatiwaringin sulit dikendalikan

KLH Ungkap Faktor Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dikendalikan

Facing Challenges – Kabupaten Tangerang menjadi sorotan setelah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, memerlukan upaya ekstra untuk dipadamkan. Kebakaran ini, yang menyebar di wilayah yang luas, menunjukkan tantangan unik dalam penanganan darurat lingkungan. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menjelaskan bahwa kondisi api tidak hanya terbatas pada permukaan, tetapi juga mampu merembet ke lapisan bawah tumpukan sampah. Hal ini memperumit proses pemadaman karena api bisa kembali membara setelah dianggap telah terkendali.

Karakteristik Api Mirip Kebakaran Gambut

Dalam wawancara di Tangerang, Sabtu, Diaz menjelaskan bahwa kebakaran di TPA memiliki kesamaan dengan kebakaran lahan gambut. “Ini cukup sulit dikendalikan karena api bisa menyala di bawah tumpukan sampah, meski permukaannya terlihat sudah padam,” ujarnya. Menurut dia, gas metana (CH4) yang terkandung dalam sampah juga berpotensi menyebabkan ledakan. “Dengan adanya CH4, muncul risiko api kembali menyala setiap saat, bahkan di bagian tersembunyi,” tambahnya.

“Karena mungkin di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat di bagian bawahnya ini masih ada apinya. Jadi kapan saja bisa terus terbakar, dan karena ada CH4, bisa ada potensi ledakan,” kata Diaz.

Upaya Pemadaman dengan Teknologi Khusus

Kebakaran yang melibatkan sampah berlapis tebal memerlukan teknik pemadaman yang berbeda dari kebakaran biasa. Dalam operasi, petugas gabungan menggunakan peralatan dan metode yang lebih canggih. Salah satu strategi yang diterapkan adalah penerapan drone termal, yang dilengkapi kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas. “Dengan drone ini, kami mampu memantau dan menganalisis titik api secara berkala,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa teknologi termal ini membantu mengidentifikasi sumber kebakaran yang tersembunyi, terutama di lapisan bawah tumpukan sampah. Namun, penggunaannya hanya bisa dilakukan secara periodik, sehingga perlu diimbangi dengan metode lain. “Kami memang belum bisa mengamati seluruh area secara real-time, tetapi drone menjadi alat yang efektif untuk mempercepat analisis,” lanjutnya.

Kondisi Udara dan Monitoring Kualitas

Menurut Diaz, kebakaran ini juga menyebabkan peningkatan kualitas udara yang berdampak signifikan. Dalam upaya mengurangi risiko polusi, pihaknya memerlukan dua sistem pemantauan udara mobile. “Sistem ini akan memantau emisi seperti SO2, NO2, dan partikulat PM 1.0 serta PM 2.5,” katanya. Ia menambahkan bahwa level emisi saat ini mencapai angka yang sangat tinggi, bahkan melebihi ambang batas yang aman. “Saat ini, tingkat polusi sudah mencapai 1.000, tetapi tadi malam saya lihat ada penurunan drastis,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa kualitas udara yang buruk dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan bahaya bagi masyarakat sekitar. “Dengan PM 1.0 dan PM 2.5 yang sangat tinggi, risiko terhadap paru-paru dan sistem pernapasan meningkat drastis,” tambahnya. Untuk memastikan pengendalian, tim akan terus memantau kondisi udara secara rutin dan menyesuaikan strategi pemadaman sesuai data yang diperoleh.

Tim Pemadam dari Wilayah Sulawesi dan Jabar

Kebakaran yang menggerogoti TPA Jatiwaringin juga menarik perhatian pemerintah. Melalui Kementerian Kehutanan, tim Manggala Agni yang terdiri dari 30 personel dari Sulawesi dan Jawa Barat telah diterjunkan. “Tim ini memiliki pengalaman dalam memadamkan api yang menyembur dari lapisan bawah tumpukan,” ujarnya. Menurut Diaz, teknik pemadaman langsung ke sumber api di bawah permukaan sampah adalah langkah kritis untuk memutus rantai api.

“Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” kata dia.

Dia menyebutkan bahwa selama ini, pendekatan pemadaman biasanya fokus pada permukaan, tetapi kebakaran di TPA membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. “Kami harus mencegah api menyebar ke lapisan bawah karena dampaknya bisa lebih luas,” jelasnya. Dengan bantuan teknologi dan tenaga ahli, harapan ada pada pemadaman yang lebih efektif dalam waktu dekat.

Modifikasi Cuaca sebagai Strategi Tambahan

Dalam rangka mempercepat penanganan, KLH bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempersiapkan skema operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Teknologi ini diharapkan dapat membantu mengurangi kecepatan penyebaran api dengan memanipulasi kondisi cuaca lokal. “BNPB dan BMKG akan mempercepat proses ini, mungkin besok kita bisa melakukan operasi TMC,” kata Diaz.

Menurut dia, TMC bisa menjadi solusi strategis untuk mengatasi kebakaran yang melibatkan sampah berlapis. “Karena kebakaran mencapai luas kurang lebih 15 hektare, perlu intervensi khusus agar situasi tidak memburuk,” ujarnya. Dengan kombinasi teknologi canggih dan langkah-langkah operasional, KLH optimis dapat mengendalikan kondisi darurat ini dalam waktu yang relatif singkat.

Kebakaran TPA Jatiwaringin tidak hanya menjadi tantangan bagi petugas pemadam, tetapi juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran di lingkungan kota bisa memerlukan penanganan yang sama seperti kebakaran alam di daerah pedesaan. “Kami berharap dengan penerapan teknologi dan kolaborasi antar instansi, TPA bisa menjadi contoh bagaimana lingkungan kota perlu diawasi lebih ketat,” pungkas Diaz.

Seiring dengan upaya pemadaman, KLH juga mengimbau masyarakat sekitar untuk tetap waspada dan mengikuti informasi terkini. “Selama kebakaran berlangsung, kita harus memastikan tidak ada masyarakat yang terkena dampak polusi udara,” tambahnya. Dengan dukungan teknologi dan tenaga ahli, kebakaran yang menggerogoti TPA Jatiwaringin diharapkan segera berakhir, mengurangi risiko kesehatan dan lingkungan yang lebih besar. Kebijakan ini menjadi langkah penting dalam memastikan lingkungan kota tetap terjaga dari ancaman kebakaran yang tak terduga.

Nadia Ramadhan

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.