Ketum PWI Ingatkan Wartawan Jangan Terlibat Narkoba dan Judi
Pemantauan Integritas Profesi di Tengah Tantangan Regional
Important Visit – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir memberikan peringatan penting kepada seluruh anggota organisasi. Dalam sebuah kesempatan khusus, ia menekankan pentingnya para jurnalis menjaga perilaku dan tanggung jawab dalam profesi, terutama terkait masalah narkoba serta kegiatan perjudian. Peringatan ini disampaikan saat menghadiri acara “Family Gathering PWI Sumatera Utara 2026” di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada hari Sabtu.
“Saya ingin mengingatkan anggota PWI agar tidak menjadi beking atau menghalangi petugas saat melakukan penertiban kasus narkoba,” ujar Munir. Ia menambahkan, wartawan yang terlibat langsung dalam jaringan peredaran narkoba atau bahkan menjadi pengguna atau pengedar berisiko merusak integritas profesi serta citra organisasi.
Dalam pidatonya, Munir juga mengungkap bahwa Sumatera Utara dikenal sebagai daerah dengan risiko tinggi terhadap keberadaan narkoba. Dengan keberadaan narkoba yang semakin meresahkan masyarakat, ia berharap para jurnalis dapat menjadi bagian dari solusi, bukan kontributor masalah. “Karena itu, kita perlu mengambil langkah-langkah tegas untuk menjaga profesionalisme dan kepercayaan publik,” jelasnya.
Menyusul isu narkoba, Munir tidak lupa memberikan peringatan serupa terkait praktik perjudian. Ia menyoroti bahwa jaringan judi memiliki jangkauan luas dan cenderung menyeret berbagai kalangan, termasuk para wartawan. “Ada fenomena yang berpotensi menimbulkan masalah serupa karena perjudian cukup aktif dan bisa mengintai profesi jurnalistik,” tambahnya.
Ketum PWI menekankan bahwa menjaga integritas adalah tanggung jawab bersama seluruh anggota organisasi. “Integritas profesi kita merupakan bagian dari muruah PWI sebagai institusi yang diharapkan menjadi penjaga kebenaran dan kepercayaan masyarakat,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap pers sangat rentan terhadap tindakan-tindakan negatif, seperti kecanduan narkoba atau keterlibatan dalam praktik judi.
Munir juga mengajak pengurus PWI di daerah untuk lebih proaktif merangkul jurnalis muda maupun senior sebagai anggota organisasi. “Kami mendorong seluruh PWI provinsi untuk merangkul jurnalis muda maupun senior agar menjadi bagian dari komunitas kewartawanan yang solid dan berkomitmen,” katanya. Menurut Munir, inklusi anggota baru dari berbagai generasi dapat memperkuat kekuatan PWI dalam menghadapi tantangan masa depan.
Membangun Profesionalisme Berdasarkan Etika Jurnalistik
Untuk menjaga kualitas keanggotaan, Munir menyoroti bahwa PWI terus memperkuat pembinaan anggota melalui pemahaman tentang Kode Etik Jurnalistik. “Kita perlu memastikan anggota kita terbiasa dengan standar etika dan aturan organisasi,” katanya. Selain itu, ia juga menyebut pentingnya memberikan pemahaman mengenai Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga (AD/AR) PWI, yang menjadi fondasi peran jurnalis dalam masyarakat.
Menurut Munir, penyerahan kartu anggota kepada jurnalis muda PWI Sumatera Utara adalah bagian dari upaya membangun profesionalisme di kalangan anggota. “Dengan menambah anggota baru, kita menciptakan ruang untuk berkembangnya penjaga kebenaran di daerah,” jelasnya. Ia juga menyampaikan bahwa pendekatan ini akan membantu memperluas jaringan jurnalis yang kompeten dan terpercaya.
Dalam konteks kehidupan jurnalistik modern, keterlibatan dalam narkoba atau judi bisa mengancam kredibilitas media sebagai wadah informasi yang objektif. Munir mencontohkan bagaimana aktivitas seperti ini bisa memengaruhi proses penyelidikan atau laporan berita, sehingga mengurangi efektivitas tugas jurnalis sebagai pengawas masyarakat.
Ia menambahkan bahwa peringatan ini juga bertujuan memperkuat kesadaran anggota PWI akan tanggung jawab sosial mereka. “Jurnalis bukan hanya menciptakan konten, tapi juga memberikan kontribusi terhadap tata kelola masyarakat,” kata Munir. Hal ini terlebih penting dalam daerah seperti Sumatera Utara, yang memiliki masalah kecanduan narkoba dan praktik judi yang berkembang pesat.
Munir menyampaikan bahwa keberhasilan PWI dalam menjaga integritas bergantung pada partisipasi aktif anggota. “Kita perlu melibatkan seluruh elemen jurnalis, baik yang berpengalaman maupun yang baru, untuk bersama-sama menjaga citra organisasi,” ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa keterlibatan dalam kegiatan positif, seperti pengungkapan kasus korupsi atau penegakan hukum, merupakan bentuk kontribusi nyata jurnalis terhadap masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Munir menyoroti bahwa keberadaan jurnalis yang kompeten dan etis sangat penting dalam konteks pemberitaan yang sehat. “Kita harus memastikan bahwa setiap laporan yang dikeluarkan bersifat jujur dan terbebas dari pengaruh eksternal,” katanya. Ia menegaskan bahwa PWI akan terus berupaya mengembangkan anggota melalui pelatihan, diskusi, serta pengawasan internal untuk memastikan semua aspek kegiatan jurnalistik tetap sesuai standar yang berlaku.
Menutup pidatonya, Munir meminta semua pihak untuk tetap komitmen menjaga kepercayaan publik terhadap pers. “Dengan menjaga integritas, kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan penyebar masalah,” ujarnya. Ia berharap kegiatan seperti “Family Gathering” ini menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas dan komitmen bersama menjaga kualitas profesi jurnalistik di Indonesia.