Humaniora

Special Plan: Anak pekerja migran di Malaysia pimpin upacara Hardiknas di Jakarta

Anak Pekerja Migran di Malaysia Pimpin Upacara Hardiknas di Jakarta

Special Plan – Di Jakarta, sebuah upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini menarik perhatian karena diikuti oleh seorang siswa yang berasal dari keluarga pekerja migran. Alokh Abhimanyu, seorang remaja berusia 18 tahun, menjadi tokoh utama dalam acara tersebut, dengan peran sebagai pemimpin upacara di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senayan. Ini menjadi momen penting yang menggambarkan peran pendidikan dalam membawa perubahan bagi anak-anak dari keluarga yang bekerja di luar negeri.

Pelatihan dan Dedikasi dalam Pendidikan

Alokh, putra Mei Yarnie Sabhihoen, seorang pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai buruh di Malaysia, mengikuti jalur pendidikan yang berbeda dari kebanyakan temannya. Sebelumnya, ia menyelesaikan studi di SMP Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) sebelum meneruskan pendidikan ke SMKS Penerbangan AAG Adi Sucipto di Yogyakarta. Kesuksesannya dalam mengikuti Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) angkatan 2024 menunjukkan komitmen kuat terhadap proses belajar dan kemampuan adaptasi dalam lingkungan baru.

Dalam upacara yang berlangsung Sabtu, Alokh tampil sebagai pemimpin acara bersama tiga temannya dari Program ADEM wilayah Yogyakarta. Pemilihan mereka sebagai petugas upacara merupakan pengakuan atas prestasi akademik dan partisipasi aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Alokh, yang lahir pada 23 Februari 2008, dikenal sebagai siswa aktif di sekolahnya, dengan peran yang mencakup organisasi OSIS, Paskibra, dan berbagai kegiatan tambahan yang memperkaya pengalaman belajarnya.

Kisah Pemimpin Upacara dari Keluarga Migran

Menurut Koordinator ADEM Wilayah DIY, Ratna Siwi Widayanti, alokasi empat siswa dari program ADEM Repatriasi, ADEM Papua, dan ADEM 3T sebagai petugas upacara merupakan upaya Kemendikdasmen untuk memperkenalkan potensi generasi muda yang berasal dari berbagai latar belakang. “Kami memilih empat siswa dari wilayah Yogyakarta untuk memimpin upacara. Alokh menjadi pemimpin utama, sementara tiga siswa lainnya bertugas sebagai pengibar bendera,” jelas Ratna.

Alokh sendiri mengaku sangat senang dan bangga bisa tampil bersama teman-temannya dari Program ADEM seluruh Indonesia. “Saya berusaha tampil sebaik mungkin, karena saya sadar membawa nama baik SIKL, SMKS Penerbangan AAG Adi Sucipto, serta ADEM Repatriasi adalah tanggung jawab besar,” ujarnya.

Kehadiran Alokh di Jakarta sebagai pemimpin upacara bukan hanya kesuksesan pribadinya, tetapi juga bentuk dukungan yang diberikan oleh Mei Yarnie Sabhihoen, ibunya. Ibu yang bekerja keras di Malaysia ini mengakui kebanggaannya terhadap putranya. “Saya terharu melihat Alokh bisa sampai sejauh ini. Dia mampu tampil bersama siswa-siswa lainnya dalam momen yang kami tak pernah bayangkan sebelumnya,” kata Mei.

ADEM, atau Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah, dirancang untuk memberikan akses pendidikan kepada siswa yang kurang beruntung, termasuk anak-anak pekerja migran. Program ini menawarkan kesempatan belajar di Indonesia bagi para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan dasar di luar negeri. Alokh, sebagaimana peserta lainnya, berharap pengalaman ini tidak hanya meningkatkan kemampuannya, tetapi juga membuka jalan bagi adik-adiknya yang masih belajar di Malaysia.

Kemendikdasmen dan Tema Hardiknas

Kemendikdasmen memilih siswa penerima beasiswa ADEM sebagai petugas upacara sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi mereka. Upacara ini bertema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” yang menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam mendorong kualitas pendidikan nasional. Acara berlangsung lancar dan penuh makna, dengan partisipasi aktif dari para peserta beasiswa yang terpilih.

Bagi Alokh, momen ini menjadi bukti bahwa usaha dan dedikasinya terbayar. “Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari perayaan yang memperingati keberhasilan pendidikan di Indonesia. Ini juga menginspirasi saya untuk terus belajar dan berprestasi,” tuturnya. Dengan beasiswa ADEM, ia tidak hanya mampu menempuh pendidikan formal, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan leadership melalui berbagai kegiatan sekolah.

Sebagai seorang siswa dari keluarga migran, Alokh menggambarkan perjalanan yang tidak mudah. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sekaligus menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan teman-temannya yang lahir dan besar di Indonesia. Namun, semangatnya untuk mengejar pendidikan membuatnya mampu menembus batas-batas tersebut. “Saya selalu berusaha menjaga konsistensi, baik dalam belajar maupun dalam menjaga hubungan dengan orang tua,” katanya.

Harapan dan Pengaruh Masa Depan

ADEM, selain memberikan kesempatan pendidikan, juga menjadi jembatan antara keluarga migran dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Alokh dan teman-temannya diharapkan menjadi teladan bagi anak-anak lain yang ingin mengejar cita-cita melalui jalur yang sama. “Saya ingin menunjukkan bahwa walaupun berasal dari keluarga pekerja migran, saya mampu menempuh pendidikan tinggi di Indonesia,” tegas Alokh.

Mei Yarnie Sabhihoen, sebagai seorang ibu, berharap pengalaman ini bisa menjadi fondasi untuk masa depan Alokh. “Saya berharap putra saya bisa terus berkembang dan menjadi pribadi yang tangguh, dengan pendidikan sebagai sarana utama untuk meraih kesuksesan,” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana pendidikan menjadi alat untuk membangun harapan dan kemajuan bagi anak-anak yang terlahir di keluarga pekerja migran.

Dengan partisipasi Alokh dan rekan-rekannya, Hardiknas tahun ini tidak hanya menjadi perayaan pendidikan, tetapi juga menjadi momentum untuk menegaskan bahwa setiap individu, terlepas dari latar belakangnya, memiliki peluang untuk berkontribusi dan berprestasi. Kemendikdasmen, melalui program beasiswa ini, memperlihatkan komitmen untuk menciptakan kesetaraan pendidikan dan mengembangkan potensi anak-anak Indonesia di berbagai belahan dunia.

Alokh menilai bahwa upacara tersebut merupakan pengalaman tak terlupakan. “Ini adalah kesempatan bagus untuk menunjukkan bahwa kami, anak-anak pekerja migran, bisa menjadi bagian dari prestasi nasional,” katanya. Harapan ini sejalan dengan tujuan ADEM, yaitu memperkuat partisipasi sem

Indah Kurniawan

Indah Kurniawan berfokus pada penulisan konten edukatif tentang donasi online, filantropi, dan tren kebaikan digital. Di atapkitadonasi.com, Indah menyusun artikel berbasis riset ringan dan referensi tepercaya agar pembaca mendapatkan pemahaman yang utuh sebelum berdonasi. Ia percaya bahwa informasi yang benar dapat mencegah kesalahan dan meningkatkan dampak sosial.