Kemenko PMK: Gelar akademik tidak cukup bermakna tanpa dukungan karya nyata
Latest Program – Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memberikan peringatan kepada generasi muda yang baru memasuki dunia kerja, khususnya lulusan universitas. Menurut Ojat Darojat, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan di Kemenko PMK, gelar dan kecerdasan intelektual tidak akan memenuhi tujuan jika tidak diimbangi dengan kesehatan fisik, mental, serta komitmen untuk berkontribusi secara nyata dalam masyarakat. Pernyataan ini disampaikan saat Ojat memberikan materi dalam seminar wisuda Universitas Terbuka (UT) di Tangerang Selatan, Senin lalu.
Menurut Ojat, keberhasilan seorang profesional tidak hanya bergantung pada keahlian teknisnya, tetapi juga pada kemampuan menghadapi tantangan yang muncul di luar bidang utama. Ia menekankan bahwa lulusan harus memahami konsep “kelengkapan kompetensi” sebagai bekal untuk beradaptasi dalam dunia kerja yang dinamis. Kunci utama, menurutnya, adalah menggabungkan dua aspek penting: deep expertise (keahlian mendalam) dan wide knowledge (pengetahuan luas). Dengan demikian, seseorang tidak hanya fokus pada spesialisasi, tetapi juga perlu memperluas wawasan ke bidang-bidang lain.
“Jangan sampai para guru yang profesional hanya menguasai materi pelajaran, tetapi tidak paham tentang manajemen, strategi komunikasi, atau dasar hukum. Jika tidak, mereka bisa saja terjebak dalam kasus hukum atau kesulitan mengelola kelas secara efektif,” kata Ojat.
Contoh yang ia berikan adalah lulusan yang akan menjadi pendidik. Di samping menguasai bidang studi utamanya, para guru juga perlu memahami disiplin ilmu seperti manajemen pendidikan, teknik komunikasi, dan regulasi pemerintahan. Ojat menegaskan bahwa ijazah tidak lebih dari pengakuan formal yang diberikan oleh institusi. Kebenaran kesuksesan justru terletak pada cara kompetensi tersebut diterapkan dalam menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Ojat Darojat juga memperhatikan pentingnya kesehatan fisik dan mental. Ia mengingatkan bahwa banyak lulusan muda terjebak dalam rutinitas kerja yang intensif, sehingga mengabaikan aspek kesehatan. “Pintar saja tidak cukup, cerdas juga tidak cukup. Jika seseorang cerdas dan pintar, tetapi tidak sehat, maka kontribusinya bisa berkurang drastis,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kesehatan adalah aset terbesar yang sering kali dianggap remeh oleh pekerja keras di awal karier.
Di samping itu, Ojat memberikan saran untuk menjaga keseimbangan hidup. Menurutnya, lulusan perlu mengatur waktu antara bekerja, merawat keluarga, belajar, sosialisasi, dan olahraga secara teratur. “Kegagalan adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. Jika seseorang tidak bisa menerima kegagalan, maka mereka akan sulit berkembang menjadi profesional yang tangguh,” tambahnya. Ia merujuk pada kisah tokoh-tokoh besar yang sukses melalui proses jatuh bangun.
Ojat Darojat juga menyampaikan pesan penting tentang disiplin dan integritas. Dalam era digital, ia menekankan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran dan disiplin harus diwujudkan dalam perilaku menggunakan teknologi. Terutama dalam dunia kerja, seorang profesional perlu memahami bagaimana mengelola kecerdasan buatan (artificial intelligence) secara bijak, agar tidak melanggar etika atau merugikan masyarakat.
Peran kesehatan mental dalam kariernya
Sebagai mantan rektor UT, Ojat mengingatkan bahwa kesehatan mental memiliki peran kritis dalam keberlanjutan kariernya. Ia mengatakan bahwa banyak lulusan terlalu fokus pada pencapaian karier, sehingga mengabaikan kesadaran diri tentang kebutuhan emosional dan psikologis. “Jika seseorang tidak memiliki mental yang kuat, mereka bisa mudah kalah dalam persaingan atau terjebak dalam kelelahan kronis,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana seorang pekerja dalam bidang teknologi bisa terjebak dalam tekanan tinggi, tetapi tanpa kesehatan mental yang baik, mereka akan sulit menghadapi perubahan atau kesalahan yang muncul. Kesehatan mental, menurut Ojat, juga melibatkan kemampuan untuk mengelola stres, mengambil keputusan bijak, dan membangun hubungan kerja yang harmonis. “Jika tidak, maka kecerdasan intelektual yang dimiliki tidak akan berkontribusi maksimal,” katanya.
Peluang dan tantangan dalam dunia kerja
Menurut Ojat, dunia kerja saat ini semakin mengutamakan keahlian teknis dan adaptabilitas. Namun, ia juga menyoroti bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah hal yang harus diperhatikan. “Lulusan tidak boleh hanya fokus pada tugas-tugas di tempat kerja, tetapi juga perlu merawat diri sendiri agar tetap produktif dan kreatif,” ujarnya.
Ojat menambahkan bahwa berkontribusi dalam masyarakat bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang semangat untuk terus belajar dan inovasi. Ia menyoroti bahwa keberhasilan sebuah proyek atau program kerja sering kali bergantung pada kolaborasi lintas bidang. “Dengan pengetahuan yang luas, seorang profesional bisa memikirkan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Di akhir sesi, Ojat meminta para lulusan untuk tidak hanya menjadi ahli di bidangnya, tetapi juga memupuk sikap tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa gelar akademik adalah awal dari perjalanan, bukan akhir. “Kita harus siap menjadi bagian dari perubahan, baik melalui inisiatif individual maupun kerja sama dengan masyarakat luas,” kata Ojat. Ia menambahkan bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, nilai integritas dan disiplin digital adalah fondasi penting untuk membangun karier yang bermakna.
Dalam kesimpulannya, Ojat Darojat menyampaikan bahwa gelar yang diperoleh di bangku kuliah hanya menjadi bukti bahwa seseorang telah menguasai kompetensi tertentu. Namun, keberhasilan nyata tergantung pada bagaimana kompetensi tersebut diaplikasikan dan berkontribusi pada kehidupan sosial. “Jika kita hanya mengumpulkan gelar tanpa memberikan kontribusi, maka itu tidak lebih dari pengakuan formal yang tidak berdampak nyata,” pungkasnya.
Sebagai seorang profesional yang berkompeten, Ojat menekankan bahwa lulusan harus terus belajar, memperluas wawasan, dan menjaga kesehatan secara keseluruhan. Dengan demikian, mereka tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan, tetapi juga bisa menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan positif di masyarakat.