KEK Kura-Kura Bali Ajak Generasi Muda Desa Serangan Hadirkan Festival Penjor
KEK Kura Kura Bali ajak muda – Kota Denpasar, Kamis (25/6) – Sebagai upaya memperkuat kearifan lokal dan menghidupkan tradisi budaya, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali bekerja sama dengan Desa Adat Serangan mengadakan Festival Penjor pada 25 Juni 2024. Acara yang digelar di kawasan Pura Sakenan ini menarik perhatian muda-mudi dari enam Banjar yang ada di desa tersebut. Festival ini tidak hanya menjadi ajang ekspresi kreativitas, tetapi juga semangat untuk melestarikan warisan leluhur yang kini semakin langka di era modern.
Festival Penjor, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan budaya KEK Kura-Kura Bali, dirancang untuk menunjukkan bagaimana generasi muda bisa terlibat langsung dalam mempertahankan nilai-nilai tradisional. Pura Sakenan, sebagai pusat ritual dan kebudayaan Desa Serangan, menjadi tempat yang ideal untuk menyajikan kegiatan ini. Selain itu, acara ini juga berharap mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya.
Kreativitas Generasi Muda sebagai Pendorong Budaya Leluhur
Peserta Festival Penjor terdiri dari remaja dan pemuda dari enam Banjar di Desa Serangan, yang masing-masing memiliki ciri khas unik dalam seni dan tradisi. Mereka diwajibkan untuk menghadirkan karya-karya yang mencerminkan inovasi dan kesadaran akan nilai-nilai kebudayaan. Sebagai contoh, sejumlah peserta menampilkan penjor yang terbuat dari bahan daur ulang, sementara yang lain menambahkan elemen seni modern pada desain tradisional.
Kepala Desa Adat Serangan, I Wayan Suardana, mengungkapkan bahwa festival ini berupaya membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya mempertahankan adat istiadat. “Dengan menglibatkan pemuda, kami berharap mereka bisa menjadi penggerak utama dalam menghidupkan budaya leluhur,” katanya dalam wawancara terpisah. Menurut Suardana, acara ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan Desa Serangan kepada wisatawan, sehingga memperkuat identitas lokal dan daya tarik wisata budaya.
“Festival Penjor ini bukan sekadar perayaan, tapi cara untuk mengajarkan anak muda mengenai makna dan nilai kehidupan yang diwariskan oleh leluhur,” tambah Rita Laura, salah satu reporter dari Antaranews yang menuturkan latar belakang acara tersebut.
Dalam sejumlah sesi, peserta menampilkan berbagai seni dan pertunjukan yang menggabungkan tradisi dan inovasi. Misalnya, ada pertunjukan tari kecak yang diiringi oleh alat musik tradisional, serta pameran kerajinan tangan dari bahan alam seperti bambu dan daun kelapa. Keberagaman karya ini menunjukkan bagaimana tradisi bisa berkembang tanpa kehilangan esensinya. Selain itu, festival ini juga mencakup workshop tentang cara membuat penjor, yang dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai usia.
Pura Sakenan, lokasi utama acara, memiliki sejarah yang kaya. Pura ini didirikan pada abad ke-17 dan sering dijadikan tempat penyelenggaraan upacara adat. Dengan mengadakan Festival Penjor di sini, KEK Kura-Kura Bali ingin menegaskan bahwa kearifan lokal tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga dengan inisiatif masyarakat untuk mengembangkannya. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan serupa telah menjadi bagian penting dari upaya mempromosikan Desa Serangan sebagai destinasi wisata budaya yang unik.
Kolaborasi untuk Melestarikan Budaya Leluhur
KEK Kura-Kura Bali, yang merupakan kawasan ekonomi berbasis wisata, telah bekerja sama dengan Desa Adat Serangan selama beberapa bulan untuk menyusun acara ini. Kemitraan antara pihak pemerintah dan komunitas adat diharapkan bisa menciptakan model yang bisa diadopsi di daerah lain. “Kami ingin menunjukkan bahwa pariwisata dan budaya bisa saling mendukung, bukan saling bersaing,” jelas Sandy Arizona, salah satu peliput Antaranews.
Dalam beberapa tahun terakhir, Desa Serangan terus berupaya membangun kembali kegiatan adat yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Festival Penjor menjadi salah satu langkah penting dalam mengembangkan keragaman kegiatan yang bisa menarik minat generasi muda. Rijalul Vikry, fotografer Antaranews, mengatakan bahwa acara ini mencerminkan semangat kolaborasi yang kuat antara pihak pemerintah dan masyarakat.
Acara ini juga dihadiri oleh para pemangku kebijakan dan tokoh adat dari berbagai daerah. Mereka menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan oleh KEK Kura-Kura Bali dan Desa Adat Serangan. “Ini adalah contoh bagus bagaimana budaya bisa dihidupkan kembali melalui keterlibatan aktif masyarakat,” kata salah satu narasumber dalam acara tersebut.
Adapun kegiatan festival ini diharapkan bisa menjadi ajang pembelajaran dan perekatan ikatan antar generasi. Dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, para peserta tidak hanya menikmati kegiatan budaya, tetapi juga belajar bagaimana mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada sejak dahulu kala. KEK Kura-Kura Bali menargetkan bahwa festival ini bisa menjadi model untuk menghadirkan budaya leluhur ke tengah masyarakat, terutama generasi muda yang sekarang lebih terbiasa dengan kehidupan modern.
Keberhasilan Festival Penjor Desa Serangan juga tergantung pada dukungan dari berbagai pihak. Beberapa organisasi lokal dan komunitas seni turut berpartisipasi dalam menyajikan acara ini. Pihak KEK Kura-Kura Bali menekankan bahwa kegiatan seperti ini bisa menjadi penggerak utama dalam menghadirkan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. “Festival Penjor adalah bentuk perekonomian yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga memperkaya budaya,” kata salah satu anggota tim KEK.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dengan berbagai sesi yang menggabungkan pendidikan dan hiburan. Para peserta juga diberi kesempatan untuk berdiskusi tentang pentingnya melestarikan budaya dan bagaimana mereka bisa terlibat dalam proses tersebut. Dengan adanya festival ini, diharapkan bahwa Desa Serangan bisa menjadi contoh dalam pengembangan pariwisata budaya yang berbasis masyarakat dan berkelanjutan.