Lintas Kota

Key Strategy: Pemkot Jakpus targetkan pengelolaan sampah berujung “zero waste”

Pemkot Jakpus Berkomitmen Mewujudkan “Zero Waste” Melalui Manajemen Sampah Terpadu

Key Strategy – DKI Jakarta – Kota Jakarta Pusat (Jakpus) telah menetapkan tujuan strategis untuk mencapai konsep “zero waste” dalam pengelolaan sampah, dengan fokus pada peningkatan pemilahan dan pengolahan dari sumber. Tujuan ini diungkapkan oleh Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, dalam wawancara terbaru di Jakarta, Senin. Menurut Arifin, keberhasilan program ini sangat penting karena kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sedang terbatas, sehingga pengurangan volume sampah yang dikirim ke lokasi tersebut menjadi prioritas utama.

Penguatan Pemilahan Sampah dari Sumber

Arifin menekankan bahwa warga harus aktif mengelola sampah di tingkat rumah tangga. “Kita tidak bisa berlama-lama, harus secepat mungkin memastikan bahwa pilah sampah itu betul-betul sudah bisa dilakukan di setiap rumah tangga,” ujar Arifin. Ia menjelaskan bahwa penguasaan pemilahan sampah akan membantu meminimalkan jumlah sampah yang dikeluarkan ke TPST Bantar Gebang, yang sekaligus menjadi bentuk keberlanjutan lingkungan. Langkah ini dilakukan untuk mencegah peningkatan volume sampah yang dapat mengganggu sistem pengolahan di kota.

“Sebagaimana yang sudah dikeluarkan oleh Pak Gubernur dalam bentuk Instruksi Nomor 5 Tahun 2026, kita semua sudah mengawali. Saya berharap Jakarta Pusat ini bisa zero waste, baik sampah organik maupun anorganik,” kata Arifin.

Sosialisasi ke Berbagai Sektor Masyarakat

Upaya Pemkot Jakpus tidak hanya terbatas pada rumah tangga. Arifin menyatakan bahwa sosialisasi telah diadakan secara menyeluruh, mencakup sektor-sektor vital seperti hotel, pusat perbelanjaan, pertokoan, perkantoran, serta lingkungan Kantor Wali Kota. “Kita ingin semua pihak terlibat, termasuk pengusaha dan institusi publik,” jelasnya. Melalui pemberdayaan masyarakat, Pemkot Jakpus berharap mampu menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya daur ulang dan pengelolaan sampah yang lebih baik.

Perbedaan Tingkat Pelaksanaan di Wilayah Kelurahan

Arifin mengakui bahwa keberhasilan pemilahan sampah masih bervariasi di tingkat kelurahan. Beberapa area telah mencapai angka sekitar 30 persen, sedangkan sebagian lainnya masih tercatat di rentang 11 hingga 20 persen. Meski demikian, ia yakin dengan penguatan kebijakan dan dukungan lebih besar, target pengurangan sampah akan tercapai dalam waktu dekat. “Kita berharap di Agustus sudah 50 persen, minimal separuhnya harus bisa ditangani,” tambah Arifin.

Peran Stiker sebagai Alat Pemantauan

Untuk memudahkan evaluasi, Pemkot Jakpus telah memasang stiker di rumah warga yang telah menerapkan sistem pemilahan sampah. Stiker ini berfungsi sebagai indikator visual, membedakan antara rumah yang aktif memilah sampah dan yang belum. Arifin menuturkan bahwa langkah ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada warga yang belum terlibat, sekaligus mendorong kompetisi di antara warga dalam mengurangi sampah. “Stiker ini juga menjadi bentuk pengakuan bagi kelurahan yang sudah berupaya meningkatkan kebiasaan pilah sampah,” imbuhnya.

Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik

Di samping pemilahan sampah, Pemkot Jakpus juga sedang mengembangkan metode pengolahan sampah organik dan anorganik secara terpisah. Arifin menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada TPST Bantar Gebang. “Sampah tidak seluruhnya harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir, tetapi bisa diolah menjadi sumber daya yang berguna,” kata dia. Contohnya, sampah organik dapat diubah menjadi kompos atau bahan bakar biomassa, sementara sampah anorganik seperti plastik dan kertas bisa didaur ulang menjadi produk baru.

Tantangan dan Strategi Pemkot Jakpus

Arifin mengakui bahwa implementasi program ini masih menghadapi tantangan, terutama dalam kesadaran masyarakat. Meski demikian, ia yakin bahwa dengan pendekatan holistik, seperti edukasi, insentif, dan penguatan infrastruktur, Jakarta Pusat bisa menjadi contoh keberhasilan daur ulang. “Kita harus membangun kerja sama yang baik antara pemerintah, warga, dan pelaku usaha,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan dinas terkait dan masyarakat sipil dalam memastikan keberlanjutan program ini.

Program “zero waste” di Jakpus juga diharapkan mampu menginspirasi kota-kota lain di Indonesia. Arifin menyatakan bahwa warga Jakarta Pusat telah menunjukkan kemauan besar untuk berubah, meski ada perbedaan tingkat partisipasi. “Kita perlu mempercepat proses ini, agar dalam beberapa bulan ke depan, peningkatan pengelolaan sampah bisa terlihat secara nyata,” jelasnya. Dengan demikian, Pemkot Jakpus tidak hanya berfokus pada penurunan volume sampah, tetapi juga pada peningkatan kualitas lingkungan hidup sehari-hari.

Sebagai bagian dari strategi, Pemkot Jakpus juga mendorong penggunaan teknologi pengolahan sampah yang lebih canggih. Beberapa pusat pengolahan baru sedang dikembangkan, dengan harapan mampu mengatasi masalah pengolahan sampah secara lebih efisien. “Teknologi ini bisa menjadi solusi jangka panjang, selain meningkatkan kesadaran warga,” ujar Arifin. Ia menambahkan bahwa pengolahan sampah yang terpadu akan mengurangi risiko penumpukan sampah dan meningkatkan nilai ekonomi dari limbah yang dihasilkan.

Dalam konteks keberlanjutan, Arifin menekankan bahwa keberhasilan “zero waste” tidak hanya tergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif warga. “Kita perlu membangun budaya pilah sampah, tidak hanya di rumah, tetapi juga di tempat kerja, sekolah, dan lingkungan sekitar,” katanya. Ia juga berharap adanya perubahan perilaku dalam memilah sampah bisa terwujud melalui keterlibatan lebih banyak pihak, termasuk media massa dan organisasi masyarakat.

Dengan visi ini, Pemkot Jakpus berupaya mengurangi dampak lingkungan dari sampah, sekaligus meminimalkan biaya pengolahan. “Kita ingin sampah tidak hanya menjadi masalah, tetapi juga menjadi peluang bagi ekonomi sirkular,” kata Arifin. Ia menyatakan bahwa peningkatan pemilahan sampah dari sumber akan menghasilkan pengurangan volume yang signifikan, sehingga TPST Bantar Gebang dapat beroperasi lebih optimal dalam menangani sampah kota.

Arifin juga menyebutkan bahwa keberhasilan program ini tergantung pada komitmen seluruh elemen masyarakat. “Pemilahan sampah harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tugas pemerintah,” katanya. Ia menegaskan bahwa setiap warga memiliki peran penting dalam mencapai tujuan ini. Dengan cara ini, Jakarta Pusat diharapkan mampu menjadi contoh paling baik dalam mengelola sampah secara berkelanjutan, sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah lain di Indonesia.

Dalam jangka pendek, Pemkot Jakpus akan terus melakukan sosialisasi dan penguatan sistem pengelolaan sampah. “Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendukung

Nadia Ramadhan

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.