Menanam hijau, memanen laut
Menanam hijau – Kota pesisir Surabaya, Jawa Timur, kini menghadapi tantangan baru dalam menghadapi perubahan iklim. Angin laut yang sebelumnya hanya membawa aroma garam dan lumpur tambak kini juga menjadi pembawa harapan bagi warga pesisir. Di wilayah Wonorejo hingga Gunung Anyar, upaya menanam mangrove di lahan budidaya perikanan semakin mendapat perhatian serius. Metode ini, dikenal sebagai silvofishery atau wanamina, menggabungkan ekosistem hutan mangrove dengan usaha pertanian dan perikanan, sehingga membentuk sistem yang lebih berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya berupaya mengatasi masalah erosi garis pantai, degradasi lingkungan, dan penyusutan ruang hidup nelayan. Kualitas air yang semakin buruk, peningkatan suhu kota, serta hilangnya fungsi ekosistem alami menjadi ancaman serius bagi ketahanan pesisir. Namun, dengan adanya pendekatan baru ini, kota yang terkenal dengan pelabuhan dan industri perikanan kini mengambil langkah untuk mengintegrasikan kehidupan manusia dengan alam.
Pendekatan silvofishery memperlihatkan bahwa penanaman mangrove tidak lagi dianggap sebagai penghalang, tetapi sebagai bagian integral dari usaha ekonomi lokal. Melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, pemerintah setempat mulai menerapkan konsep ini secara lebih intens. Fungsi utama mangrove dalam menjaga lingkungan, seperti menyerap karbon, menahan sedimen, dan menjadi tempat pemijahan ikan, kini diintegrasikan dengan aktivitas budidaya untuk meningkatkan hasil tanpa merusak ekosistem.
Dalam keadaan tekanan pembangunan perkotaan, pengelolaan pesisir Surabaya menunjukkan perubahan yang signifikan. Tradisi menebang mangrove demi memperluas area tambak konvensional telah bergeser. Sekarang, hutan mangrove tidak hanya menjadi pelindung alami, tetapi juga meningkatkan produktivitas. Budidaya perikanan yang dilakukan di lahan yang juga ditanami pohon hijau ini menunjukkan keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan. Sebuah penelitian terbaru menegaskan bahwa integrasi ini mampu menaikkan hasil tanpa mengurangi luas area budidaya.
Transformasi Budidaya Perikanan
Melalui proyek wanamina, Surabaya mencoba mengubah cara mengelola lahan pesisir. Jika dulu mangrove dianggap sebagai hambatan, kini pohon-pohon itu menjadi elemen kunci. Proses penanaman dimulai dengan menentukan area yang tepat, lalu mengatur kepadatan pohon agar tidak mengganggu pertumbuhan ikan atau udang. Teknik ini membutuhkan keterlibatan masyarakat tambak secara aktif, karena mereka menjadi pelaku utama dalam memelihara ekosistem.
Contoh nyata dari pendekatan ini terjadi di kawasan Wonorejo pada tahun 2021. Dalam area tambak seluas satu hektare, warga berhasil memanen bandeng dan udang vaname sebanyak 1,25 ton. Angka ini menunjukkan bahwa pohon mangrove tidak mengurangi hasil produksi, melainkan justru memperkuatnya. Proses ini juga mengurangi risiko abrasi, karena akar mangrove mampu menahan gelombang dan mengikat tanah. Kualitas air di lahan tersebut pun meningkat, karena keberadaan pohon membantu menyaring polutan.
Banyak kota pesisir di Indonesia pernah mengalami situasi serupa. Di satu sisi, pembangunan melibatkan peningkatan produksi perikanan, di sisi lain, hilangnya mangrove menyebabkan ekosistem pesisir kehilangan daya dukung. Surabaya berusaha mengatasi ini dengan memperkenalkan model yang lebih inklusif. Pemangkasan lahan tambak dan penanaman mangrove dilakukan secara bertahap, dengan tujuan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif.
Pendekatan ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tambak. Dengan menggabungkan usaha pertanian dan perikanan, mereka memiliki akses ke sumber daya alami yang lebih berkelanjutan. Membudidayakan ikan dalam lingkungan mangrove menciptakan ekosistem yang lebih stabil, sehingga hasil panen tetap terjaga meski kondisi lingkungan berubah. Teknologi yang digunakan dalam silvofishery mencakup pemantauan lingkungan, pengaturan kualitas air, dan penanaman pohon secara terencana.
Keseimbangan Lingkungan dan Ekonomi
Dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya semakin sadar bahwa menjaga lingkungan tidak bertentangan dengan kebutuhan ekonomi. Menebang mangrove untuk tambak konvensional memang memberikan hasil jangka pendek, tetapi menyebabkan kerusakan jangka panjang. Dengan silvofishery, pembangunan kota bisa tetap berjalan, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem. Kehadiran pohon-pohon di lahan budidaya menunjukkan bahwa masyarakat pesisir bisa tetap produktif tanpa mengorbankan alam.
Proyek ini juga menginspirasi masyarakat lainnya. Tidak hanya di Surabaya, kota-kota pesisir di Jawa dan Bali mulai menerapkan metode serupa. Pendekatan ini menggabungkan penanaman pohon dengan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Jika dulu mangrove dikhawatirkan mengurangi ruang produksi, kini mereka dianggap sebagai aset yang berharga. Penelitian terbaru menegaskan bahwa ekosistem ini justru meningkatkan hasil perikanan, karena menawarkan habitat yang lebih baik untuk berbagai spesies.
Kota Surabaya berharap bahwa langkah ini bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa. Dengan integrasi mangrove, pesisir tidak hanya bertahan dari erosi, tetapi juga meningkatkan produksi. Kualitas hidup warga tambak pun berubah, karena mereka bisa mendapatkan hasil panen yang lebih stabil. Selain itu, kota tersebut juga menurunkan risiko bencana alam, karena ekosistem yang lebih baik mengurangi dampak abrasi dan intrusi air laut.
Silvofishery bukan hanya solusi lokal, tetapi juga berdampak pada tingkat nasional. Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih bijak dalam mengelola lahan pesisir. Dengan menerapkan metode ini, kota-kota pesisir bisa tetap berkembang, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Masa depan perikanan dan pertanian tidak lagi dipisahkan dari alam, melainkan menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang. Ini adalah langkah awal menuju ekonomi hijau yang berbasis ekosistem alami.
Dari tambak berbasis silvofishery seluas sekitar satu hektare, kawasan Wonorejo mampu menghasilkan sekitar 1,25 ton bandeng dan udang vaname. Angka ini menunjukkan bahwa integrasi mangrove tidak otomatis menurunkan hasil budidaya.
Kehadiran silvofishery di Surabaya memberikan gambaran bahwa kota pesisir bisa memperbaiki kondisi lingkungan sambil mempertahankan kegiatan ekonomi. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bisa menjadi peluang bagi warga pesisir. Dengan menanam hijau, mereka memanen laut, dan memastikan ekosistem tetap berfungsi optimal untuk kehidupan berkelanjutan.